System Harem

System Harem
Pertempuran Akhir ?


__ADS_3

Julian menggunakan kecepatan Kilatnya untuk menyerang salah satu dari mereka.


Swuzzz


Booommmmm


Julian langsung terhempas ke belakang saat ada serangan dari berbagai arah.


" Sial ! kalau begini tidak ada cara lain lagi !" Julian memikirkan rencananya untuk meledakan mereka semua bersama dirinya sekaligus menggunakan Nuklir.


Julian membulatkan tekadnya, dia harus membuat mereka semua agar tidak bisa kabur dari sana.


Tapi bagaimana caranya?


untuk mendekat ke mereka saja dia tidak bisa, kalau meluncurkan Nuklir sekarang yang ada mereka bisa kabur semuanya.


Julian menggertakkan giginya, dia berusaha semaksimal mungkin untuk membuat mereka agar tidak kabur dari sana.


" Hahahaha... menyerahlah Julian Lewis !" suara profesor Zonk tiba - tiba terdengar.


Walaupun bersamaan dengan bisingnya serangan para musuhnya, Julian bisa mendengar Jelas suara tersebut.


" Kamu hanya akan mati sia - sia Julian, kalau kamu mau menjadi bawahanku, kita akan menguasai dunia ini bersama - sama !" suara profesor Zonk terus menggema.


Julian tidak peduli dengan seruan Profesor Zonk, yang dia pikirkan sekarang bagaimana caranya agar mereka semua tidak kabur saat Nuklir di luncurkan oleh Rafael.


" Boomm


" Boommm


Julian mulai menemui titik untuk menghajar salah satu dari mereka, walau dia harus menggunakan banyak Vitalitasnya.


Pria kurus yang di hantam Julian langsung hilang menjadi debu, sisa satu kakinya saja yang jatuh di tanah.


" Booommmmm


Julian terhempas, sebuah bom atom mengenai dirinya, hingga dia tersungkur di tanah.


Jika saja Vitalitas Julian tidak kuat, mungkin tubuh Julian akan hancur menjadi debu.


Julian mencoba berdiri kembali, tapi serangan mereka masih terus menghujaninya, hingga dia kesulitan untuk berdiri.


Julian terus meningkat kan Vitalitasnya hingga mencapai batas, kekuatannya meningkat pesat.


Para Monster tersebut merasa tertekan " Rafael sekarang ! " teriak Julian yang sudah tidak peduli lagi dengan kehancuran dirinya.


" Baik tuan Lewis !" Rafael langsung meluncurkan sepuluh nuklir ketempat Julian bertarung.

__ADS_1


" Hoek !" Julian memuntahkan seteguk darah karena dia mencoba mempertahankan Vitalitas terkuatnya.


Walaupun tubuh Julian sudah setengah dewa, tapi pemakaian Vitalitas yang berlebihan membuat tubuhnya terbebani.


Di Bunker, Wanita Julian terkejut saat melihat puluhan Nuklir meluncur ke arah Julian.


" Rafael apa yang kamu lakukan !" Seru Celia yang tahu kalau Rafael yang melakukan itu.


" Maaf Nona, tapi Tuan Lewis yang menginginkan ini semua " jawab Rafael singkat.


" Cepat hentikan Rafael !" Celia berteriak.


Darius juga terkejut, karena dia tidak di beritahu rencana tersebut, dia langsung ambruk di kursinya karena tidak percaya kalau Julian akan melakukan bunuh diri bersama para musuhnya.


Para Wanita Julian Histeris, karena mereka tidak ingin Julian meninggalkannya.


...***...


Sementara itu di tempat Profesor Zonk berada, dia juga panik karena tidak menyangka Julian akan melakukan hal tersebut.


" Cepat gunakan pertahan terkuat kalian dan bersatulah !" Seru profesor Zonk pada para ciptaannya.


" Sial ! kenapa anak ini sungguh nekad !" gerutu profesor Zonk.


" Praall


Tangan Profesor Zonk terputus oleh serangan perisai Plasma Blue.


Blue tersenyum " Ternyata benar, kalau kamu sebenarnya takut menanamkan sel lain ketubuhmu !"


" Brengsek ! berani sekali mahluk kotor seperti mu menceramahi aku !" bentak Profesor Zonk dengan keringat dingin yang mengucur deras di dahinya.


Profesor Zonk memang tidak menanamkan sel apapun pada tubuhnya, dia pikir dengan mengendalikan ciptaannya itu semua sudah cukup untuk menjadikan dirinya seorang penguasa, dia tidak tahu kalau ciptaan manusia masihlah banyak celah, walaupun terlihat sangat sempurna sekali pun.


Bukti nyatanya adalah Blue, dia terlepas dari Chip pengendali yang di tanamkan padanya dan sekarang malah membelot.


Profesor Zonk berteriak " Ai kendalikan dia !"


[ Maaf tuan, Chip dalam tubuh Blue sudah tidak ada ]


" Apaa ! Bagaimana mungkin itu bisa terjadi ?" Profesor Zonk menatap Blue tidak percaya.


Blue menyeringai " sayang sekali Profesor, kamu selalu mengutak Atik tubuh kami seka...."


Blue belum selesai bicara tiba - tiba terasa getaran yang sangat hebat mengguncang seluruh dunia.


" Boooommm

__ADS_1


Puluhan Nuklir menghujani tempat pertempuran, para Monster Ciptaan profesor Zonk menciptakan perisai berlapis - lapis.


Tempat tersebut Luluh lantak, laut seolah terbelah mengakibatkan tempat tersebut hanyalah daratan tandus dengan lubang yang sangat besar disana.


Seluruh Benua Roha menghilang dari peta, Blue langsung melihat ke arah Video yang menunjukkan wilayah tersebut.


" Sayang !" teriak Blue tidak percaya.


" Hahahaha... berakhir sudah, dan tampaknya aku yang menang !" Profesor tertawa dengan puas, tapi Blue langsung membunuhnya dengan memotong lehernya.


" Berisik sekali bangcat !" Teriak Blue sehabis membunuh Profesor Zonk.


Sayangnya Misi Julian gagal, tiga Ciptaan Profesor Zonk masih melayang di udara dengan gagah.


" Cih ! Hampir saja kita ikut mati dengannya !" celetuk Rohi yang masih hidup.


" Benar - benar manusia yang nekad !" Grown pemilik kemampuan unik kecepatan suara menimpali.


" Aku hampir saja mati " White yang di gendong Grown menimpali.


Mereka bertiga menatap kawah yang begitu besar tempat Julian berdiri mereka semua mengerutkan kening saat melihat Julian yang terkapar di tanah dengan tubuh di lumuri darah.


Detak jantungnya terdengar sangat lemah, hanya menunggu waktu saja untuk di menghembuskan napas terakhir.


Rohi merasa jengkel karena tubuh Julian masih utuh, dia langsung melesat ke arah Julian untuk menghancurkan tubuhnya.


" Matilah kau bajingan !" Rohi menggunakan seluruh Vitalitasnya.


" Booommmm


Suara ledakkan besar terjadi, karena Rohi menggunakan seluruh kekuatannya untu memusnahkan seluruh tubuh Julian.


Sementara itu di Bunker, Para wanita Julian ambruk di lantai, mereka semua tidak kuasa melihat Julian yang di habisi oleh Rohi.


" Juliannn !!!" Mereka semua berteriak sangat kencang, sehingga keluarga mereka juga merasakan sakit yang sama.


Para Wanita Julian mencoba di tenangkan oleh keluarganya, walaupun mereka bersedih tapi apa yang bisa mereka lakukan.


Semuanya sudah terjadi dan mereka tidak bisa mengubah sebuah kenyataan.


Darius juga merasa sangat terpukul, Susan langsung memeluknya dengan erat, mereka saling menenangkan satu sama lain.


Blue yang di tempat profesor Zonk juga merasa sedih, karena pria kuat yang selama ini dia cari harus lenyap begitu saja.


Pertemuan singkat tersebut membuat Blue merasa di permainkan takdir, dia yang dulunya tidak pernah percaya dengan seorang pria, hingga akhirnya bunuh diri tapi tidak mati dan di jadikan bahan percobaan Profesor Zonk, kemudian menemukan pria idamannya, tapi sekarang semuanya kembali sirna.


Tapi Blue tiba - tiba membelalakkan matanya saat Rohi tidak bisa bergerak di Tempatnya, dia menatap layar tersebut dengan seksama.

__ADS_1


__ADS_2