
Julian ingin menolaknya, tapi dia tidak bisa melakukannya, Yellow sudah tidak terlihat sebagai Cyborg lagi, bayangan Natali yang muncul diwajah Yellow.
Julian membalik tubuhnya, dia menatap Yellow sambil membenarkan rambut Yellow yang terurai dan menyelipkannya di atas telinga.
" Bisakah kamu memberikan aku waktu untuk berpikir, walaupun tubuhmu milik mantan istriku, tapi tetap saja kamu orang baru yang muncul di kehidupanku " ucap Julian sambil memegang pipi Yellow.
Julian tahu kalau hatinya ingin mendekap dan merasakan kehangatan pelukan Yellow, tapi dia sadar kalau Yellow bukanlah Natali. Mau tidak mau dia harus sedikit menahan diri.
Yellow tersenyum " kamu pria yang baik " ucapnya lembut sambil meninggalkan Julian dan ke ranjang untuk istirahat.
Julian merasa sangat aneh, Walaupun Rafael bilang jika Yellow adalah Cyborg, tapi dari cara dia mendekati dirinya, dia seperti manusia pada umumnya.
Julian menatap Yellow yang sudah berbaring di ranjang, ia menghela napas pergi ke sofa dan beristirahat disana.
Kedua orang tersebut tidur satu kamar, tapi berbeda tempat, bukan Julian naif, hanya saja dia tidak mau menyetubuhi tubuh Natali yang Notabenya sudah Mati.
Keduanya tertidur dengan pulas, mereka berdua baru bangun saat terdengar keributan di luar Apartemen.
" Lepaskan aku !, aku tidak mau menikah dengannya !!" suara Wanita meraung dengan lantang di luar Apartemen.
Julian langsung terbangun dari tidurnya, dia duduk dan memegang pangkal hidungnya " Siapa sih pagi - pagi seperti ini sudah ribut !" gumamnya kesal.
" Lepaskan !"
" Lepaskan aku !, aku tidak Sudi menikah denganmu Raymond !!"
Suara Wanita yang berteriak di luar Apartemen semakin keras saja, membuat Julian penasaran apa yang sedang terjadi.
Julian dengan malas membuka pintu, ketika dia keluar dari Apartemen, semua orang memandangnya, karena kegaduhan tersebut berada tepat di depan pintu Apartemennya.
Julian mengerutkan keningnya ketika melihat Larisa sedang di tarik oleh seorang pria dengan tubuh gempal, dengan beberapa Bodyguard menemaninya disana.
Larisa tidak mau menyia - nyiakan kesempatan " Julian sayang tolong aku, aku akan di bawa dia, orang aneh ini !" Larisa meminta tolong seolah Julian kekasihnya.
Julian menyipitkan matanya, dia menatap Raymond dengan tajam, Raymond yang melihat itu dia balik menatap Julian.
__ADS_1
" Brengsek !, jadi kamu pria yang berani berhubungan dengan tunanganku !!? " Raymond meraung marah ." Hajar dia !" Perintahnya pada anak buah yang sedang bersamanya.
Para Bodyguard mengangguk bersamaan, mereka langsung menghampiri Julian, Larisa yang melihat itu merasa bersalah.
" Raymond Cukup !" Ucapnya marah.
Tapi Raymond malah menyeringai " Biar kamu lihat sendiri, bagaimana nasib orang yang menentang ku !"
" Bag
" Bug
" Bag
Para Bodyguard Raymond terhempas kesatu tempat hingga mereka bertumpuk seperti sampah yang menggunung di dekat Raymond.
Tentu saja Raymond terkejut saat melihat anak buahnya bertumbangan disana.
Larisa juga melebarkan rahangnya, dia tidak menyangka jika Julian akan sekuat itu, padahal tadinya dia sangat khawatir.
Julian menghisap rokok nya kembali, kemudian dia buka suara lagi " bilang pada Ayahmu, aku Julian Lewis akan memberikan pelajaran buat kalian !"
" Plaaakk
Raymond tersungkur ke lantai saat Julian menamparnya, dua giginya terlempar keluar dari tempatnya. Julian hanya menggunakan secuil kekuatannya saja, jika dia menggunakan seluruh kekuatannya mungkin kepala Raymond akan terlepas dari tubuhnya.
Raymond menatap Julian dengan ngeri, walaupun dia tidak tahu siapa Julian Lewis, tapi dengan kekuatannya yang seperti itu, dia benar - benar di buat sangat ketakutan.
Keringat dingin mengucur deras di dahinya, tubuhnya bergetar, cairan bening dengan bau khas merembes dari celananya.
" Cih !, cepat pergi dari sini !" bentak Julian kasar.
Seketika Raymond langsung berlari dengan susah payah, sampai terjatuh berguling beberapa kali.
Selepas kepergian Raymond, Julian menatap Larisa dengan tajam " sekarang kamu telah melibatkan aku dengan masalahmu, jadi apa imbalan yang akan kamu berikan padaku ?" tanya Julian sambil mengepulkan asap rokoknya pada Larisa.
__ADS_1
Larisa baru tersadar saat asap rokok Julian menutupi wajahnya, dia mengibaskan tangannya agar Asap yang mengepul menghilang dari hadapannya.
" Aku akan memberikan apapun yang kamu mau, asalkan semua masalahku selesai " ucapnya dengan yakin.
' ck' Julian berdecak kesal. Dia mendorong Larisa hingga terhimpit di batas Apartemen, Larisa melihat ke bawah dia ketakutan, karena takut jatuh dari sana.
" Julian apa yang kamu lakukan ?" ucapnya panik sambil berpegangan pada baju Julian.
" Kamu yang menyeretku dalam masalah kamu, tapi kamu berani memberikan perintah padaku ?" Ucapnya dengan dingin.
Melihat Julian yang seperti itu Larisa ketakutan, wajahnya memucat karena dia pikir Julian pria baik - baik, tapi ternyata Julian lebih terlihat seperti Mafia saja.
" Ju..Ju..Lian, aku tidak bermaksud seperti itu, tapi aku bingung harus minta tolong dengan siapa lagi, hanya kamu satu - satunya orang yang aku yakini bisa menolongku " ucapnya terbata.
Julian membuang puntung rokok dan menginjaknya, dia berbalik badan " Masalah kamu sudah aku selesaikan, pulanglah dan beritahu keluargamu, bisnis keluarga orang yang mengancammu itu sudah hancur !" ucapnya santai sambil meninggalkan Larisa.
Larisa tidak tahu apa maksud Julian, dia tertegun disana sambil menatap kepergian Julian yang memasuki Apartemennya.
Julian langsung menghubungi Rafael " Hancurkan bisanis keluarga bocah tadi, jadikan semua aset mereka menjadi aset J -Aliance Foundation !"
" Dimengerti Tuan !" Rafael yang sudah lama tidak bermain - main dengan para pebisnis, akhirnya dia mempunyai waktu lagi untuk itu, karena beberapa waktu belakangan dia disibukkan dengan masalah para mutan.
" Siapa yang kamu temui tadi Julian " Yellow yang sudah terbangun dari tidurnya bertanya.
Julian tersenyum " Hanya orang bodoh yang kebetulan lewat saja, kamu mandilah, setelah itu kita pergi dari sini !"
Yellow hanya mengangguk saja, dia pergi ke kamar mandi, sementara itu Julian memainkan ponselnya untuk menghubungi Darius.
Di Tempat Keluarga Weil, Raymond sedang merengek pada Ayahnya, dia memberitahu Ayahnya kalau telah di hajar oleh Julian, tentu saja dia juga membumbui ucapannya dengan sangat menyedihkan, sehingga Ayahnya sangat marah pada Julian.
" Bajingan !, cepat cari tahu siapa Julian Lewis dan segera habisi dia !" Reinhart meraung marah.
Tapi anak buahnya belum pergi, Asistennya dengan tergopoh-gopoh masuk kedalam ruangannya.
Asisten Reinhart terlihat sangat cemas dan Khawatir, seolah ada bencana besar saja yang sedang datang menyerang keluarga Weil.
__ADS_1