
Julian menunggui Rosi yang masih pingsan, dia terus mencari di Web untuk sedikit mengobati luka Rosi.
" Sial !, kenapa aku tidak bertanya pada Rafael saja ?" Julian baru ingan dengan Rafael, karena dia terlalu panik.
" Rafael !, apa kamu mendengarku ?" ucap Julian pada ponselnya.
Rafael langsung menyaut " Apakah anda ingin bertanya bagaimana caranya memulihkan Nona Rosi ?" tanya Rafel langsung.
Julian terkejut ketika Rafael mengetahui niatnya, tapi ketika dia mengingat jika Rafael bisa melihatnya kapan saja, dia menghela napas " Benar, apakah kamu punya cara ?"
" Saya tidak punya !" jawab Rafael tegas.
" Kalau tidak punya kenapa tidak bilang dsri awal !" ucap Julian jengkel.
" Hahahaha... Anda tidak perlu marah seperti itu Tuan Lewis, dari pada anda mencari cara untyk menyembuhkan Luka Nona Rosi, lebih baik anda memberinya perhatian penuh saja saat dia bangun, karena saya yakin jika anda melakukan hal tersebut Nona Rosi akan lebih tersentuh daripada anda menyembuhkan lukanya. Toh Luka tersebut juga berawal dsri kenikmatan ?, kenapa harus disembuhkan ?, nanti juga sembuh sendiri " jawab Rafael bijak.
Jlian kembali menghela napas " Kamu ini ada saja jawabannya, tapi mungkin kamu ada benarnya, terimakasih Rafael !"
" Sama - sama Tuan Lewis, dan saya ingin memberikan kabar pada anda, jika Ceo Stark Pictures, Tod Star semalam menghubungi anda, dia ingin membahas masalah kerjasama dengan anda " ucap Rafael mengingatkan.
Julian baru teringat jika dia membuat sebuah janji dengan Tod Stark ketika menghancurkan Gyli Hansel.
Julian menghela napas " Aku hampir melupakannya, apakah kamu punya saran Rafael ?"
__ADS_1
" Tuan Lewis, Tod Stark kebetulan sedang mencari seorang bintang baru, ini kesempatan untuk anda agar memasukkan Sepupu anda, Nona Resty dalam kerja sama tersebut, dengan begitu anda bisa mendapatkan dua keuntungan sekaligus, saya yakin Tuan Stark akan setuju !" jawab Rafael memberikan ide.
Julian terlihat berpikir sejenak, tapi ide Rafael sangat bagus, dia bisa sekalian mewujudkan mimpi Resty yang selama ini ingin masuk dunia hiburan.
Julian tersenyum " Aku setuju dengan idemu, kamu atur pertemuanku denganya !"
" Saya sudah mengaturnya Tuan, Besok di kafe Star jam 9 pagi, karena saya tahu jika hari ini akan memanjakan Nona Rosi, jadi saya memilihkan waktu besok saja "
Julian tercengang, karena Rafael seolah sudah mengatur semua kehidupannya, dia menghela napas " terserah kamu sajalah, yang penting jangan sampai salah langkah !"
" Dimengerti Tuan !" Setelah itu Rafael langsung meninggalkan percakapan.
Julian menatap langit - langit " Jika tidak ada Rafael, akan sesibuk apa aku ini ?, ternyata begini kegiatan orang yang memiliki bisnis ?" Julian menghela napas, dia menoleh ke arah Rosi yang masih terbaring lemah.
Julian berbaring disampingnya, dia tidur menghadap Rosi sambil memegang pipinya. Tak berselang lama, Julian tertidur disamping Rosi.
" Kamu sudah bangun ?" ucap Julian lembut.
Rosi mengangguk " aku bangun dari tadi, tapi mau membangunkanmu tidak tega " padahal Rosi masih trauma kalau dia garap kembali oleh Julian.
Julian memandang Rosi " Maafkan aku Ros, aku tidak bermaksud menyakitimu " ucap Julian sendu.
Rosi menggelengkan kepalanya " Kamu tidak bersalah Julian. aku saja yang terlalu memaksakan diri, padahal aku tidak bisa mengimbangimu "
__ADS_1
" Cup !" Julian mengecup kening Rosi " Terimakasih Ros !"
" Kruyukkkk ! " Perut Rosi berbunyi, karena dia dari tadi siang bum makan akibat terus dihajar Julian dan pingsan.
Rosi sebenarnya mau bangun sendiri, tapi ketika dia sedikit menggerakkan tubuhnya, dia merasakan nyeri yang sangat hebat di Goanya, jadi dia memilih untuk berdiam saja.
Rosi tersipu malu ketika perutnya berbunyi, Julian terkekeh " Hehehe... Ayo kita cari makan " Julian beranjak dari ranjang.
Ketika dia sampai di pintu dan akan membukanya, dia tidak merasakan jika Rosi mengikutinya.
Julian menoleh kebelakang, benar saja Rosi masih terbaring diranjangnya sambil menatap Julian dengan senyum palsu.
Julian kemudia teringat dan membatin" Astaga Julian !, apa kamu bodoh ?!, dia pasti sulit untuk bergerak !"
Julian kemudian buka Suara " Aku akan memasak untuk kita berdua, kamu tunggu saja di kamar oke !" setelah mengatakan hal tersebut Julian langsung meninggalkan kamarnya.
Karena Rosi hanya tinggal bersama Ayahnya dan tiga orang pembantu rumah tangganya saja, jadi Rumah tersebut terlihat sangat sepi, apalagi Walcot kalau pulang entah jam berapa.
Julian pergi kedapur untuk memasakkan makanan untuk Rosi, dia melihat ada apa saja yang ada didapur.
Karena pembantu Rosi entah sedang melakukan apa, jadi Julian didapur hanya sendirian saja, dia juga tidak berniat meminta bantuan pada Pembantu Rosi, karena dia ingin memanjakan Rosi seperti kata Rafael.
.
__ADS_1
.
.