
Celia yang melihat kedekatan semua orang, dia jadi teringat dengan masa lalunya dulu yang hampir selalu sendirian dan berkutat pada kemalangan.
Sekarang dia bisa memiliki banyak saudara tapi dulu dia hanya menganggap kalau kejadian yang sekarang hanyalah mimpi.
Celia waktu masih hidup di jalanan.
" Hei cepat ! Kamu niat kerja gak sih !" seorang mandor menegur Celia yang terlihat sudah sangat kelelahan mengangkat bahan material bangunan.
" Iya tuan sebentar " jawab Celia sambil mengangkut dua ember pasir adukan dengan tergopoh-gopoh.
Celia memang sering kerja serabutan untuk menambal kebutuhan Hidupnya, dia rela bekerja apapun demi sesuap nasi.
Sore hari pun berlalu, Celia dan yang lainnya berbaris untuk menerima upah harian mereka.
" Selanjutnya !" Seru mandor yang sedang membagikan upah harian.
Celia maju kedepan " saya tuan !"
" Ini upahmu !" ucapnya ketus sambil memberikan uang 5 dolar pada Celia.
" Tuan kok cuma segini ?" protes Celia karena bayaran separuh dari bayaran yang lain.
" Kamu saja kerja tidak becus ! Masih untung aku kasih segitu !" jawabnya ketus.
" Tapi tuan..." Celia belum selesai bicara sudah di usir dari sana.
" Sudah pergi dari sini ! Selanjutnya !" mandor tanpa rasa bersalah mengusir Celia.
Celia hanya bisa pasrah saja, karena di sadar tidak memiliki kemampuan untuk melawannya, jadi dia dengan enggan menerima bayaran segitu.
Celia melangkah pulang dengan seribu perasaan yang campur aduk, uang lima dolar paling cuma bisa beli roti dan air mineral botolan saja, dia tidak tahu harus bagaimana lagi besok.
Dia kembali ke kolong jembatan tempat dia melepas penat dan lelah.
Tapi saat dia masuk gubuk deritanya, Celia di kejutkan dengan adanya dua orang pria yang sudah ada di dalam gubuknya.
" Si..siapa kalian !" bentak Julian ketakutan.
__ADS_1
" Klap
Tangan Celia langsung di pegang oleh pria tersebut, Celia berteriak dia mencoba berontak, tapi wanita tetaplah wanita, sekuat apapun dia akan kalah dengan dua orang pria yang langsung membantingnya ke tanah.
Air mata Celia bercucuran " Pergi ! Tolong jangan begini "
Celia menangis tersedu-sedu, dia tidak tahu harus minta tolong sama siapa.
Baju Celia di robek, dia di paksa untuk melayani kebejatan mereka berdua.
" Hentikan ! Tolong hentikan " Celia yang sudah tidak mengenakan apapun di tubuhnya menutupi bagian sensitifnya dengan tangan.
Tapi dengan kasar pria tersebut menarik Celia hingga telentang " Ayo nikmati saja manis "
" Tolong jangan " Tapi rengekan Celia tidak di gubris.
Batang pria tersebut masuk ke dalam Goa Celia, mata Celia mendelik, dia berteriak Histeris saat kesuciannya di renggut oleh pria tersebut.
" Gila ! prawan bro ! " pria tersebut semakin semangat memompa Celia.
Goanya juga terasa sangat ngilu, hingga akhirnya entah setelah yang ke berapa kali dia di garap kedua pria tersebut Celia pun pingsan.
Ke esokan harinya ketika Celia terbangun, dia sudah berada di rumah sakit, Celia masih merasakan ngilu di goanya, saat membuka mata sepenuhnya terlihat pria tua yang sedang duduk menemaninya.
Tentu saja Celia terkejut dengan menahan rasa sakit dia bertanya " a..nda siapa ?"
Pria tersebut tersenyum " Sebastian, salam kenal Celia Moon "
" Anda tahu namaku dari mana ?" Celia kebingungan karena Sebastian tahu namanya.
Sebastian menghela napas " maaf aku telat menyelamatkan kamu, tapi kamu tenang saja mereka berdua sudah di hukum setimpal, karena mereka tidak akan bisa lagi berhubungan dengan wanita seumur hidupnya "
Sebastian memang menyuruh orang-orang nya untuk mengebiri kedua orang yang telah memperkosa Celia.
" Apa maksud anda ?" tanya Celia masih bingung.
" Celia Moon, aku sudah mengawasi kamu sejak lama, sebenarnya aku tertarik untuk membawa kamu bekerja pada tuanku, tapi karena beberapa hari ini aku sibuk jadi aku tidak sempat mengunjungi mu "
__ADS_1
Sebastian menghela napas berat " Saat aku datang ke tempatmu, kedua bajingan itu sedang melakukan hal senonoh padamu, padahal kamu sudah pingsan, maafkan aku karena terlambat "
Air mata Celia menetes lagi setelah mengingat kejadian tersebut, dia tidak pernah menyangka kalau kesuciannya akan di ambil oleh orang yang tidak bertanggung jawab.
Sebastian merasa iba pada Celia, karena usut punya usut adalah orang yang di beritahu oleh mandor Celia, dia menjual Celia secara tidak langsung pada kedua orang tersebut.
Sebastian buka suara lagi " Kalau kamu mau, kamu boleh ikut denganku, percayalah aku bukan orang jahat seperti mereka "
Celia masih belum menjawab, karena trauma yang di dapatnya sungguh sangat menyakitkan, mungkin akan butuh beberapa waktu untuk dirinya bisa menerima kenyataan lagi.
Beberapa hari pun berlalu, Celia di bawa Sebastian ke Mansion Julian yang dulu, pada saat itu rumah tersebut masih bukan milik Julian.
Celia mulai menjalani kehidupan barunya menjadi pelayan Mansion, seiring berjalannya waktu Celia mulai menganggap Sebastian sebagai Ayahnya.
Perlahan Celia mulai melupakan kejadian kelam yang di laluinya, dia mulai bisa tersenyum lagi setelah sekian lama senyumnya menghilang. Walaupun Celia masih takut berhubungan dengan seorang pria.
Hari - hari Celia di habiskan hanya dalam Mansion saja, di suruh pergi keluar untuk jalan - jalan oleh Sebastian pun Celia tidak mau.
Sampai - sampai Sebastian bingung ingin menasehati Celia seperti apa lagi, karena dia seolah tidak butuh seorang pria sama sekali.
Setelah dua tahun Celia ikut dengan Sebastian, akhirnya pemilik Mansion menjual Mansion tersebut pada Julian. Di situlah kebahagiaan dan awal mula Celia membuka kembali hatinya untuk seorang pria.
Celia yang sedang melamun mengingat masalalu nya, dia di tegur oleh Okta " Hei ! bantu kami dong malah ngelamun !"
" Eh..iya.. maaf " Celia tersenyum kecut, dia kemudian mulai kembali membantu saudari - saudarinya.
" Apa kamu mikirin Julian Cel ?" tanya Okta penasaran.
Celia menghela napas " ya bisa di bilang begitu, aku kadang merasa bukan wanita yang pantas untuknya, dia menanggung beban yang sangat berat dan aku tidak bisa membantunya apa - apa " ucapnya tidak berdaya.
" Kamu bicara apa sih Cel, Julian pasti tidak suka kalau kamu malah pesimis seperti itu, kita memang tidak bisa membantunya dalam hal yang berat, tapi setidaknya kita bisa memberikan semangat untuknya " tegur Okta mengingatkan Celia.
Celia tersenyum getir " Mungkin kamu benar, tapi aku terkadang kasihan dengan Julian yang harus menanggung semua beban ini sendirian "
Okta mengangguk mengerti, karena dia juga memiliki pemikiran yang sama dengan Celia, Julian selalu menanggung apapun sendirian tanpa mengeluh pada siapapun.
Para wanita Julian sangat paham, kalau Julian butuh istirahat untuk sedikit melepaskan bebannya, mereka semua brdo'a agar masalah ini menjadi masalah terakhir yang harus Julian hadapi.
__ADS_1