
Sementara itu, Valdimir dan Anak buahnya mulai bangun dengan tertatih - tatih, mereka saling memapah satu sama lain, Vladimir juga dipapah Ceska yang terlihat tidak apa - apa, karena dia bersembunyi ketika da pertarungan. dia hanya mengolesi kepalanya dengan darah anak buah Vladimir yang pingsan karena terluka parah akibat kepalanya membentur dinding saat di pukul Julian.
" Tuan Vlad, anda tidak apa - apa ?" Ucap Ceska perhatian.
Vladimir melihat Ceska yang berlumuran darah dikepalanya " aku tidak apa - apa, hanya pelipis dan mungkin beberapa tulang rusukku yang retak, kamu obati dulu saja lukamu itu bersama dengan yang lain " ucap Vladimir merasa iba melihat anak buahnya yang terlihat sangat memprihatinkan.
Ceska tersenyum getir, dia tidak menyangka jika Vladimir akan begitu peduli pada mereka, padahal biasanya Vladimir akan acuh pada mereka.
Vladimir melakukan itu karena dia sadar jika lawannya bukan orang sembarangan, jadi dia merasa jika wajar saja anak buahnya kalah, dia saja tidak bisa berbuat apa - apa dihadapan Julian.
Ceska mengambilkan kotak obat dan memberikannya pada Vladimir, dia kemudian meninggalkan Vladimir agar kebohongannya tidak terungkap.
Ketika Ceska dan semua anak buah Vladimir sudah pergi, tiba - tiba Vladimir menerima sebuah telepon.
Vladimir tanpa ragu mengangkatnya, tanpa melihat siapa yang menelponnya " Halo !" ucap Vladimir acuh.
Terdengar diseberang telepon mengejeknya " Apakah kamu sudah melihat Tuan saya ketika marah ?, hahaha... kamu itu hanya Keroco tapi berani - beraninya menyinggung Tuan Saya "
Vladimir mengerutkan keningnya " Siapa kamu dan apa maumu !" ucap Vladimir ketus.
" Hei, hei, hei... tidak usah nyolot seperti itu, aku menelponmu karena disuruh Tuan Lewis !, mulai sekarang semua daerah kemuasanmu milik Tuan Lewis, jika kamu berani menentangnya maka kami akan menghabisi semua orangmu !" Ucap Rafael mengancam.
' Glek ' Vladimir menelan ludah " Tu...Tunggu dulu, Tuan, aku sudah tahu maksud anda, aku berjanji akan melakukan apapun untuk Tuan Lewis !" ucap Vladimir mantap.
Jika Rafael manusia, dia akan terlihat menyeringai, karena misinya berhasil " Baguslah, Tuan Lewis tidak akan mengganggu kamu, asalkan kamu akan siap siaga jika, diberi Perintah oleh Tuan Lewis !" Rafael langsung mematikan obrolannya dengan Vladimir.
Vladimir menghela napas " Pantas saja Brown menjadi bawahannya, ternyata oang ini lebih menakutkan dari yang aku kira !, jangan - jangan kekayaannya yang tiba - tiba itu...." Vladimir berfantasi Liar, dia pikir jika Julian sebenarnya seorang Mafia besar, dan dia akan menguasai Provinsi Anarka.
Wajar saja jika Vladimir berpikiran seperti itu, karena hanya para Mafia saja yang mampu mengembangkan dirinya jauh lebih kuat dari manusia biasa pada umumnya, entah itu karena doping, kekuatan beladiri ataupun terbuabuat dari technologi canggih.
__ADS_1
Valdimir tahu jika kehidupan Mafia itu sangat ekstrim, mereka yang ingin berkuasa diseluruh dunia akan selalu meningkatkan kekuatannya.
Vladimir memiliki pemikiran seperti itu terhadap Julian, padahal Julian hanyalah orang biasa yang mendapatkan keberuntungan di luar nalar.
...***...
Sementara itu Julian dan Brown kembali ke kediaman Julian, luka Brown sudah di obati, peluru yang bersarang dibahunya juga sudah di ambil.
Ketika mereka sampai di Mansion Julian, hari sudah dini hari, Julian langsung ke kamarnya, dia juga menyuruh Brown agar beristirahat disalah satu Kamar kosong.
Julian memasuki kamarnya, dia lupa jika ada dua Wanita yang sedang tidur dikamarnya.
Ketika dia sampai ditepi ranjang, dia baru teringat kalau Alina dan Rosi sedang ada disana, Julian menatap mereka berdua yang sedang tidur berhadapan, mereka terlihat tersenyum bahagia.
Julian tidak ingin mengganggu mereka, jadi dia keluar kamar dan ke ruang Pc-nya, dia berniat untuk tidur disana saja.
Ke esokan Harinya, Celia dan Liyana terbangun, mereka berdua melihat Julian yang tidur ditengah - tengah mereka, bukannya terkejut, mereka berdua malah tersenyum.
Celia dan Liyana memeluk Julian dari samping kiri dan kanan, mereka berdua seperti seorang budak **** saja yang senang ketika melihat Tuannya.
Tanpa terasa mereka berdua terlelap kembali dipelukan Julian hingga siang hari.
Julian mengerjapkan matanya, ketika dia membuka matanya, Julian menyaksikan pemandangan yang di impikannya " Ah...inikah yang namanya kehidupan ?" ucap Julian sambil mengusap puncak kepala Celia dan Liyana.
Sontak saja Celia dan Liyana terbangun, mereka berdua tersenyum ketika melihat Julian yang sedang mengusap - usap rambut mereka berdua.
" Kamu sudah bangun Julian ?" tanya Celia lembut.
Liyana menimpali " Pasti kami berat yah, hingga membuat kamu terbangun ?"
__ADS_1
Julian menggelengkan kepalanya " tidak sama sekali, aku hanya sudah cukup saja istirahatnya "
Julian kemudian bertanya pada Celia " Celia, apa kamu tidak ke kafe ?"
Celia terkejut " Astaga !, aku lupa !" Celia bergegas bangun dan meninggalkan Julian.
" Julian maaf yah aku tidam bisa melayani kamu, ada sesuatu yang aku harus urus di kafe !" Ucap Celia saat sudah sampai didepan Pintu.
Liyana terkikik geli " Dasar Celia, padahal semalam dia sudah bilang jika ada menu baru yang akan dia launcing "
Julian tersenyum " sepertinya kamu sudah sangat akrab dengan Celia " tanya Julian tiba - tiba.
Liyana mengeratkan pelukannya pada Julian " Mau bagaimana lagi, toh dia juga sudah berhubungan dengan kamu, otomatis dian akan hidup bersama kita juga kan ?"
Julian terkejut, ketika Liyana memgatakan hal tersebut, karena dia tidak perlu memikirkan cara menyatukan mereka, tapi secara perlahan mereka sudah mendekatkan diri satu sama lain.
Julian merasa sedikit lega, karena ternyata Liyan tidak mempermasalahkan jika dirinya diduakan, mungkin karena sifat Celia yang Polos dan baik, jadi Liyana bisa menerimanya.
Julian pura - pura bodoh " Maaf Liyana, aku tidak bermaksud menyembunyikannya padamu, tapi aku hanya takut saja jika kamu akan marah dan meninggalkanku " ucap Julian lemah.
" Mulai deh merayunya, sudahlah Julian, tidak usah berkata seperti itu juga aku sudah tahu jika kamu dekat dengan banyak Wanita, jujur awalnya aku marah, tapi aku sadar jika bukan kamu yang mencari mereka, melainkan mereka yang mencari kamu, jadi aku hanya bisa berharap agar kamu tidak meninggalkan aku, itu saja sudah cukup buatku !" Liyana menyimpulkan pikirannya sendiri, karena dia pikir jika hal tersebut memang sedang terjadi pada Julian.
Julian hampir tersedak ludahnya sendiri, karena Liyana menilainya begitu tinggi, padahal dia lah yang menarik para wanita mendekat dengan sedikit usaha.
Karena System bersamanya jadi keberuntungan Julian berlipat ganda, bukan hanya wanita saja yang tertarik padanya, tapi kekayaan dan kekuatan dia dapatkan.
Julian membatin " Terimakasih tuhan karena telah memberiku System, jika tidak ada System mungkin aku masih seperti pecundang yang tidak berguna !"
Julian memeluk Liyana dan mengecup puncak kepalanya " Terimakasih karena sudah mau mengerti aku Liyana " Ucap Julian tulus.
__ADS_1