System Harem

System Harem
Masa Depan


__ADS_3

Julian semalaman membuat Chip robot dan di tanamkan pada robot Pekerja yang sudah di buat oleh Darius.


Para robot pekerja langsung membentuk tubuhnya dengan kapasitas Chip yang Julian tanamkan, mereka juga bisa bertranformasi seperti manusia.


Sepanjang malam wanita Julian hanya memperhatikan prianya itu yang cukup sibuk dan mengabaikan mereka.


Tapi mereka tidak keberatan sama sekali, karena Julian ingin menyelematkan dunia dari kepunahan Manusia.


Mereka hanya bergantian menemani Julian, jika di kiranya sudah ngantuk, mereka akan berganti sift seperti pekerja supermarket saja.


Darius tidak habis pikir jika Julian akan sangat cepat membuat Ai super cerdas yang hampir sama dengan Rafael.


Tengah hari setelah bergulat dengan pembuatan Robot pemimpin Julian akhirnya menyelesaikannya " Ah... akhirnya selesai juga " ucapnya sambil menyenderkan tubuhnya.


" Sayang makan dulu yah " Celia menyuapkan Julian makanan.


Julian tanpa ragu memakannya " terimakasih sayang "


" Bagaimana ke adaan Larisa dan Arisa ?" tanya Julian lembut.


" Mereka sudah baikan, hanya saja ingatan mereka belum pulih seutuhnya " jawab Celia tidak berdaya.


Julian mengangguk mengerti " Nanti aku kan menyembuhkannya, kamu tenang saja " ucap Julian enteng.


Celia hanya tersenyum, dia tidak meragukan sama sekali ucapan Julian, karena dengan Maksimalnya daya tarik para Harem, mereka semua otomatis sudah tidak peduli Julian bohong dengan mereka ataupun tidak.


Setelah selesai makan, Julian menyuruh para robot pemimpin untuk ke lokasi yang sudah di tentukan masing - masing, para robot pemimpin langsung terbang ke segala arah untuk membuat tatanan dunia baru.


Walcott dan Jacob yang memang selamat dari bencana alam tersebut mereka bertanya pada Julian saat para pemimpin Robot sudah pergi ke tujuannya masing - masing.

__ADS_1


" Julian bagaimana dengan rakyat Anarka, mereka sebagian kehilangan harta bendanya ?" tanya Walcot serius.


Jacob menimpali " Betul, kita tidak mungkin bisa mengurus mereka semua sekaligus " ucapnya tidak berdaya.


Julian tersenyum " Secepatnya pasti aku tangani, mereka juga sudah aku kelompokan di masing-masing kota, Robot pekerja dan Medis sebentar lagi akan di luncurkan, mereka semua pasti akan dapat penanganan yang sama "


Walcott dan Jacob hanya bisa percaya dengan ucapan Julian, karena sekarang tumpuan mereka hanyalah Julian saja.


Julian kemudian masuk ke dalam Bunker, dia menghampiri Seila dan Larisa yang terlihat sedang duduk bengong sambil menatap layar televisi.


Keduanya memang sering bengong seperti itu, mungkin karena saraf otak mereka rusak.


Julian yang sudah memiliki kemampuan Dewa, dia yakin skil medisnya juga sudah sampai di tahap itu, oleh karena itu Julian langsung mencoba mengobati mereka berdua.


Julian pertama menghampiri Seila, dia memegang kepalanya.


Julian menyalurkan energinya kedalam Otak Seila, tentu saja Seila langsung kesakitan, dia mau berontak tapi Julian menahannya menggunakan Vitalitas, hingga Seila tetap diam disana.


" Arghhh


Seila berteriak dengan keras karena kepalanya berdengung dan sakit, hingga akhirnya dia pingsan.


Julian tersenyum " Sekarang kamu sudah baik - baik saja Seila " ucapnya sambil membenarkan posisi berbaring Seila.


Larisa yang mendengar teriakan Seila, dia hanya menoleh tanpa bertanya seperti orang bodoh saja.


Julian mendekati Larisa dan melakukan hal yang sama, Larisa juga Histeris saat mendapatkan penyembuhan dari Julian, hingga akhirnya dia juga pingsan.


" Julian apa mereka berdua akan baik - baik saja ?" tanya Liyana yang tiba - tiba ada di dalam Bunker..

__ADS_1


" Mereka tidak apa - apa, saat bangun nanti mereka akan seperti dulu lagi, kamu gak ikut yang lain membantu orang-orang ?" tanya Julian pada Liyana.


" Oh.. aku mau mengambil pil penyembuhan, karena Pil yang kami bawa sudah habis " Liyana mengecup bibir Julian dan pergi ke tempat Darius yang sibuk membuat ribuan pil penyembuhan.


Julian hanya menggelengkan kepalanya saja, dia kemudian teringat kalau Mansionnya runtuh, dia langsung pergi keluar Bunker.


Julian membangun sebuah istana di atas Bunker tanpa bantuan dari siapapun, tentu saja itu semua membuat Para wanita dan keluarganya tercengang, karena waktu mereka berangkat membantu orang - orang istana tersebut belum berdiri, tapi dalam beberapa jam saja Julian sudah membuat istana tersebut.


Julian melakukan itu semua karena dia ingin Para wanitanya punya tempat tinggal lagi, Istana tersebut juga di lengkapi dengan System modern, Julian sengaja menyalurkan data Rafael ke istana tersebut agar dia dengan mudah bisa menata ruangan di dalamnya.


" Sayang kamu buat ini sendirian ?" tanya Celia yang baru pulang.


Rachel menimpali " Astaga, ini sangat besar sekali, kamu tidak lelah sayang ?"


Para wanita Julian satu persatu bertanya dengan penasaran, karena Julian begitu mudahnya membuat sebuah istana.


Julian tersenyum " jangan pikirkan itu, yang penting mulai sekarang kita bisa tinggal bersama, orang tua kalian juga bisa tinggal disini, mereka boleh menempati kamar lantai dua, karena kamar paling atas milik kita " ucap Julian nakal.


Semua wanita Julian merasa senang, sudah beberapa hari mereka tidak disentuh Julian, akhirnya momen kebersamaan akan terulang kembali.


" Ya sudah kalian pilih kamar kalian dan untuk keluarga kalian, aku mau pergi sebentar " Julian teringat dengan Markas profesor Zonk.


Para wanita Julian mengangguk, mereka semua langsung memasuki istana yang baru di buat itu dengan penuh semangat.


Sementara Julian langsung melesat menghilang dari tempat tersebut, hanya dalam sekejap mata dia sampai di Laboratorium profesor Zonk.


Dia langsung menerjang kesana tanpa ragu, sesampainya di dalam Laboratorium yang berada di tengah laut itu, terlihat semua alat laboratorium sudah rusak.


Julian melihat mayat Profesor Zonk yang berada di ruangan video analisis, dia menghela napas saat melihat mayat tersebut yang sangat mengenaskan.

__ADS_1


Julian tidak melihat apapun yang ada disana selain mayat profesor Zonk dan Labnya yang sudah di rusak seseorang.


Tiba - tiba Julian merasakan gerakan seseorang yang ada di tempat tersebut, Julian langsung waspada karena dia pikir ada temuan profesor Zonk yang berhasil selamat.


__ADS_2