
Wanita tersebut jatuh terduduk, karena badan Julian kokoh jadi dia hanya kaget saja.
Julian melepaskan kacamatanya dan membungkuk sambil mengulurkan tangannya " kamu tidak apa - apa Nona ?"
Wanita itu yang masih mengasuh kesakitan, dia menggelengkan kepalanya, kemudian mendongak menerima uluran tangan Julian.
Wanita itu tertegun saat melihat wajah Julian yang begitu tampan, Lensa mata berwarna merah menambah sosok Julian begitu misterius di matanya.
Julian menarik wanita yang mempunya paras cantik khas bule, rambut pirang dengan lensa mata berwarna biru, ditambah tinggi badannya yang hampir sama dengan Julian, membuat dia terlihat sangat mempesona.
" A..aku tidak apa - apa !" wanita tersebut baru menjawab ketika Julian menariknya berdiri.
[ Ding ]
[ Target Harem terdeteksi ]
Nama : Larisa Duke
Umur : 27
Tinggi : 180 cm
Berat : 50 kg
Penampilan : 8.5
Poin suka : 0
Keahlian Kusus : Pembalap / Melukis
Harem Koneksi telah dijalin ,Naikan Poin Suka Target Harem , setiap 10% Poin Target Harem Naik Anda akan mendapatkan 1 Poin peningkatan ,Jika Poin Suka mencapai 95% anda akan mendapatkan kemampuan Khusus yang dimiliki Target Harem ]
Julian mengernyitkan dahinya ketika melihat kemampuan khusus Larisa, karena Larisa terlihat feminim tapi memliki kemampuan khusus pembalap.
Julian hanya tersenyum " baguslah " Ucapnya sambil memakai kacamata hitamnya kembali dan meninggalkan Larisa yang masih tertegun disana.
" Tu..tunggu !" Larisa memanggil Julian.
Julian pun menghentikan langkahnya dan menoleh " ada apa Nona ?" tanyanya datar.
Bukan Julian sok jual mahal, hanya saja dia ingin cepat menyelesaikan masalahnya terlebih dahulu daripada mengenal beberapa wanita lagi.
Larisa menghampiri Julian, dia mengulurkan tangannya " Larisa Duke !" ucapnya sambil tersenyum manis.
__ADS_1
Julian melihat uluran tangan Larisa, dia kemudian menatap Larisa tanpa menjabat tangannya " Julian Lewis " ucapnya dingin dan langsung meninggalkan Larisa yang tangannya masih menggantung di udara.
" Cool banget pria ini, ah... ini dia pria yang aku cari selama ini, dia juga sangat tampan !" Walaupun Julian tidak menggubrisnya, tapi tindakan Julian malah memicu rasa penasaran Larisa.
Faktor Daya Larisa Duke : +10
Target Harem kagum dengan Host.
Faktor Daya Tarik Larisa Duke Sekarang : 10%
[ Karena Target Harem menaikan Daya tariknya 10% anda akan mendapatkan 1 poin kekuatan tambahan ].
Poin Kekuatan Host sekarang : 1
Larisa sebenarnya wanita yang pemilih, dia tidak sembarangan memilih Pria yang akan menjadi pendampingnya.
Banyak Pria yang ingin bersamanya, selalu dia tolak, di tambah keluarganya sangat kaya di Andalas, jadi Larisa tidak takut dengan siapapun dan menolak pria yang dia anggap bukan levelnya dengan angkuh.
Tapi ketika dia menyukai seseorang, ya seperti tadi, dengan percaya dirinya dia menghampiri pria tersebut.
Larisa menatap punggung Julian yang semakin jauh meninggalkannya, dia masih penasaran dengan sosok Julian yang acuh seperti itu.
" Gawat !, aku bisa terlambat !" Larisa menepuk jidatnya, dia lupa ada janji dengan orang tuanya untuk makan siang bersama dengan mereka dan teman Ayahnya.
Sementara itu Julian sudah ada di depan kamarnya, dia menggesek kunci kamar dan pintu pun langsung terbuka.
Julian masuk ke kamarnya, dia melepaskan kacamata hitamnya dan menyapu pandangan keseluruh ruangan tersebut.
" Tempat yang bagus, fasilitas disini juga lengkap, tidak heran kalau banyak yang membeli apartemen disini " ucapnya sambil berjalan ke arah jendela kamar dan menikmati pemandangan kota Sentra dari sana.
Julian masih terkagum - kagum dengan pemandangan kota Sentra, di lihat dari atas malah makin menakjubkan, menurut Julian kota Sentra layak menjadi kota ternyaman di dunia.
Sementara itu di sebuah rumah besar di pusat kota Sentra, dua keluarga sedang menikmati makan siang bersama dengan makanan mewah yang khusus di masak oleh para Chef profesional.
Acara makan siang tersebut menunjukkan kalau kedua keluarga itu merupakan keluarga yang terpandang di kota Sentra.
"Om, Tante, Larisa kok belum datang juga yah ?" tanya seorang pria seumuran Larisa yang memang akan di jodohkan dengannya.
" Tunggulah sebentar lagi Raymond, dia mungkin sedang di jalan, Apartemen dia dengan rumah Om kan sedikit jauh " Fetsa Duke, Ayah Larisa menjawab.
Brescia Duke, Ibu Larisa menimpali sambil tersenyum " kamu tenang saja Raymond, Larisa pasti akan datang "
" Aku juga berharap begitu Om, Tante " wajah Raymond terlihat tidak senang, karena dia datang makan siang bersama keluarga Duke memang ingin bertemu dengan Larisa.
__ADS_1
Raymond Weil, dia anak dari Taipan nomor satu di kota Sentra, kehidupannya sebagai anak sendok perak sangatlah mewah, semua kemauannya selalu di turuti oleh orang tuanya.
Reinhart Weil, Ayah Raymond buka suara " Tuan Duke, tentu anda tidak sedang membohongi kami kan ?" ucapnya sambil tersenyum, tapi ada sedikit nada ancaman disana.
" Maaf aku terlambat, Ayah, Ibu " baru saja Reinhart buka suara, Larisa yang tergesa-gesa tiba di sana.
" Tuan Weil, aku tentu tidak berbohong pada anda " Fresta menjawab dengan bangga.
" Kemarilah nak !" Fresta menyuruh Larisa agar duduk disampingnya.
Larisa pun menghampiri kursi dan duduk disamping Ayahnya, dia melihat keluarga Weil yang semuanya menatap dirinya.
Apalagi Raymond yang terlihat dari sorot matanya seperti ingin menerkamnya saja, membuat Larisa merasa risih dengan tatapannya itu.
" Ternyata lebih cantik aslinya daripada di foto Ayah " Raymond buka suara dengan bersemangat.
Reinhart menimpali sambil tersenyum " Kamu benar Raymond, dia memang pantas untukmu "
Larisa mengerutkan keningnya " Apa maksudnya ini Ayah ?, bukankah ini hanya makan siang bersama tanpa embel - embel apapun ?"
" Sayang tenanglah dulu, Raymond pria yang baik, Ayah yakin dia akan cocok denganmu, cobalah mengenalnya terlebih dahulu " Fresta menenangkan anaknya dengan lembut.
Larisa menatap jijik Raymond, dari tatapannya saja dia sudah menunjukkan jati dirinya, mana mungkin orang seperti dia, pria yang baik.
" Ayahmu benar, mari kita saling mengenal lebih dekat lagi " Ucap Raymond dengan percaya diri.
Alasan Larisa tidak suka dengan Raymond, bukan hanya tatapannya saja, wajahnya juga pas - Pasan, di tambah dia sedikit gempal, tentu saja wanita pemilih seperti Larisa tidak akan menyukainya, Raymond hanya beruntung saja terlahir dari keluarga kaya, kalau tidak, entah dia akan jadi seperti apa.
" Maaf saja, aku sudah punya pilihanku sendiri dan tentunya lebih baik dari kamu !" ucap Larisa ketus.
Raymond tidak marah, dia malah tersenyum " Siapa pria di kota Sentra ini yang berani menentang keluarga Weil ?, apa kamu yakin priamu itu akan baik - baik saja ?, benarkan Ayah ?"
Reinhart menimpali " Tuan Duke, sepertinya anakmu harus diberitahu sebuah kebenaran kalau dia tidak bisa menolak anakku "
Fresta dan istrinya yang Notabenya, kedudukan mereka dibawah satu tingkat dengan keluarga Weil, mereka berdua sedikit takut, tapi mereka juga tidak bisa menjual kebahagiaan anaknya.
" Tuan Weil, bukankah kita sudah sepakat kalau keputusan semuanya ada di Larisa ? " Fresta mencoba bernegosiasi.
" Itu berlaku jika anakku tidak menyukai anakmu, tapi aku rasa anakku tertarik dengan anakmu, jadi mau tidak mau dia harus mengikuti kemauan anakku " Reinhart menyeringai pada Fresta.
" Aku tidak Sudi !" Larisa langsung berdiri, dia berlari meninggalkan rumahnya itu dengan tergesa-gesa.
Raymond dan Ayahnya membiarkan saja, toh orang tua Larisa masih bersama mereka, jadi tentu saja mereka bisa memanfaatkan hal tersebut untuk membuat Larisa menurut dan mengikuti semua kemauannya.
__ADS_1