
Alina mendongak ke atas menatap Julian, Julian terlihat menyeringai, yang membuat Alina semakin begidik ngeri.
Julian buka suara " Kenapa hanya di lihat saja Alina ?" goda Julian.
Alina tersenyum kecut, dia menggenggam pusaka Julian dengan kedua tangannya yang mungil.
Tangan Alina hampir tidak mencakup pusaka Julian, Alina kemudia Memasukan Pusaka Julian Ke mulutnya layaknya mengemut permen Lolipop.
Mulut Alina yang mungil tidak muat semua dengan Pusaka Julian.
Julian yang sudah memuncak, dia mendorong Pusakanya keluar Masuk, membuat Alina gelagapan tidak bisa bernapas.
Julian melakukan hal tersebut selama dua meneit saja dan melepasaknnya.
' uhuk...uhuk... ' Alina sampai terbatuk - batuk, karena saking Jumbonya Pusaka Julian.
Awalnya memang Pusaka Julian berukuran sedang saja, tapi seiring tumbuhnya Atribut, Pusaka Julian akan mengikuti perkembangan tubuhnya, maka dari itu Pusaka Julian sekarang bertambah ukurannya.
Julian memapah Alina berdiri, dia langsung memagut Alina.
Alina tidak menolak sama sekali, dia mengikuti permainan Julian.
Mereka melakukan Pemanasan hingga Sepuluh menit, sebelum akhirnya Julian membopong Alina ke ranjangnya.
Alina yang sudah di kuasai oleh libidonya, dia hanya pasrah saja, ketika Julian mulai menggagahinya.
Julian bersiap untuk memasukkan Pusakanya pada Goa Alina.
" Tok
" Tok
" Tok
Pintu kamar Julian ada yang mengetuk, membuat Julian terlihat kesal " Sial !, siapa sih yang berani mengganggu momen indah ini !"
Julian kesal karena Alina langsung menutupi tubuhnya menggunakan selimut, padahal sebentar lagi Julian akan mendapatkan mahkotanya.
" Julian !, kamu didalamkan ?, Rachel dan Okta mau pamit pulang !" Terdengar teriakan dari Celia.
Julian menatap Alina yang bersembunyi di balik selimut, dia tersenyum getir ketika melihat Alina yang terlihat tersipu.
__ADS_1
Julian menghela napas " Tunggu sebentar !" ucap Julian sambil bergegas mengenakan pakaiannya.
Julian meninggalkan Alina sendiri, setelah mengenakan pakaiannya, Julian membuka Pintu dan langsung keluar dari kamar dan menutup Pintu, karena dia tidak mau Alina terlihat oleh yang lainnya.
" Julian, aku pamit pulang, karena besok masih banya yang harus aku urus " Ucap Rachel yang sebenarnya enggan meninggalkan Julian, tapi karena dia harusemgurus Rumah sakit yang dipercayakan Julian, jadi dia harus bekerja dengan keras.
Okta menimpali " Aku juga sama Julian, besok pembangunan Wisata sudah akan di mulai, jadi aku harus menyiapkan segala sesuatunya " ucap Okta lembut.
Julian tersenyum " Baiklah, mari aku antar sampai depan, nanti sopirku yang akan mengantar kalian "
Mereka kemudian pergi kedepan dengan diantar Julian dan Celia.
Julian memanggil Sebastian agar memanggilkan sopir untuk Rachel dan Okta, mereka berduapun di antar oleh sopir Julian.
Sebenarnya mereka berdua sedikit kecewa karena tidak di antar Julian, tapi mereka sadar jika Julian melakukan hal tersebut agar mereka tidak iri satu sama lain, jadi merrka mencoba untuk memahami Julian.
Ketika mereka sudah pergi, Celia langsung menarik Julian masuk Mansion dan masuk kedalam kamar kosong yang ada dilantai bawah.
Julian tahu apa maksud Celia, pasalnya sudah beberapa hari ini dia tidak memberikan jatah pada Celia.
Celia bertindak agresif, membuat Julian langsung menaikan libidonya kembali setelah tadi sempat turun ketika diganggu Celia.
Celia terkejut karena Julian tidak melakukan pemanasan terlebih dahulu seperti biasanya, dia langsung membalikkan badan Celia dan membungkukkannya.
Tanpa aba - aba Pusaka Julian langsung disentakkan masuk kedalam Goa Celia, membuat mata Celia membelalak.
" Ahhhhhh, Julian ...
Celia menoleh kebelakang melirik Julian, dia tercengang saat melihat wajah Julian yang seolah seperti Iblis, karena biasanya Julian memperlihatkan senyum manisnya ketika menggarap dirinya.
Permainan Julian juga sangat brutal membuat Celia terus mengerang kesakitan, karena tidak ada kasih sayang seperti biasanya disana.
Julian melakukan hal tersebut selama setengah jam tanpa henti, hingga napas Celia tersengal - sengal, kakinya gemetaran dan Ambruk di ranjang.
" Kenapa Celia ?, apakah hanya segini saja ?" tanya Julian dingin.
Celia memaksakan sebuah senyum " Kalau kamu mau lagi, lanjutkan saja, aku tidak apa - apa " ucap Celia dengan napas yang masih belim teratur.
Julian menghela napas, dia memakai pakaiannya kembali dan keluar dari kamar tersebut meningglakan Celia, yang terbaring lemah.
Celia menitihkan air matanya " Apakah Julian tidak puas denganku ?, kenapa aku begitu lemah ?, padahal aku selama ini selalu di puaskan Julian, tapi saat Julian sedang bersemangat, aku malah seperti ini, maaf Julian " guma Celia dalam hati sambil menatap Julian yang berlalu pergi.
__ADS_1
Setelah menutup pintu kamar Julian bergumam lirih " Sial !, apakah aku terlalu berlebihan dengan Celia ?, ah... masa bodo lah, yang penting sekarang aku harus menemui Alina !" Julian bergegas ke kamarnya.
Tapi baru saja Julian sampai di lantai atas, Liyana menarik tangannya.
Julian menoleh kebelakang " Cup !" Liayana langsung memagut bibirnya, sontak saja Julian terkejut.
Liyana kemudian memegang Celana Julian, saat dia merasakan jika pusaka Julian sedang berdiri, Liyana tersenyum " Kita ke kamar yah Julian ?" Liyana menarik tangan Julian sebelum dia menjawabnya.
Julian hanya bisa mengikutinya patuh, dia seolah terhipnotis oleh Liyana.
Liyana menutup pintu kamar dan menguncinya, baru saja dia berbalik, Julian langsung merobek baju Liyana, dia seperti harimau kelaparan saja.
Libido Julian sudah tidak terbendung lagi, walaupun dia menginginkan Liyana, tapi siapa yang tidak mau jika di beri lebih.
Julian langsung menggarap Liyana dikamarmya, Liyana juga kebingungan seperti Celia, Karena Julian seolah ingin memuaskan dirinya sendiri
" Apakah Julian sedang ingin sekali ?, hingga dia berperilaku seperti ini ?, sisi brutalnya seperti ini ?" Liyana bertanya - tanya dalam hati ketika Julian memasukan Pusakanya dalam Goa miliknya.
Awalnya Liyana menikmatinya, karena Libido dia juga sedang naik, tapi lama kelamaan, dia mulai merasakan ada yang tidak beres.
Biasanya Julian membiarkan dia beristirahat ketika mencapai Puncak, tapi sekarang dia menggarapnya tanpa beristrihat membuat Liyana kewalahan.
" Julian, Cukup Julian..." Liyana merengak pada Julian.
Tapi Julian tidakendengarkannya, Julian terus memompa Liyana hingga dia mencapai Puncak setelah satu jam pertarungan.
Liyana terlihat setengah sadar, hanya napasnya saja yang tersengal - sengal.
Julian mengeluarkan pusakanya dari Goa Liyana, dia menghela napas " Maaf Liyana " Julian membenarkan posisi tidur Liyana dan menyelimutinya kemudian meninggalkan Liyana yang terbaring diranjangnya.
Julian keluar dari kamar Liyana, dia bergumam " Sudahlah..., mungkin ini bukan waktunya aku mendapatkan Alina seutuhnya "
Julian kembali ke kamarnya tanpa berharap apapun, karena dia yakin jika Alina sudah meninggalkan kamarnya, karena dia sudah meninggalkan Alina terlalu lama, akibat dia menggarap Celia dan Liyana.
Julian berjalandengan Lesu, dia berkali - kkali menghela napas, padahal dia hampir menggarap seorang bidadari Provinsi Anarka, tapi ada saja gangguannya.
Julian membuka pintu dengan tidak semangat, tapi dia dikejutkan dengan adanya Alina dan Rosi yang sedang berada di kamarnya sambil ketawa - ketiwi, mereka berdua terlihat sedang menonton Video di ponsel.
.
.
__ADS_1
.