System Harem

System Harem
Semua Target Harem Terlihat Rukun


__ADS_3

Julian memegang pipinya, siapa yang menyangka jika Wanita secantik Alina akan jatuh cinta pada Julian, padahal Julian seorang pecundang yang di buang oleh istrinya.


Alina terlihat sangat senang, dia menatap kalung pemberian Julian dengan tersenyum - senyum sendiri, tindakannya mengecup Pipi Julian merupakan spontanitas.


Sementara itu di Joyce Grup, Rocks sedang duduk dengan santainya dia kursi ruang rapat, tempat CEO seharusnya duduk.


Terlihat dua orang yang tersungkur di lantai dan para petinggi Joyce Grup yang berdiri sembari menundukkan kepala karena ketakutan.


Rocks menghisap rokoknya, kepulan asap keluar dari mulut dan hidungnya.


Rock terlihat sangat santai, kakinya dia taruh di meja rapat sembari bersender di kursi.


Dusan dan Ayahnya yang masih sadar walau sudah babak belur, mereka berdua menatap Rocks dengan penuh tanda tanya.


Karena tidak ada angin tidak ada hujan, tiba - tiba Rocks dan anak buahnya langsung menghajar mereka berdua ketika sedang rapat bulanan.


Dahlan Joyce, Ayah Dusan buka suara " Tu..Tuan Roks, apa salah saya ?" ucap Dahlan penasaran.


Roks menyipitkan matanya " Kenapa kamu tidak tanya anakmu Anjing kecil !" ucap Roks ketus.


Dahlan menoleh ke arah Dusan, dia menatap tajam anaknya " Apa yang sebenarnya sudah kamu lakukan Dusan !!" teriak Dahlan dengan sisa - sisa tenaganya.


" Ayah, aku tidak melakukan apapun !, ini semua pasti salah paham !" Dusan mengelak.


" Braaakkkkk !!!" Roks menggebrak meja dan berdiri.


Dahlan dan Dusan kaget, begitu juga semua orang yang ada di dalam ruangan tersebut, karena suara gebrakan Roks sangat kencang.


" Salah paham katamu !!" Roks menghampiri Dusan, dia kemudian menjambak rambut Dusan.


Roks kembali buka suara " Dengar baik - baik bajingan !!, gara - gara kamu aku hampir saja di bunuh Tuan Dark !! "


Dahlan yang Notabenya tahu siapa Dark, tubuhnya begidik ngeri, dia menatap anaknya dengan penuh amarah, pasalnya Roks tidak akan semarah itu jika hanya kesalahan kecil saja yang dibuat Dusan, tapi nampaknya masalah Dusan sangat besar karena melibatkan Dark.


Dusan sangat ketakutan sembari menanhan sakit " T..Tuan Roks, saya benar - benar tidak mengerti apa maksud anda "


Roks menghempaskan Dusan, hingga dia terjatuh lagi di lantai " Baiklah akan kuberitahu kamu agar kamu mati tanpa rasa penasaran !, Orang yang kamu incar adalah kekasih Nona Alina !"


Dusan tidak begitu tahu kenapa dengan Alina, Karena menurutnya Alina hanya anak orang kaya saja, tapi apa hubungannya dengan kemarahan Roks.

__ADS_1


Tapi Dahlan yang tahu jika Alina di jaga langsung Oleh Brown/Dark, dia langsung bangun dengan tergopoh - gopoh.


" Buk


" Buk


" Buk


" Dasar anak sialan !!, bajingan !!, kenapa kamu tidak melihat dulu siapa lawan kamu bodoh !, Bangsat !!!" Dahlan menendangi Dusan dengan tenaga terakhirnya.


" Arggghhh !, Ayah hentikan !, maafkan aku, aku tidak tahu ...."


" Buk


" Buk


" Buk


Dusan tidak diberikean kesempatan bicara, Dahlan terus saja menendangi anaknya seperti menendang samsak tinju saja.


Dahlan melakukan hal tersebut karena dia sadar jika anaknya sudah melakukan kesalahan fatal, sebelum dia di bunuh Roks, setidaknya dia ingin melampiaskan emosinya terlebih dahulu, pasalnya dia sudah tahu jika nyawa dia dan anaknya sudah tidak terselamatkan lagi.


...***...


Di pusat perbelanjaan, Alina sudah kembali bersama Julian ketempat bermain, raut wajah Alina terlihat sangat ceria.


Brown yang melihat hal tersebut tersenyum, dia yakin jika Julian sudah memberikan sesuatu pada Alina, sehingga membuatnya seperti itu.


Brown melihat tangan Alina yang memegang sebuah kalung, dia mengangguk mengerti, ternyata Julian memberikan Alina sebuah kalung.


Julian duduk disamping Brown lagi, sementara Alina menghampiri Wanita Julian yang lain, karena Alina tidak mau wanita yang lain curiga padanya karena telah pergi berdua bersama Julian.


" Alin !, kamu habis kemana sih ?" tanya Rosi, yang membuat Alina terkejut.


" Eh... A..aku habis ke kamar mandi tadi !" Jawab Alina gugup.


" Ohhhhh " Rosi percaya begitu saja.


Alina menghela napas lega " Syukurlah Rosi percaya padaku " Gumam Alina lirih.

__ADS_1


Sementara itu Brown yang sedang duduk bersama Julian buka suara " Tuan Lewis, ternyata kamu sangat peka pada Wanita "


" Kamu ini terlalu banyak memuji aku Tuan Brown " ucap Julian sopan.


Brown menggelengkan kepalanya " Tuan Lewis, apa kamu tahu kenapa Nona Alina selama ini tidak pernah memakai kalung karena apa ?" tanya Brown pada Julian.


Julian menggelengkan kepalanya " tunggu dulu, jangan bilang jika Alina Alergi dengan perhiasan ?" tanya Julian khawatir.


" Hahahaha, Bukan seperti itu Tuan Lewis " Brown terkekeh.


Julian mengerutkan keningnya " Terus ?"


" Nona Alina tidak pernah memakai perhiasan karena dia ingin yang memakaikan perhiasan padanya adalah orang yang dia sukai " Brown menatap Julian sembari tersenyum.


Tentu saja Julian terkejut, pasalnya dia hanya membeli perhiasan termahal untuk mendapatkan uang, dia tidak punya maksud yang lain.


Tapi siapa yang menyangka jika Dewa keberuntungan ada di pihaknya, dengan dia membeli Perhiasan termahal tersebut malah membuat Alina sangat senang.


Karena hal tersebut juga Faktor Daya Tarik Alina meningkat dua kali, karena Alina sebenarnya sedang mengharapkan Julian memakaikan Kalung Safir Diamond padanya.


Julian di buat bingung sendiri dengan tindakkannya, karena jika dia berbuat sesuatu untuk target haremnya, tanpa sengaja dia membuat sebuah tindakkan yang di luar dugaan.


Julian tersenyum kecut " Baguslah kalau dia suka dengan barang yang aku beri "


Ketika hari sudah siang, Julian membawa ke enam Wanitanya ke sebuah Restoran didalam pusat perbelanjaan.


Tanpa di duga - duga, semua target Harem Julian terlihat sudah sangat akrab, tatapan mereka tidak seperti tatapan awal mereka bertemu, yang menginginkan sebuah perang dingin satu sama lain.


Sekarang mereka seperti sudah saling menerima saja, hanya Rosi yang terlihat masih sedikit enggan untuk bercengkrama dengan mereka, pasalnya di antara mereka hanya Rosi yang daya tariknya masih rendah.


Ketika Julian sedang asyik memperhatikan mereka, seorang pelayan Restoran tersebut membawakan pesanan mereka.


Julian tersenyum ramah ketika Makanan sedang disajikan di hadapannya " Terimakasih No...." Julian menghentikan ucapannya ketika melihat pelayan tersebut yang Notabenya pelayan tersebut orang yang dikenalnya.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2