System Harem

System Harem
Hilang sebentar Saja


__ADS_3

Julian berlari berlari kesana kemari mencari Resty dengan kecepatan Ekstrim sambil menggunakan penglihatan Elangnya.


" Resty, kamu dimana ?" gumam Julian sambil berlari.


" Kalau sampai ada apa - apa denganmu, akan ku bunuh semua bajingan yang berani menyentuhmu walaupun sepintas saja !" wajahnya menggelap karena saking marahnya Julian.


Sementara itu di tempat Resty di sekap, pria buncit itu mulai menggunting perlahan baju Resty, dia seolah menikmati momen tersebut.


Resty terus meronta sambil menangis, dia tidak mau keperawanan nya di ambil orang lain selain Julian.


" Mmmmm.... " teriaknya di balik lakban yang menyumpal mulutnya.


Resty benar - benar ketakutan, dia meneriakkan nama Julian terus menerus dalam sumpalan lakban tersebut.


Pria Buncit itu terlihat tambah bergairah saat melihat Resty meronta-ronta seperti itu.


Baju Resty pun sudah di tanggalkan, terlihat Penutup gunung kembar berwarna biru, warna kesukaan Julian.


Gunung kembar yang masih ranum, sangat indah, sangat padat karena belum terjamah tangan - tangan nakal.


Pria buncit meneteskan air liurnya, saat melihat pemandangan nan indah dan mempesona itu.


Dia semakin bersemangat dan mulai menggunting celana Resty dari belakang.


Celanapun sudah di tanggalkan, lagi - lagi terlihat pinggul yang sintal, paha putih bersih dan sangat mulus.


" Ahhh... halus sekali " ucap pria buncit menikmati paha mulus Resty.


Resty semakin menangis dengan deras, dia sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa, dia harap Julian segera datang menyelamatkannya.


" Kamu memang wanita yang sempurna sayang " ucap Pria Buncit dengan penuh gairah karena melihat dalaman Resty yang hanya menutupi area ke intimannya saja.


Pria buncit melepaskan seluruh pakaiannya, hingga dia tidak mengenakan sehelai benangpun.


Terpampang jelas pusakanya yang sudah tegap berdiri, yang ukurannya sebesar ibu jari tangan.


Resty memejamkan matanya, dia teriak sekencang-kencangnya " Mmmm..Lian... !!!"


Julian yang sedang berada jauh seratus meter dari lokasi, karena semua atributnya sudah setengah dewa dia mendengar jeritan tersebut.


" Resty !" ucapnya yang langsung melesat kesana.


Di tempat Resty, Pria buncit sedang melebarkan posisi Resty, dia jongkok di hadapannya.


Ketika pria Buncit mau menarik tali penutup keintiman Resty.


" Kraakk


" Arghhhhh

__ADS_1


Pria buncit melolong kesakitan saat tangannya di pelintir Julian yang tiba - tiba sudah ada dalam gubuk hingga terlepas dari sendinya.


Dua anak buah pria buncit yang menjaga dia luar gubug saling menatap.


Doni buka suara " Apakah seenak itu Wil ?" tanyanya penasaran.


" Gak tahu, mungkin perawan kali ?" jawab Wili santai.


" Arghhh


Terdengar teriakan lagi dari dalam gubug tersebut.


" Gila, aku jadi pengin Wil !, tidak sabar walaupun bekas bos juga " Doni menggosok - gosok tangannya.


" Sabar saja, nanti juga kita kebagian dan main puas dengannya " jawab Wili sambil menyalakan rokoknya.


" Arghhh


Lagi - lagi mereka mendengar Jeritan Bosnya, tapi mereka hanya tersenyum getir saja, mereka mengira kalau bosnya sedang bersenang - senang.


Di dalam gubug, terlihat semua tangan dan Kaki Pria buncit sudah terlepas dari sendinya, dia terkapar di lantai, dengan keringat membasahi tubuhnya karena menahan sakit yang teramat itu.


Julian langsung melepaskan lakban dan ikatan Resty " Kamu tidak apa - apa Res ?"


Resty langsung memeluk Julian " Aku takut Julian, hiks...hiks... "


Julian mengusap - usap puncak kepalanya " kamu tenang yah, aku sudah ada disini oke "


Resty mengangguk dia memeluk kakinya sendiri sambil melihat apa yang akan di lakukan Julian pada orang tersebut.


Julian mendekati Pria Buncit " berani sekali kamu menyentuh wanitaku !"


Pria buncit ketakutan " ja..ja..ngan ma..cam - macam denganku, aku juragan disini !" ucapnya mengancam sambil menahan sakit.


Julian jongkok, dia mengambil ranting pohon yang ada di dekatnya " Juragan ?!"


" Clappp


" Arghhhh


Julian menancapkan ranting pohon itu ke mata sebelah kiri Pria buncit tersebut.


Pria buncit mulai sadar kalau orang di depannya itu bukanlah manusia, melainkan iblis.


Dia semakin ketakutan, saat Julian memainkan ranting pohon lainnya yang dia genggam.


" Matamu itu sudah tidak pantas melihat indahnya dunia, karena telah berani melihat punyaku ! "


" Claapp

__ADS_1


" Arghhhh


Julian menancapkan lagi ranting pohon itu ke mata kirinya, Pria buncit langsung pingsan atau mungkin tewas, entahlah...


Baru dua anak buah Pria buncit masuk saat mendengar lolongan panjang itu.


" Bos kamu ke.... " Mulut Doni tercekat saat melihat Bosnya terkapar di tanah dengan kondisi yang mengenaskan.


" Bajingan kamu berani menyentuh Bos !" Wili berteriak marah.


Julian menatap keduanya, dengan kecepatannya, dia langsung menendang kaki mereka berdua hingga hancur.


" Brug


" Brugg


" Arghhhh


" Arghhhhh


Doni dan Wili berteriak Histeris ketika kedua kaki mereka menghilang dan tubuh jatuh di tanah.


" Semoga kalian menikmati kehidupan yang seperti itu " Julian menyeringai seperti psikopat saja.


Julian menghampiri Resty, dia memapahnya berdiri dan membopongnya ala Bridal.


" Ternyata kamu masih tahu warna kesukaan ku Res ?" goda Julian agar Rasty tidak tegang.


" Ih.. apaan sih Julian, kamu jahat " Resty memukul - mukul kecil dada Julian yang tanpa pakaian itu sambil wajahnya merah merona.


Julian tersenyum karena terlihat Resty sudah sedikit lebih Rileks, dia menatapnya dengan sendu, kalau saja dia tidak punya kekuatan entah bagaimana nasib Resty.


" Kita kembali ke saudari - saudari kamu yah ?" ucap Julian lembut.


Resty mengangguk lirih setelah dia berhenti memukul - mukul dada Julian yang bidang itu.


Julian dengan kecepatan sedang kembali ke tenda, karena dia tidak ingin Resty terluka karena terkena ranting pohon atau semacamnya, akibat dia menggunakan kecepatannya.


Dia meninggalkan tiga pria hina itu dengan cedera yang parah, Julian tidak peduli mereka mau hidup atau mati, yang penting sudah memberikan mereka kenangan yang menyakitkan.


Untuk pria buncit kesempatan hidupnya mungkin tidak ada, karena semua sendinya terlepas, di tambah Julian mencoblos kedua mata Pria buncit dengan ranting, walaupun hidup dia kan buta permanen, pastinya lumpuh total juga.


Sementara kedua anak buahnya juga entah bisa bertahan hidup atau tidak, karena darah mereka mengucur deras, sementara lokasi gubug tersebut ada di tengah pegunungan Ruin, jadi mustahil jika mereka di temukan langsung oleh seseorang.


Julian dan Resty sampai di tenda, para Wanita Julian yang khawatir mereka tidak bisa tidur, jadi menunggu Julian datang.


Mereka semua langsung menghampiri Resty " Resty, kamu tidak apa - apakan ?" tanya mereka bersamaan.


Resty hanya mengangguk dalam bopongan Julian, Julian menegur para Wanitanya dengan lembut " Biarkan Resty istirahat yah "

__ADS_1


Mereka semua langsung menyingkir, Rachel yang sebagai dokter ikut dengan Julian, dia juga berencana menemani Resty untuk malam ini, karena Rachel yakin mental Resty pasti sangat kacau dan dia butuh tempat untuk berbagi ketakutan nya itu.


__ADS_2