
Julian menaikkan Atribut Liyana, Rosi dan Alina, mereka langsung tersadar saat Julian sudah menaikkan atribut mereka.
Mereka sama dengan Rachel dan Okta ketika bangun tubuh mereka di penuhi lendir dan keringat yang baunya busuk.
Di saat yang sama di kamar Rachel, Okta sedang terkejut dengan wajahnya sendiri yang tiba - tiba berubah menjadi sangat cantik.
" Apa yang terjadi padaku ?, kenapa bisa seperti ini ?" Okta sampai melangkah mundur dari cermin.
" Rachel, Celia ! Ini bukan mimpi kan ?" tanyanya pada kedua saudarinya yang sedang duduk di ranjang Rachel.
" Coba saja kamu tampar diri kamu sendiri, kalau sakit berarti bukan mimpi, hihihi... " Celia terkikik geli, sedangkan Rachel hanya tersenyum saja.
" Plaakk
" Awww !" Pekik Okta kesakitan karena dia menampar pipinya sendiri dengan keras.
" Astaga Okta ! Apa yang kamu lakukan !" Celia mendekati Okta yang benar-benar menampar dirinya sendiri.
" Tadi kamu bilang suruh menampar diri sendiri " ucapnya sendu.
Celia menghela napas " Aku cuma bercanda Okta "
" Jadi ini nyata Cel ?" Okta bertanya sambil memegangi pipinya.
Celia mengangguk " tentu saja ini nyata, lihatlah, Rachel juga sama seperti mu bukan ? Sudah pakai ini dan kita turun ke bawah !" Celia menyerahkan pakaiannya.
Walaupun masih belum tahu apa yang terjadi, Okta hanya bisa mengangguk patuh dan memakai pakaiannya kembali.
Sementara Liyana itu Liyana, Alina dan Rosi yang sudah berada di kamarnya masing-masing, karena disuruh Julian untuk membersihkan diri, mereka semua terkejut saat melihat wajah mereka di cermin, ketiganya sama seperti Rachel dan Okta yang tidak percaya kalau bentuk tubuh dan wajahnya berubah.
***
Di Aula Julian sedang kebingungan " Sial ! aku lupa mereka belum menjadi Ultimate Harem ! Bagaimana caranya aku bisa menyembuhkan mereka berdua ?!"
Julian menatap Larisa dan Seila yang memang belum menjadi Ultimate Haremnya, itu artinya System tidak bisa membantu sama sekali.
" Julian ada apa ?" Yellow yang sudah kembali dari tempat Darius sudah kembali kesana dan menegurnya.
__ADS_1
Julian terlihat tidak berdaya " aku tidak bisa menyembuhkan mereka berdua "
" Apa maksud kamu Julian ?" Celia, Rachel dan Okta yang mendengar perkataan Julian, mereka langsung bertanya saat sudah sampai di Aula.
Julian bingung mau menjelaskan apa, tapi sedetik kemudian dia memiliki ide " sebenarnya aku menggunakan kekuatan spiritual ku yang sudah aku latih lama dan mentransfernya ke kalian, tapi kekuatan ku sudah tidak cukup untuk menyembuhkan mereka berdua " ucapnya merasa sedih.
" Maaf aku terpaksa berbohong dengan kalian, karena untuk saat ini aku tidak ingin ada yang tahu mengenai System " uacpnya dalam hati.
" Julian kamu tidak berbohong kan ?" tanya Celia.
Julian menghela napas " untuk apa aku berbohong, kalian lihat sendiri bukan, coba tanya Rachel apa tindakanku bisa di jelaskan dengan ilmu medis ?"
Seketika Okta dan Celia menoleh ke arah Rachel " Julian benar, tidak ada ilmu medis yang bisa memperbaiki tubuh dan wajah manusia dengan instan, kalau ada itu dengan operasi tapi pasti butuh waktu untuk membuatnya sempurna "
Celia dan Okta mengangguk mengerti, mereka kembali menatap Julian yang sedang tidak berdaya memandangi Larisa dan Seila.
" Julian, kamu sudah berusaha semampu kamu, kalau bisa aku ingin berbagi energi spiritual dengan mereka berdua " ucap Celia sambil mengusap punggung Julian.
" Aku juga Julian " Okta menimpali, Rachel juga memiliki pemikiran yang sama dengan mereka berdua.
Mereka bertiga menelan bulat - bulat kebohongan Julian, karena sudah menjadi Ultimate Harem, tentu saja mereka akan langsung percaya dengan apapun yang Julian ucapkan dari mulutnya.
Alina, Rosi dan Liyana dengan terburu-buru turun dari kamar mereka masing-masing saat sudah mengenakan pakaian dan langsung ke tempat Julian.
" Julian ! apa yang terjadi dengan kami ?" tanya Alina mewakili Rosi dan Alina, karena mereka sempat berpapasan di lantai atas saat mau turun ke bawah.
" Kalian juga !" Okta terkejut saat melihat saudari - saudarinya juga bertambah cantik, apa lagi Rosi pakaiannya terlihat sangat seksi hingga lekuk tubuhnya terlihat menonjol, sedangkan Liyana yang memang menyukai kaos oblong, dia tampak biasa saja. Sementara Alina yang memang bentuk tubuhnya sudah proporsional jadi pakaiannya tidak berpengaruh padanya.
" Ya ampun kamu Okta ?" Rosi menatap Okta dari atas sampai bawah, wanita yang penampilannya paling biasa di antara wanita Julian, kini sejajar dengan mereka.
Mereka semua saling memandang satu sama lain dan saling mengagumi.
" Ini bukan waktunya untuk terkejut, kalian temui orang tua kalian dulu agar mereka tidak khawatir, aku akan mencari cara menyembuhkan Larisa dan Seila !" tegur Julian pada semua Wanitanya.
Mereka semua langsung ke luar Mansion dan menemui keluarga masing-masing.
Untuk keluarga Larisa dan Seila memang tidak datang, karena keluarga mereka ada di luar Negeri.
__ADS_1
Julian juga tidak memberitahu keluarga Seila dan Larisa, karena dia pikir malah akan membuat runyam masalah, jadi lebih baik dia menyelesaikan masalahnya terlebih dahulu.
" Yellow, kamu bantu bawa Seila ke Lab Kak Darius, aku akan menggendong Larisa !" Julian memberikan perintah.
Yellow dengan patuh menuruti perintah Julian, dia langsung menggendong Seila ke tempat Darius, mengikuti Julian yang menggendong Larisa.
Sementara para Wanita Julian yang sudah di sembuhkan, mereka menemui keluarganya masing-masing, hanya Celia dan Yellow saja yang ikut Julian ke Lab Darius.
Beberapa menit kemudian mereka sampai di Lab Darius.
Julian dan Yellow meletakkan mereka berdua di ranjang penelitian, terlihat Kondisi mereka semakin melemah saja, sehingga Julian semakin khawatir.
" Kakak ! Bagaimana hasilnya ?" tanya Julian serius.
Darius yang masih meneliti serangga micro tersebut mengangkat tangannya menyuruh Julian diam.
Julian terus menatap kedua Wanitanya yang masih terbaring lemah " Kalian bertahanlah ! Aku pasti akan menyelamatkan kalian !"
Julian mengepalkan tangannya, meski dia telah menyelamatkan sebagian lebih para wanitanya, tapi dia akan kecewa kalau sampai keduanya tidak bisa terselamatkan.
Darius terlihat sudah selesai meneliti serangga micro tersebut, dia menghela napas " Julian nampaknya serangga ini juga sebuah hasil genetik "
" Sudah kuduga !" geramnya kesal.
" Kak apa ada cara untuk membunuh serangga itu ?" tanya Julian lagi.
Darius menggeleng " Entahlah... masih perlu banyak penelitian untuk memastikannya "
" Julian, bukankah kamu berhasil menyelematkan yang lain ? Kenapa mereka berdua tidak bisa ?" Darius malah balik bertanya.
" Aku kehabisan kekuatan kak " jawabnya tidak berdaya.
Darius mengerutkan keningnya " Apa maksudmu kehabisan kekuatan Julian ?!"
" Sudahlah kak... jangan bahas itu, cepat cara cara agar mereka terselamatkan !" jawabnya mengalihkan pembicaraan.
Darius menghela napas, dia juga tahu kalau bukan waktunya untuk menanyakan hal tersebut, yang terpenting kali ini harus menyelamatkan mereka terlebih dahulu.
__ADS_1
Darius kembali meneliti serangga Micro tersebut, karena dia yakin kalau pasti ada cara untuk menyembuhkan mereka berdua.