
Julian membopong Natali untuk kembali ke Mobilnya dan membawanya pulang, di Hutan Julian tanpa belas kasihan membunuh seluruh hewan yang mencoba menyerangnya tidak seperti saat dia memasuki hutan.
Ketika sampai di Mobil, Julian menaruh Natali di jok belakang, ia menidurkannya disana, Julian mengusap pipi Natali yang sudah terlihat pucat itu. Ia kemudian bergegas Menyetir mobilnya.
Sepanjang perjalanan Julian merutuki kesalahannya karena tidak bisa melindungi Natali.
Dia berteriak - teriak seperti orang gila ketika membawa Mobilnya.
Mobil terus melaju dengan kecepatan tinggi, Julian tidak memperdulikan apapun yang ada didepannya. Yang dia pikirkan sekarang berharap Darius memiliki cara untuk menghidupkan kembali Natali.
Karena kalut Julian tidak berpikir kalau Darius bukanlah Tuhan yang bisa menghidupkan dan mematikan orang begitu saja, Darius hanyalah manusia biasa yang diberi kecerdasan saja seperti dirinya, jadi mau dia berusaha seperti apapun, mustahil untuk menghidupkan kembali Natali.
Mobil Julian sampai di Mansionnya ketika hari menjelang malam, dia bergegas ke tempat Darius.
" Kakak !, cepat tolong Natali !" teriakan Julian sangat keras karena menggunakan Vitalitasnya sehingga membuat seluruh penghuni Mansion mendengar.
Para Wanita Mulai berbondong - bondong ketempat Darius, karena Julian membawanya kesana.
Darius yang sedang berada di lab barunya itu terkejut saat melihat Julian membawa Natali yang sudah memucat.
" Kenapa dengan Natali Julian ?!" tanyanya langsung.
" Cepat tolong Natali kak " Julian meletakkan Natali di ranjang tempat penelitian, tanpa menjawab pertanyaan Darius.
Darius mengangguk mengerti, dia langsung mencoba memeriksa Natali, tapi ketika Darius melihat lubang di dada Natali yang mengarah ke jantungnya, Darius langsung menghentikan pemeriksaannya karena dia tahu kalau Natali sudah tidak bisa diselamatkan.
" Julian sepertinya Natali sudah tidak bisa diselamatkan lagi " ucapnya sendu.
" Tidak kakak, aku yakin kamu bisa menyelamatkannya, kakak memiliki Serum regenerasi bukan, pasti bisa dengan itu kak " Julian merengek seperti anak kecil.
Darius hanya menggelengkan kepalanya, Julian masih tidak percaya " Tidak mungkin kak, Natali pasti bisa diselamatkan bukan, kak sela..."
" Plaakkk
" Sadarlah Julian !, aku bukan tuhan !, seharusnya kamu tahu itu !" Darius menampar Julian dengan sangat keras.
Para Wanita Julian terkejut saat melihat pertengkaran kakak adik tersebut, Tapi ketika mereka melihat Natali yang terbaring lemah di ranjang penelitian, mereka semua menutupi mulutnya dengan tangan karena tidak percaya kalau Natali yang memiliki kekuatan Serum akan mati begitu saja.
__ADS_1
" Brugg
Julian ambruk di lantai sambil menitihkan air matanya " Selamatkan Natali kak .."
Sekuat apapun Julian jiwanya masihlah Manusia biasa, walaupun kekuatannya seperti Dewa sekalipun dia masih memiliki kepribadian Manusia, jadi wajar kalau Julian sangat menyesal atas kematian Natali.
" Julian !" Celia yang lebih dulu memeluk Julian yang sedang bersimpuh di lantai. Baru kemudian Wanita yang lain juga mendekati Julian dan memeluknya.
Susan mendekati Darius, dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi, karena dia datang paling akhir " Apa yang terjadi Darius ?"
Darius menghampiri Natali, di ikuti dengan Susan yang langsung menutup mulutnya karena tidak percaya " Natali, apa yang terjadi denganmu Natali ?" Susan menggoyangkan tubuh Natali yang sudah tidak bergerak itu.
" Darius kenapa dengan Natali ?" Air mata Susan juga mulai menetes, Pasalnya selama ini Natali yang melindunginya dan sudah dia anggap seperti adiknya sendiri.
Darius memegang bahu Susan dan menggelengkan kepalanya " Sudah Susan, Natali sudah tenang di alam sana, kamu tidak perlu seperti ini "
Tangis Susan pun pecah di pelukan Darius, tempat tersebut menjadi sangat pilu atas kepergian Natali.
Mungkin jika Darius dan Julian bekerja sama untuk menghidupkan kembali Natali sebagai robot itu bisa saja dengan kecerdasan mereka berdua.
Mereka pun langsung membersihkan tubuh Natali dan menaruhnya di peti mati untuk dikebumikan ke esokan harinya karena hari sudah malam.
Julian berlutut dihadapan peti Mati Natali sepanjang malam tanpa bergerak sedikitpun dari sana, Walaupun para wanitanya merayu Julian untuk beristirahat terlebih dahulu.
Julian kekeh tetap berada disana sambil berlutut dengan pakaian yang compang - camping akibat pertarungannya dengan Profesor C5 dan anak buahnya.
Para wanita Julian dengan telaten membuka baju Julian dan membersihkan tubuhnya, lalu mengenakan Julian jas Hitam yang baru. Walau tidak mengganti Celananya, setidaknya Julian sudah memakai pakaian yang layak.
Mereka semua tidak ingin Julian terlihat sangat memprihatinkan, karena hati mereka juga tersayat kalau Julian terluka seperti itu.
Julian seperti patung di sana, dia berlutut sampai matahari terbit. Tanpa bicara sepatah katapun.
Hingga akhirnya dia mau berdiri ketika Peti Mati akan di bawa ke pemakaman kota.
Suasana duka semakin terasa saat Vladimir dan anak buahnya yang diberitahu Susan datang melayat, begitu juga dua Jendral tua yang sudah menjadi bagian dari Julian.
Mereka semua datang untuk mengantar Natali ketempat peristirahatan terakhirnya.
__ADS_1
" Julian aku turut berdukacita " Walcot menepuk bahu Julian.
Jacob, Furi, Samanta dan yang lainnya juga mengucapkan belasungkawa pada Julian, tapi Julian tidak menjawab dia masih diam seribu bahasa.
Peti mati dibawa dalam Mobil Ambulan dengan diiringi banyak Polisi dan Militer membuat semua warga yang menyaksikan hal itu kebingungan saat melihat iring - iringan Mobil yang sangat banyak.
" Apa ada pejabat negara yang Mati ?"
" Entahlah, aku tidak mendengar beritanya "
" Siapa yah yang Mati, kenapa begitu banyak Polisi dan Militer yang mengiringinya ?"
Mereka semua bertanya - tanya siapa yang telah tiada, pasalnya jika ada pejabat negara yang Mati pasti beritanya akan sangat heboh, tapi ini tidak ada berita sama sekali membuat para warga kebingungan.
Alasan kenapa Jendral Militer Jacob dan Jendral kepolisian Walcot mengiringi Natali, selain mereka kenalan Julian, mereka juga tahu kalau Natali berperan penting atas kedamaian Anarka. Jadi wajar kalau Natali diberi penghormatan terakhir.
Mobil Jenasah sampai di pemakaman dengan para Militer dan Kepolisian yang berjejer rapi menyambut kedatangan Peti yang di gotong oleh para anak buah Vladimir.
Julian mengikuti dibelakang Peti Mati dengan dipapah oleh Alina dan Rachel, sementara wanita yang lainnya mengikuti dari belakang.
Tatapan Julian selalu tertuju pada peti Mati Natali, dia seolah masih tidak rela dengan kepergian Natali.
Sesampainya di liang lahat, Peti Natali di turunkan, Julian berlutut disana menyaksikan peti mati Natali mulai di pendam dalam tanah.
Ingin berteriak sekencang - kencangnya untuk melepaskan segala kegundahan hatinya, tapi dia tidak mampu.
Suaranya tercekat di leher, tenggorokannya terasa sangat kering tak mampu untuk bersuara, dia sebenarnya ingin menangis dan meneriakkan nama Natali dengan sekencang mungkin.
Orang yang pernah dia sayangi, orang yang pernah dia cintai dan orang yang pernah menyakitinya. kini telah pergi untuk selamanya.
Sakit jelas terasa dalam hati Julian, perih begitu menyayat perasaan Julian. Kehidupan yang mereka lalui dulu mulai teringat jelas.
Masa - masa dia mengagungkan Natali, Oh..ingin rasanya dia kembali di masa itu, masa dimana dia tidak peduli jika disakitinya terus - menerus tapi dia abaikan karena perasaannya begitu tulus.
Sampai kapanpun dia akan mengenang masa itu, masa yang tidak mungkin bisa di ulang kembali.
Penyesalannya mungkin tidak di dengar Natali, Jika dia bisa mengucapkan satu kalimat terakhir disaat dirinya akan pergi mungkin dia akan bilang " Aku Mencintaimu Natali "
__ADS_1