
Julian dan para Jendral sedang berbincang di Mansionnya. Para wanita Julian sedang bekerja keras demi menunjukan pada Julian siapa yang terbaik di antara mereka.
Sebenarnya mereka sudah sepakat jika pencapaian bukanlah prioritas mutlak, karena sejatinya mereka sudah memiliki Julian secara bersama.
Tujuan mereka membuat pencapaian terbaik, agar bisa memicu semangat mereka agar semakin di sayangi Julian, padahal mereka tidak perlu seperti itu saja Julian sudah menyayanginya.
Di kantor Alina, Asistennya mengetuk pintu. Karena kebetulan Brown sedang membuat kopi, dia tidak melihat kejadian yang akan terjadi.
" Tok
" Tok
" Tok
" Nona Rose ada tamu untuk anda " Yola bersuara dari balik pintu.
" Suruh masuk Yola " Alina masih sibuk dengan berkas - berkasnya.
Yola membukakan pintu untuk tamu Alina yang ternyata Ayah dan Kakak tiri Alina.
Colin dan Feran terkejut saat melihat Alina yang duduk di Kur si CEO, sementara Alina masih belum melihat siapa yanga datang.
" Alina !" Tegur Colin.
Alina mendongakkan kepalanya, mata Alina membelalak lebar " A..ayah !"
" Brengsek !, pantas saja Rose Luxury tersaingi, ternyata kamu biang keladinya !" Feran langsung berteriak marah.
Alina mengerutkan keningnya " Jangan menuduh sembarangan Feran !, aku disini bekerja bukan untuk menghancurkan perusahaan Ayah !"
" Halah dasar ****** !, kamu itu sama saja dengan ibumu yang selalu bikin repot Ayah !" Feran menunjuk wajah Alina.
" Cukup Feran !, kamu boleh menghinaku tapi jangan menghina ibuku !" Alina berteriak marah.
" Diam kamu Alina !" Colin membentak Alina.
Yola hanya bisa mematung di tempat, dia kemudian twringat dengan Brown dan langsung mencarinya. Karena dia tidak berani melerai pertengkaran keluarga tersebut.
" Ayah kamu ..." Air mata Alina merembes menetes keluar dari pelupuk matanya.
" Hahaha.... Kamu pikir Ayah akan membelamu ?, Ayah tahu mana anak yang pantas di bela dan tidak !" Feran mau menjambak rambut Alina. Tapi Twis Robot penjaga Alina langsung mencekal lengannya dan melemparkan feran.
" Wuzz
" Braaakk
__ADS_1
" Arggghh
" Tanganku !" Feran berteriak histeris saat melihat tangannya tidak bisa digerakan alias patah dari persendiannya.
Colin tidak menyadari hal tersebut karena kejadian itu sangat cepat. Dia baru tersadar saat mendengar jeritan Feran.
Colin menoleh ke arah Feran, dia terkejut melihat Feran yang sedang terkapar dia sangat marah.
" Bajingan !, beraninya ka..mu ...." Suara Colin tercekat di tenggorokan saat melihat Twis yang tingginya hampir dua meter itu.
' glek ' Colin langsung menelan ludah, tapi Twis mencengkram kepalanya dan melemparkan ke arah tembok.
" Wuz
" Braakk
Seketika Colin langsung pingsan, pasalnya dia sudah seumuran dengan Brown, jadi dia sudah pasti akan langsung pingsan jika diberi efek kejut seperti itu.
Brown datang dengan tergesa - gesa " Nona Alin..a ka..mu tidak apa - apa ?" Brown menghela napas lega setelah melihat Twis.
Dia bergegas karena ikut panik melihat Yola yang begitu panik. Dia lupa jika Julian sudah memerintahkan Twis untuk menjaga Alina.
Brown melihat kedua orang yang sudah terkapar, yang satu pingsan yang satunya lagi sedang merintih kesakitan. Ia menyeringai licik dan mendekati Feran.
Brow sangat senang karena sebenarnya dari dulu ingin menghajar mereka, tapi alina selalu menghalanginya, jadi Brown hanya bisa menahan amarahnya.
Alina menghela napas, dia duduk di kursinya kembali " Paman Brown bawa mereka pergi dari sini, aku sudah tidak mau melihat mereka lagi !"
Seringai tipis muncul di sudut bibir Brown " kamu dengar itu anak manja "
" Bag
" Bug
" Bag
" Bug
Brown memukuli Feran seperi samsak tinju, Feran hanya bisa menangis dan meminta ampun saja. Alina menegur Brown, dan dia pun langsung menyeret mereka berdua keluar dari kantor Alina.
Semua karyawan terkejut, termasuk Yola yang baru sampai mengejar Brown. Kondisi Feran dan Colin sangat memprihatinkan sampai - sampai para karyawan Alina begidik ngeri.
Note : Para Robot Julian bisa bersembunyi dimana saja, setelah Darius mendapat sempel E6. Artinya semua robot Julian bisa berkamuflase.
Sementara itu di tempat Okta, dia sedang memimpin rapat Hotel dan pariwisatanya yang semakin berkembang luar biasa.
__ADS_1
Sampai - sampai Noah Campbel pun menyerahkan semua keputusan pada Okta. Karena Noah sekarang sudah tahu kapasitas Okta.
Okta dan timnya sedang berusaha membuat sebuah Obyek pariwisata di kota Galos, Karena disana ada sebuah pegunungan yang indah dan hutan kecil yang mengelilinginya. Sayanganya karena jalanan menuju tempat tersebut tidak ada sehingga tempat itu tak terjamah.
Untuk itulah Okta berencana membuka jalan baru, bernegosiasi dengan warga setempat agar ekonomi mereka juga ikut naik.
Semua tim Okta setuju, mereka berencana akan langsung menggarap obyek pariwisata baru di tempat terpencil itu. Untuk menunjukkan perhatian mereka pada rakyat kecil.
Di tempat Celia, dia sedang membuka cabang ketiganya, kali ini di kota Vador dekat dengan Vila Liyana yang dibelikan Julian.
Celia juga membuka Kafe di tempat tersebut atas rekomendasi dari Liyana. Karena menurut Liyana disana tempat potensial.
Celia tidak memberitahu Julian jika dia sudah membuka dua cabang, pasalnya Celia berpikir itu semua belum ada apa - apanya jika di bandingkan dengan Julian.
Sedangkan di tempat Rachel, dia seperti biasa di sibukkan dengan Pasien - pasien sakit Kronis. Padahal Julian sudah melaranganya bekerja lapangan tapi Rachel tetap saja menolaknya.
Entah kenapa jika berhubungan dengan nyawa seseorang Rachel seolah tidak peduli dengan nyawanya sendiri.
Sementara itu di rumah Resty, Tod Stark yang perusahaannya terancam bangkrut akibat sutradara yang dia gunakan akan melecehkan Resty. Dia setiap hari datang ke rumah Resty dan memohon untuk menyelematkan karirnya.
Tapi Resty tidak menggubrisnya, dia lebih memilih menghindari Tod daripada harus menemuinya.
...***...
Di mansion Julian.
Julian mau mengantar pulang Walcot dan Jacob, setelah mereka mengobrol cukup banyak dan Walcot dengan Jacob tahu apa yang di inginkan Julian.
" Semoga mimpi ini akan jadi kenyataan Julian " Jacob bersalaman dengan Julian.
" Ya kalau kita tidak terlelap terlalu lama " Walcot giliran berganti menjabat tangan Julian.
" Terimakasih Tuan Dail, Tuan Turner, dengan dukungan kalian aku yakin cepat atau lambat mimpi ini akan jadi kenyataan " Ucap Julian yakin.
Walcot dan Jacob mengangguk bersama, baru mereka berdua menoleh, terlihat seorang gadis cantik membawa koper dorong sedang tertegun disana.
Walcot dan Jacob saling menatap mereka berdua tersenyum kecut, menoleh ke arah Julian dan bertanya dengan kompak " Apakah dia juga wanitamu ?" mereka menunjuk gadis itu secara bersamaan.
Julian mengerutkan keningnya, dia kemudian melihat siapa yang di maksud kedua pria tua itu " Seila !" ucapnya terkejut.
Jacob menghela napas " Sudahlah, aku tidak mau melihat masa muda lagi !, aku pergi Julian !"
Walcot juga menghela napas " Kalau aku disini terus sepertinya umurku akan terus berkurang !, aku juga pergi Julian !"
Kedua Pria tua itu langsung bergegas ke Mobil dan meninggalkan Mansion Julian dengan perasaan Campur aduk.
__ADS_1