
Setelah beberapa bulan beralalu, Julian sudah beraktivitas seperti biasanya, dia sudah sedikit mengiklankan kepergian Natali.
Para Wanita Julian juga sudah kembali bekerja Kemabli di tempatnya masing-masing, tentu saja sekarang dengan pengawalan yang ketat. Bukan hanya para robot saja yang mengawal mereka tapi ada beberapa Body guard juga yang selalu bersiaga 24 jam.
Julian sedang bersantai di taman, tempat ketika dia mengajak menikah Natali dulu, dia duduk sambil bersender di kursi taman.
" Dunia ini terasa cepat berputarnya, dulu aku selalu mengejarmu tanpa adanya wanita lain yang mengejarku, tapi sekarang semua itu sudah berlalu " ucapnya sambil menengadah menatap Langit hari itu yang cerah.
Julian menghela napas dan menutup matanya " Aku harap kamu bahagia disana Natali " ucapnya dengan lembut.
" Ada pertemuan pasti ada perpisahan, begitulah kehidupan di dunia ini " Seorang Wanita yang entah darimana datangnya tiba - tiba buka suara.
Sontak saja Julian terkejut dan langsung menoleh, dia menatap Wanita dengan rambut Blonde, Pipinya sedikit cabi, dengan raut wajah yang terlihat sangat ceria.
" Yo Halooo " Ucapnya ramah dengan senyum mengembang di bibirnya.
Julian mengernyitkan dahinya, karena walaupun Wanita itu terlihat ramah, tapi nyatanya naluri dia mengatakan jika wanita itu berbahaya.
" Jangan memandangiku seperti itu, Nanti jatuh cinta Loh, hihihi " ucapnya sambil terkikik geli.
" Apa aku mengenalmu ?" tanya Julian penasaran.
" Yellow !, apa yang sedang kamu lakukan ?, ayo cepat pergi dari sini !" Seorang Pria tampan dengan lensa Mata berwarna merah darah memanggil wanita itu.
" Iya, iya bawel !" Wanita itu beranjak pergi dari tempatnya.
Wanita itu beranjak dari tempat duduknya " Dah tampan sampai ketemu lagi " Ucapnya sambil meninggalkan Julian dan mengulas sebuah senyum ketika melihat Julian.
__ADS_1
' Deg !' Julian merasa senyuman itu Familiar " Natali ?" gumamnya lirih.
Julian mau memanggilnya, tapi dia segera menggelengkan kepalanya " Tidak mungkin, Natali sudah tidak ada !" Julian menepuk pipinya sendiri dengan kedua tangannya.
Julian menatap kepergian Mobil tersebut, dia masih benar - benar melihat senyum Natali ketika Wanita yang di panggil Yellow itu tersenyum ke arahnya, tapi Naluri dia berkata lain jika wanita itu sangat berbahaya.
Julian bertanya - tanya dibenaknya, dia bingung dengan kejadian barusan.
Sementara itu di Mobil yang di naiki Wanita itu, si pria tampan memarahi Yellow.
" Jangan bermain - main terus !, kita harus segera menyelesaikan tugas kita dan pergi dari sini, jangan sampai terlibat dengan Orang yang telah membunuh Profesor C5 dan ciptaannya dulu !" Ia menegur Yellow.
" Iya aku tahu, Bawel amat sih kamu Dark !" Yellow menggembungkan pipinya karena kesal sambil menatap keluar jendela mobil.
Yellow juga merasakan sedikit familiar dengan sosok Julian, untuk itulah dia tadi langsung menghampirinya.
Dark menatap Yellow yang terlihat sedang melamun sambil menatap keluar jendela, dia menggeleng - gelengkan kepalanya karena tingkah Yellow sedikit aneh saat bersama pria tadi.
Mobil mereka sampai di sebuah Rumah kecil di pedesaan pinggiran Anarka, saat Mobil tersebut memasuki halaman rumah, Mobil itu langsung turun kebawah seolah naik Lift saja.
Saat sampai di dasar, Dark dan Yellow turun dari Mobil, terlihat sebuah pintu modern yang terbuka ketika mereka memasukkan kode jari mereka.
" Apa kalian mendapatkan sempelnya ?" tanya seorang Pria tampan lainnya yang sedang menunggu mereka berdua.
" Walau hanya sedikit, tapi kami mendapatkannya " Dark memberikan sebuah tabung kecil berisi darah kering yang bercampur dengan tanah.
Pria tersebut tersenyum " kerja Bagus, kurasa ini cukup, besok kita akan pergi ke Andalas, disana semuanya akan berkumpul untuk merancang rencana selanjutnya !"
__ADS_1
" Terserah kamu sajalah, kami disini memang pion kamu bukan !" Yellow duduk disebuah sofa yang ada ditempat tersebut dengan malas.
...***...
Di tempat Julian, dia sudah kembali ke Mansionnya, Para wanitanya juga kebetulan sudah pulang karena hari sudah sore.
Julian langsung berlari masuk dan mencari Celia yang memang sedang hamil anaknya, walau baru berumur dua Minggu.
" Celia, apa kamu di dalam " Julian langsung membuka pintu kamar Celia.
Celia terdengar sedang mandi, Julian tersenyum dan duduk di ranjang menunggu Celia keluar dari kamar mandi.
Di kamar mandi Celia sedang bernyanyi lagu kesukaannya, Julian yang mendengar itu tersenyum sambil menggeleng - gelengkan kepalanya.
Setelah berhubungan dengan para Wanitanya selama ini, hanya Celia yang baru hamil, Julian juga tidak tahu kenapa wanitanya yang lain tidak hamil juga, padahal hampir setiap hari dia menggarap mereka semua.
Tapi Julian bersyukur karena setidaknya ada satu wanitanya yang hamil juga, daripada tidak sama sekali.
Ketika Julian sedang menunggu Celia di kamarnya, para wanita Julian yang lain memasuki kamar. Mereka sekarang tahu kebiasaan baru Julian yang akan terus menempel pada Celia, jadi mereka berinisiatif menjadikan Kamar Celia sebagai tempat pertemuan.
" Kamu gak mandi dulu Julian ?" Rachel menegur Julian.
Julian menoleh " Nanti sajalah " ucapnya santai.
Para wanita Julian mendekati nya dan duduk di ranjang samping Julian, mereka mengobrol bersama layaknya teman akrab saja, tidak ada satupun dari mereka yang merasa iri satu sama lain.
Julian yang melihat kedekatan mereka tentu saja sudah semakin nyaman saja, kehidupannya sudah mendekati sempurna. Apalagi beberapa bulan ini tidak ada masalah yang muncul dan merusak kebahagian mereka.
__ADS_1