
Okta yang memiliki dua orang adik yang masih kecil, dia terpaksa menjadi tulang punggung keluarganya.
Ayahnya meninggal ketika adik bungsunya baru berumur dua tahun karena penyakit paru - paru.
" Bu ! aku berangkat dulu yah !" teriak Okta pamit berangkat kerja.
" Makan dulu Nak !" saut ibunya yang sedang ngemong anak bungsunya.
" Aku makan di tempat kerja saja Bu !" Okta terburu - buru karena takut terlambat.
Atasan Okta sangat galak, jadi dia tidak berani terlambat sedetikpun.
Lebih baik dia makan di kantor, dari pada dia harus terlambat masuk kantor karena sarapan di rumah.
Okta dengan tergesa-gesa bergegas ke kantornya, tanpa memikirkan perutnya yang masih kosong.
Sialnya tidak ada taksi yang lewat hari itu karena ada kecelakaan lalulintas di jalan yang harusnya di lalui taksi yang searah dengan kantor Okta.
Okta terlihat melihat jam tangannya sambil celingukan kanan kiri mencari taksi " kenapa jam segini gak ada taksi lewat ?"
Okta mulai panik, akhirnya dia memilih untuk berlari menuju kantornya, perutnya yang masih kosong membuat tubuh Okta sangatlah lemah, tapi demi Orang tua dan adiknya, dia terus berlari tanpa henti.
Peluh membasahi tubuhnya, tapi Okta tidak peduli, penampilannya yang tadinya sempurna, setelah sampai di kantor menjadi acak - acakan.
" Syukurlah aku tepat waktu " napas Okta tersengal - sengal, dia menghapus keringatnya yang menetes, menggunakan punggung tangannya.
Baru saja Okta mau melangkah ke dalam, tiba - tiba ada yang menegurnya " Kamu mau kerja atau mau main - main disini !"
Sontak saja Okta langsung menoleh, dia tahu betul suara siapa yang menegurnya itu.
Okta menoleh dan tersenyum kecut, dia tidak berani buka suara apa lagi menjawab teguran dari atasannya itu.
" Rapikan pakaianmu kalau masih ingin bekerja disini !" tegurnya keras sambil meninggalkan Okta.
" Baik Bu " Okta hanya bisa membungkuk dan menjawab dengan sopan.
Atasan Okta sebenarnya adalah teman kuliahnya dulu, tapi karena dia menjadi kekasih Bos perusahaan, jadi dia di angkat menjadi CEO.
Okta tidak bisa melawan sama sekali walaupun dia seumuran dengannya, karena dia berbicara buruk sedikit saja pasti akan langsung di pecat olehnya.
__ADS_1
Okta menghela napas " memang teman yang sudah sukses susah untuk di jadikan panutan !" gerutunya kesal sambil berjalan ke arah kamar mandi.
Di kamar mandi Okta membenarkan riasan dan bajunya yang acak - acakan akibat dia berlari untuk sampai di kantor.
" Kalau saja bukan atasan, sudah ku becek - becek kamu Sonia !" Okta masih kesal dengan Sonia yang merupakan atasannya.
" Wah, wah... ada yang berani nih sama nyonya Sonia " seorang wanita menegur Okta dengan menunjukkan ponselnya yang sedang merekam.
Okta terkejut " Serlin ! Apa yang kamu lakukan ?!"
" Hehehe... aku hanya merekam sebuah kenyataan " jawab teman kerjanya sambil menyalakan rekaman suara Okta barusan.
Wajah Okta menggelap " Serlin ! Apa maumu ?" ucapnya ketus.
" Mudah saja kamu harus tidur dengan Rendi, agar aku bisa memutuskannya dengan mudah " jawabnya dengan santai.
" Kamu gila Serlin ! aku tidak Sudi !" bentak Okta dengan meninggikan suaranya tiga oktaf.
" Ya sudah, berarti kamu akan di pecat dari sini, bye..." Serlin melambaikan tangannya dengan wajah mengejek.
Okta menghela napas, dia menatap langit - langit kamar mandi " Tuhan kenapa takdir ini begitu kejam menimpaku " ucapnya dengan suara bergetar.
Teman - teman kantor yang peduli padanya bertanya - tanya kenapa tiba - tiba Okta berkemas.
" Okt, kamu kenapa ?" tanya seorang pria yang meja kerjanya dekat dengan Okta.
Okta tersenyum getir " Aku mau mengundurkan diri " jawabnya singkat.
" Lah kok gitu, memangnya kenapa Okt ?" tanyanya lagi.
Okta menghela napas " panjang ceritanya "
Okta belum selesai berbicara dengan rekannya itu, benar saja Sonia datang dengan wajah menggelap.
Saat Sonia akan membentak Okta, Okta buru - buru bicara " Kamu tidak perlu memecatku, aku juga akan mengundurkan diri " jawabnya sambil membawa barang-barang nya yang sudah dia kemas.
" Baguslah ! Pergi sana yang jauh, jangan harap kamu bisa bekerja di tempat ini lagi !" teriak Sonia pada Okta yang mulai menjauh.
Semua orang menatap Okta yang di teriaki oleh Sonia, ada yang iba dan ada juga yang senang, tentu saja orang yang senang itu Serlin.
__ADS_1
Okta keluar dari perusahaan, dia menoleh kebelakang melihat perusahaan yang selama ini menjadi tempatnya mencari nafkah.
Dia menghela napas kemudian meninggalkan perusahaan tersebut, Okta bingung bagaimana harus menjelaskan pada orang tuanya nanti di rumah.
Dia duduk di trotoar, menaruh barang - barangnya disamping tempat dirinya duduk " Aku harus mencari kerja dimana lagi ?" gumamnya lirih.
" Okta !" tiba - tiba seseorang menegurnya.
Sontak saja Okta langsung mendongak ke atas, dia mengerutkan kening saat melihat seorang wanita dengan riasan tebal menyapanya.
" Ih.. Okta ! Masa kamu lupa sih sama aku ?" tegurnya sambil menggembungkan pipinya.
" Maaf Nona siapa yah ?" Okta masih belum mengenali wanita tersebut.
" Juli, aku Juli Okta .." ucapnya sambil menunjuk dirinya sendiri.
" Ya ampun, kamu Juli... Apa kabar ?" Okta baru mau berdiri dan terlihat wajahnya sumringah.
" Aku baik - baik saja " Juli melihat barang - barang Okta " kamu mau kemana bawa barang begitu banyak ?"
Okta menghela napas " Aku habis di pecat " jawabnya tidak berdaya.
Juli malah tersenyum " bagus deh kalau begitu, ayo ikut aku "
Juli menarik Okta, tapi Okta menahannya dulu untuk membawa barang - barangnya, mereka berdua naik taksi untuk kesuatu tempat yang akan Juli datangi.
Mereka berdua sampai di tempat kerja Juli, kebetulan Juli sebenarnya sedang ngambil cuti, jadi dia tidak bekerja sekarang.
Juli langsung mengajak Okta masuk kedalam gedung tempat Okta bekerja saat bertemu Julian pertama kali, ya tempat itu adalah tempat jual beli hunian.
Okta di kenalkan dengan manajer nya yang kebetulan adalah kakaknya, dia pun bekerja disana sebelum akhirnya bertemu dengan Julian dan di belikan Rumah.
Semenjak kerja disana Okta tidak banyak makan hati, ya walaupun ada salah satu yang cemburu padanya ketika dapat klien yang melebihinya.
Hari - harinya di lalui begitu saja dengan pencapaian-pencapaian yang tidak di dapat orang lain di sana, Juli yang menikah akhirnya memutuskan untuk berhenti bekerja, Okta akhirnya menemukan musuh disana lagi setelah Juli berhenti bekerja.
Tapi Okta tetap bertahan sampai akhirnya dia berhenti bekerja saat sudah menjadi wanita Julian.
Kembali ke masa sekarang, Okta sangat senang berbaur dengan para wanita Julian, karena mereka semuanya bisa menerima satu sama lain.
__ADS_1
Karena tujuan mereka sama, membahagiakan Julian dan memberikan nya kasih sayang, agar bisa sedikit membuat Julian lebih nyaman dari masalah - masalah yang di hadapinya.