System Harem

System Harem
Kemarahan Julian


__ADS_3

Julian Masih memikirkan bagaimana caranya dia menghadapi masalah demi masalah yang terus berdatangan.


Di tambah sekarang Celia sudah hamil, bukan tidak mungkin juga jika wanita Julian yang lain akan hamil juga.


Julian menginginkan sebuah kedamaian hingga para wanita dan anak - anaknya nanti bisa hidup dengan aman dan Damai.


Julian belum tahu kekuatan musuhnya seperti apa, walaupun di Anarka sekarang sudah dikendalikan Rafael. karena pejabat Anarka sekarang sudah di ganti orang - orangnya.


Tapi tetap saja Julian merasa khawatir karena pembicaraan Kenji dan bawahannya sangat jelas ingin menguasai dunia.


" Krieeet


Pintu kamar Julian terbuka, Julian menoleh dia langsung bangun dari sofa saat melihat Celia masuk ke kamarnya.


" Sayang, kamu kenapa kesini ?" tanya Julian khawatir.


" Aku ingin tidur dengan kamu " jawabnya manja.


Celia memang sekarang tidur sendirian, karena kehamilannya Julian menyuruhnya agar tidak tidur dengan para wanita lainnya, karena Rosi sering usil mengerjai saudari - saudarinya saat tidur.


" Ya sudah, kita ke kamar kamu yuk " Ajak Julian sambil memapah Celia.


Celia hanya mengangguk patuh sambil merangkul lengan Julian, mereka berdua pun ke kamar Celia meninggalkan para Wanita Julian di kamarnya yang sudah tertidur sangat pulas.


Ke esokan harinya, Julian terbangun dari tidurnya, dia melihat Celia yang tidur meringkuk di pelukannya seolah tidak ingin lepas dari dirinya.


Julian yang melihat itu tersenyum, dia tidak tega membangunkan Celia, jadi membiarkannya seperti itu hingga dia nantinya terbangun sendiri.


Tak berselang lama ketika sinar mentari mulai menyeruak masuk kedalam kamar Celia, dia menggeliat dan membuka matanya.


Celia tersenyum saat melihat Julian yang tersenyum sambil menatapnya " Pagi calon ibu anakku " ucapnya lembut.


" Pagi Juga sayang " jawabnya penuh dengan kegembiraan.


Celia beranjak dari tidurnya dan duduk sambil membenarkan rambutnya yang berantakan.


Julian juga ikut duduk dan memeluknya dari belakang sambil mencium leher Celia.

__ADS_1


Celia merasakan kehangatan yang dia dambakan, karena Julian begitu mesra dan perhatian akhir - akhir ini.


Julian mengusap perut Celia " Selamat pagi anak Ayah " ucapnya penuh dengan kasih sayang.


Celia tersenyum, dia menggenggam tangan Julian yang sedang mengusap perutnya " Kamu tidak ada acara hari ini sayang ?"


" Aduh lupa, kakak pasti sudah menunggu di bawah " Julian melepaskan pelukannya, dia kemudian pergi ke kamar mandi.


" Sayang, ambilkan baju ganti aku di kamar yah !" teriak Julian di kamar mandi.


" Iya !" Saut Celia menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.


Celia masuk ke kamar Julian, terlihat Rachel dan Alina yang sudah bangun dan mau pergi ke kamarnya masing-masing untuk bersiap berangkat kerja.


" Julian tidur di kamar kamu Celia ?" tanya Rachel sambil menguap.


Celia mengangguk " Iya, dia tadi malam menaniku " Celia membuka lemari Julian dan mengambil baju ganti Julian.


Alina menimpali " Celia tanyakan pada Julian, besok ada launching Produk baru, dia mau datang atau tidak " ucap Alina yang masih mengucek - ucek matanya.


" Iya nanti aku bilangin, kalian tidak kerja ?" Celia balik bertanya pada mereka.


Alina menimpali " Iya aku juga masih lelah, kamu tahu sendiri betapa buasnya pria kita ketika sedang berhasrat " ucapnya sambil tersenyum kecut.


Celia menggeleng - gelengkan kepalanya sambil tersenyum " Kalian ini yah, ya sudah aku mengantar baju ganti Julian dulu "


Alina dan Rachel mengangguk, Celia pun langsung kembali ke kamarnya sambil membawa pakaian ganti Julian.


" Sayang kok lama sih ?" Julian yang sudah selesai mandi dari tadi dan duduk di ranjang sambil mengenakan handuk mengeluh.


" Rachel dan Alina tadi ngajak aku ngobrol " Celia menyerahkan pakaian ganti Julian dan membantunya memakaikannya.


" Oh ya, tadi Alina bilang jika besok ada launching produk baru, kamu akan datang atau tidak, nanti kabari Alina " Ucapnya lembut.


Celia sudah terlihat sangat dewasa, dia sangat berbeda dengan Celia yang dulu polos dan manja, Celia sekarang sudah ke ibuan.


" Nanti aku kabari dia, kamu mau sesuatu tidak ?, mumpung aku mau keluar " tanyanya setelah selesai memasang sepatu.

__ADS_1


" Tidak perlu, di sini semuanya ada, yang penting kamu setiap malam pulang saja sudah cukup untukku " Jawabnya lembut.


' Cup ' Ya sudah aku berangkat dulu " Julian mengecup kening Celia sebelum pergi meninggalkannya.


Selepas kepergian Julian, Celia mengusap perutnya " Kelak jika kamu lahir, tirulah sifat ayahmu yang sangat penyayang itu yah nak "


Celia memang tergolong menyukai sifat Julian, Walaupun dia memiliki banyak wanita, tapi Julian tidak pernah membedakan satu sama lain, dia memperlakukannya sama tidak ada yang spesial, adapun jika dia ingin berlaku spesial pada satu wanita, dia akan meminta ijin para wanitanya dulu, seperti sekarang ini dia memperlakukan Celia dengan Spesial karena dia sedang hamil.


Darius dan Rafael sudah berangkat lebih dulu ke pemakaman, karena Darius tidak ingin menunggu Julian yang selalu membuatnya kesal.


Julian pun tahu kalau Mereka sudah ke pemakaman Natali, karena Rafael memberitahunya sebelum pergi.


Julian langsung menyusul mereka ke pemakaman tempat Natali di kuburkan.


Tak berselang lama Mobil Julian sampai di pemakaman, disana terlihat Jacob dan Walcot yang ikut melihat pembongkaran makam tersebut.


" Bagaimana kak ?" Tanya Julian yang baru tiba.


" Sepertinya dugaan kita benar, tidak ada tanda - tanda tulang Natali disini " Darius menghela napas sedih.


Julian melihat makam tersebut, benar saja hanya ada peti Mati yang terlihat rusak karena di bongkar dengan paksa.


Julian menggertakkan giginya " Brengsek !, aku pasti akan membunuh kalian yang telah berani mencuri Mayat Natali !!"


Walcot buka Suara " Apa rencana kalian selanjutnya ?"


" Libatkan kami juga, walaupun sudah berumur kami juga masih mampu memimpin pasukan !" Jacob menimpali.


Rafael buka suara " Tuan Jacob, tuan Walcot, anda hubungi teman militer kalian di luar negeri untuk membantu mengamankan warga sipil, karena aku yakin akan terjadi pertarungan seperti di Anarka dulu "


Jacob terkejut " Apa musuh kita para mutan lagi ?" tanyanya penasaran dan sedikit ketakutan.


Rafael menggeleng " Bukan mutan, lebih tepatnya Cyborg, dara data yang sudah kami kumpulkan nampaknya mereka lebih kuat dari Mutan yang waktu itu "


Walcott bertanya pada Julian " Julian, apa kamu sudah memiliki rencana untuk mencegah terjadinya kekacauan yang lebih besar dari waktu itu ?"


Julian menggelengkan kepalanya " Aku tidak punya rencana, yang pasti aku akan membunuh mereka dan membawa tubuh Natali pulang !" Sorot mata Julian terlihat sangat tajam.

__ADS_1


Darius menimpali " Jangan bertindak gegabah Julian, kita masih belum tahu pasti kekuatan mereka "


Jacob, Walcott dan Rafael mengangguk setuju dengan ucapan Darius, karena jika dia tidak mengumpulkan informasi terlebih dahulu, yang ada malah akan termakan jebakan musuh. Jalan satu - satunya adalah mencari informasi tentang kekuatan mereka terlebih dahulu agar bisa menyusun rencana yang matang.


__ADS_2