
Ke esokan harinya di tempat Julian para wanitanya berlibur.
Sekelompok polisi datang, mereka hanyalah polisi Daerah, di antara mereka ada kepala kepolisian daerah yang semalam Lina katakan, kalau polisi tersebut kenalan dari Toni.
Para Polisi itu datang mendapatkan laporan dari dua anak buah Toni yang ternyata masih hidup ketika kaki mereka di hilangkan oleh Julian.
Keduanya terus berteriak minta tolong, hingga ada pasangan yang akan melakukan kegiatan mesum disana mendengar teriakan mereka.
Saat pasangan tersebut masuk gubuk itu, mereka terkejut karena melihat Doni dan Wili yang bersimpah darah, wajah keduanya sudah sangat pucat tapi mereka berusaha meminta tolong pada pasangan tersebut.
Bukannya menolong kedua pasangan itu malah ketakutan dan melapor pada kepala desa, Doni dan Wili pun terselamatkan, sementara Toni sudah tewas karena ternyata ranting yang di tusukkan Julian tembus sampai belakang kepala Toni.
" Panggil orang ini keluar !" Kepala Polisi daerah, Veron menegur Susan yang sudah bangun terlebih dahulu sambil memperlihatkan sketsa wajah Julian.
Susan melihat sekelompok polisi itu dan menjawab " ada apa yah pak ?" tanyanya sopan.
" Orang di gambar ini telah membunuh tuan Toni !" Veron terlihat sangat geram.
" Oh... sebentar " jawab Susan dengan santainya.
Veron tentu saja bingung karena Susan seolah tidak peduli dengannya, dia pun sedang menduga - duga siapa mereka ini, karena dirinya baru pertama kali melihat mereka.
Susan menghampiri tenda Julian, dia berteriak " Julian !, ada yang mencarimu !"
kebetulan yang bangun pertama Rosi, dia yang biasa tidurnya seperti kerbau, karena kebelet jadi terpaksa bangun.
' Hoaaamm ' Rosi menguap dan bertanya " ada apa kak, pagi - pagi berteriak-teriak manggil Julian ?" tanyanya santai.
" Tuh ada tamu buat Julian, aku mau mandi dulu " Susan meninggalkan Rosi di tempatnya.
Rosi melihat ke arah yang di tunjuk Susan, dia mengerutkan keningnya saat melihat sekelompok Polisi yang menatapnya tajam.
Rosi menghela napas " Mau apa orang - orang bodoh ini kemari " gumamnya malas.
Rosi mengambil ponselnya yang ada di saku, dia langsung Video Call seseorang, sambil menghampiri Polisi tersebut.
Polisi langsung menghardik Rosi, karena malah dia yang datang bukannya Julian " mana orang ini !"
Veron memperlihatkan gambar seketsa wajah Julian pada Rosi, tapi Rosi membulatkan matanya malas " Ini..." Rosi menyerahkan ponselnya pada Veron.
Veron mengernyitkan dahi dan marah " Apa maksudmu !, apa kalian bera..."
__ADS_1
Veron belum selesai bicara, suara tua khas terdengar, berikut dengan gambarnya " Sayang !, siapa yang berani membentak mu !" ucap Ayah Rosi yang mendengar bentakan Veron.
Veron berkeringat dingin saat melihat gambar orang tua yang sangat kenal, ya Rosi sengaja menelpon ayahnya, karena dia tidak ingin mengganggu Julian yang masih istirahat.
" Ini ambil !, ngobrol dengan Ayahku !, aku mau ke toilet !" Rosi menyerahkan Ponselnya dengan paksa.
Veron langsung gemetaran saat melihat wajah Walcot yang merupakan Jendral Kepolisian. Karena dia sangat mengenal atasannya itu.
" Se..selamat pa..hi Tu..tuan Dail " ucapnya gugup sambil memaksakan sebuah senyum.
" Siapa kamu !, kenapa Ponsel Putriku ada di tanganmu !?" tanyanya ketus.
" Tu..tuan Dail, saya hanya sedang menjalankan tugas dan mencari seorang pria yang bersama putri anda, tapi Putri anda malah menelpon anda " jawabnya membela diri.
" Seorang Pria ?, apa kamu cari mati ?!, jangan bilang kamu mencari kekasih Putriku !, kalau itu benar akan ku pecat kamu sekarang juga !!" Walcott terus memarahi Veron, sehingga membuat Veron sangat ketakutan.
" Maafkan saya tuan Dail, saya tidak bermaksud seperti itu, saya janji tidak akan menangkap kekasih Putri anda " ucapnya mantap sambil menjulurkan jarinya membentuk huruf ' V '.
" Bagus !" Video call langsung di matikan, Walcott sengaja tidak mengungkapkan latar belakang Julian, karena dia saja sudah lebih dari cukup untuk menghentikan Veron.
Veron menghela napas lega setelah Video Call itu di matikan, walaupun dia masih sedikit ketakutan.
" Menangkap siapa ?, kita tidak akan menangkap siapa - siapa !" bentaknya pada anak buah yang bicara tadi.
Seketika anak buah Veron semuanya menundukkan kepala, karena mereka tidak berani membantah Veron.
Veron menghela napas dan bergumam " Kali ini kamu telah menyinggung orang yang salah Toni "
Veron tidak bisa berbuat apa-apa, karena dengan turun tangannya langsung Walcot, dia menyimpulkan kalau pria tersebut sudah di akui Walcot, jadi dia tidak berani bertindak lebih jauh.
Veron dan anak buahnya masih berdiri terpaku disana, mereka semua seolah menunggu seseorang.
Beberapa saat kemudian Rosi menghampiri Veron " Mana ponselku ?!" dia menengadahkan tangannya kehadapan Veron.
" I..ini Nona Dail, maaf telah mengganggu waktu anda " ucap Veron sambil mengembalikan Ponsel Rosi.
" Ada apa Ros ?" tanya Julian yang baru keluar dari dalam tenda.
Veron melihat Julian yang sama persis dengan Sketsa, tapi dia tidak berani melangkahkan kaki mendekatinya walau hanya sejengkal saja.
" Tidak ada apa - apa sayang, hanya ada salah paham saja, benarkan Pak Polisi ?" Rosi tersenyum sambil memelototi Veron.
__ADS_1
" Be..benar, kami hanya ingin melihat sekeliling saja " jawab Veron sekenanya.
Julian menggelengkan kepalanya, dia tahu kalau Veron sedang berkilah dan pasti Rosi lah yang membuatnya seperti itu.
" Slaap !" Julian tiba - tiba ada di hadapan Veron.
Sontak saja Veron dan anak buahnya terkejut karena kecepatan Julian tidak bisa di lihat mereka.
" Apa kamu mencari pembunuh Pria busuk buncit itu pak Polisi yang terhormat ?" Julian membenarkan baju dan topi Veron.
' Glek ' Veron menelan ludah, karena walaupun suara Julian lembut dan sopan, dia merasa ada ancaman disana.
" Ti..tidak tuan, ka..kami hanya sedang berpatroli saja " ucapnya dengan tubuh gemetaran.
" Krcak
" Krcak
Tiba - tiba suara guyuran air terdengar, Julian mengernyitkan dahi, dia melihat ke celana Veron, betapa terkejutnya Julian, seorang Polisi bisa sampai ketakutan seperti itu.
Rosi juga melihat hali itu, dia menghela napas dan merangkul tangan Julian dengan manja " Sayang, sudahlah... lepaskan mereka, tidak elok untukmu meladeni orang-orang bodoh sepertinya "
Perkataan Rosi sangat menohok, membuat Veron sudah tidak punya lagi harga diri, ternyata dia yang selama ini berkuasa di daerah, hanyalah sebuah mainan bagi anak muda di depannya.
Para bawahan Veron hanya saling memandang saja saat Atasan mereka di olok - olok Rosi, karena mereka juga mendengar pembicaraan Veron dengan Dail, jadi mereka tidak bisa apa - apa disana.
" Kalau itu mau kamu, aku mandi dulu " Julian melepaskan rangkulan Rosi.
Rosi mengangguk sambil tersenyum manis, dia melambaikan tangan ke arah Julian, seolah akan di tinggal jauh saja.
Rosi menoleh ke arah Veron sambil menyilangkan tangannya di depan dada " Kenapa kalian masih disini !?, cepat Pergi !, atau aku berubah pikiran ?!" ancam Rosi dengan seringai jahatnya.
" Ba..baik Nona !" Veron langsung berbalik dan akan berlari, tapi dia menabrak anak buahnya yang dari tadi ada dibelakangnya, dia lupa kalau kesana dengan anak buah.
" Aduh !, bodoh kenapa kalian berdiri disitu ?!" ucapnya kesal.
" Kamu nanya ?, kamu bertanya-tanya ?" bawahan Veron malah ngelawak.
" Cuih !" Veron meludahi anak buahnya.
Mereka pun langsung berlarian pergi, bukan hanya takut dengan Veron, mereka juga takut dengan Rosi yang ternyata anak Jendral Polisi.
__ADS_1