System Harem

System Harem
Naif Sesaat


__ADS_3

Julian akhirnya menyetujui menginap dirumah Rosi.


Rosi sangat senang karena Julian mau menginap, pikirannya langsung kemana - mana, dia sudah tidak sabar menyelinap ke rumah Julian.


Julian yang melihat Rosi senyum - senyum sendiri, dia mengerutkan keningnya karena merasa merinding melihat Rosi yang seperti itu.


Rosi kemudian mengantarkan Julian ke kamarnya " Julian, maaf hanya ada kamar sederhana disini, kamu tidak apa - apakan ?"


Rosi mengatakan hal tersebut karena dia pikir jika Julian terbiasa tidur di kamar yang mewah, dia tidak tahu jangankan kamar seperti itu yang Notabenya cukup besar, dirumahnya yang kecil saja dulu ketika dengan Natali dia cukup senang.


Julian sebenarnya bukan irang yang pemilih, asalkan bisa tidur, dia tidak peduli dimana tempatnya dia tidur.


Julian berbaring di di kamar sambil menatap langit - langit kamar, dia kemudian membatin " Ah... apakah aku terlalu senang hidup seperti ini ?, kenapa aku yang sekarang jadi begini ?"


Julian mulai sadar jika dirinya seolah mempermainkan wanita, mungkin karena melihat Walcot yang begitu menyayangi Rosi, jadi hatinya mulai tergerak jika ada yang salah dengan dirinya.


Julian menghela napas panjang, tiba - tiba Rafael bicara melalui ponselnya " Tuan, anda tidak salah, toh yang menyerahkan diri mereka sendiri, jadi menurut saya itu sudah biasa "


Julian mengerutkan keningnya " Kamu tahu apa Rafael ?, hati manusia itu bisa berubah kapan saja tanpa ada yang bisa menebak apakah mereka sedang bahagia atau sedang sedih "


Rafael menjawab lagi " bukankah semuanya sama saja ?, walaupun manusia sedang sedih asalkan ada sesuatu pemicu yang bisa membuat manusia itu bahagia, pasti mereka akan cepat melupakan kesedihannya, begitu juga dengan anda !"


Julian mengernyitkan dahinya, dia tidak menyangka jika akan diceramahi oleh Ai buatannya.


Tapi jika di cerna lagi ucapan Rafael ada benarnya, karena Julian juga pernah merasakan hal tersebut, Awalnya dia sangat frustasi tapi setelah dia mendapatkan System dia cepat melupakan frustasinya.


Saat Julian akan berbicara lagi pada Rafael, tiba - tiba pintu diketuk.


" Tok


" Tok


" Tok


Julian langsung beranjak dari tempat tidurnya, dia dengan malas langsung menghampiri pintu.


Julian melihat Rosi dengan pakaian tidurnya, dia bertanya " Ada apa Ros ?" tanya Julian lembut.


" Julian bolehkah aku tidur denganmu ?" ucap Rosi genit.


Julian menghela napas " Ros, aku sepertinya tidak enak badan, lagi pula ini juga rumah kamu, aku tidak enak jika Ayah kamu melihatnya, lebih baik kita tidur masing - masing saja oke !" Setelah mengatakan itu Julian langsung masuk ke kamar dan menutup Pintu.

__ADS_1


Rosi tercengang karena Julian tidak mau menerimanya, dia sedikit kesal, tapi dia juga sadar jika ucapan Julian ada benarnya.


Rosi dengan Lesu kembali ke kamarnya, mungkin dia akan melepaskan hasratnya dengan mainan kesayangannya.


Setelah mengobrol dengan Rafael, Julian sedikit menimbang - nimbang lagi saat dia ingin berhubungan badan dengan wanita.


Karena bukan hanya dengan berhubungan badan saja hidupnya bisa lebih bahagia, dia ingin membuat wanitanya benar - benar menerimanya dulu, agar nanti tidak ada perang didalam istananya ketika dia menyatukan semua haremnya.


Sedikit berubahnya hati dan pikiran Julian, tanpa sadar dia membuat Walcot kagum.


Walcot sebenaranya tahu apa niat Rosi, jadi dia pura - pura tidur, ketika Rosi keluar dari kamarnya dia mengikuti Rosi.


Benar saja ketika Walcot mengikuti anaknya, Rosi pergi ke kamar Julian, dia mengikutinya dengan hati - hati.


Tapi Walcot terkejut ketika Julian menolak Rosi, karena dia pikir Julian sama dengan pria lainnya, jika dikasih Apem akan langsung memakannya.


Dugaan Walcot salah, Julian menolak anaknya, dan dengan acuh menutup pintu, disitulah Walcot kagum dengan Julian. Bukan hanya seorang taipan saja, tapi Julian mampu mengendalikan emosinya, begitulah pikir Walcot, karena dia tidak tahu seberapa bringasnya Julian saat bersama Wanita di kamar.


" Benar - benar pria yang bisa di percaya, anakku saja yang begitu cantik dia tolak, sangat jarang pria seperti Julian ada di Dunia ini " gumam Walcot kagum pada Julian sambil tersenyum.


Walcot kemudian meninggalkan tempat tersebut, sekarang dia percaya sepenuhnya dengan Julian.


Julian tidak tahu sama sekali jika Walcot mengawasinya, tindakannya yang menolak Rosi, murni sebuah keberuntungan saja.


Rosi benar - benar tidak tahu apa yang ada di dalam pikiran Julian, awalnya dia yakin jika Julian menerima tawarannya karena dia ketaguhan dengan Goanya, tapi siapa yang menyangka jika Julian menolak.


Terus apa yang di cari Julian ?.


kenapa dia mau menginap dirumah Rosi ?.


Bukankah seharusnya dia menggarap Rosi ?.


Jawaban Julian sebenarnya sangat simpel, kenaifannya dulu tumbuh kembali akibat ceramah Rafael, walaupun dia sekarang sudah sedikit berubah, tapi faktanya sifatnya yang dulu masih melekat dalam hati dan pikirannya.


Walaupun Rafaelendukung Julian dengan banyak Wanita, tapu kenyaatannya kata - kata Rafael membuatnya ingat jika dia masih seseorang yang bisa merasakan sakit hati.


Julian juga sedang memikirkan bagaimana caranya agar semua target haremnya nanti tidak ada yang sakit hati. Karena Julian pernah merasakan hal tersebut.


...***...


Ke esokan harinya Julian bangun dari tidurnya, betapa terkejutnya Julian ketika Rosi sudah ada disampingnya.

__ADS_1


" Rosi !" ucap Julian terkejut.


Rosi mengerjapkan matanya, dia kemudian terbangun dan tersenyum saat melihat Julian " Pagi Juga Julian "


" Ros apa yang ka...."


" Cup !"


Rosi langsung memagut Bibir Julian, dia memasukkan daging tak bertulangnya dalam mulut Julian.


Julian awalnya menolak tapi daging tak bertulang Rosi memaksa masuk, akhirnya Julian membuka mulutnya.


Mereka saling memagut beberapa saat, kemudian Julian sedikit mendorong Rosi dan melepaskannya.


" Ros, aku tidak enak dengan Ayahmu, kumohon mengertilah " ucap Julian lembut.


Rosi tersenyum " Ayah sudah berangkat pagi - pagi sekali, jadi kita bebas sekarang Julian !" Rosi dengan sangat berani menaiki Julian.


Julian membelalakan matanya, karena ternyata Rosi sudah tidak mengenakan sehelai benangpun.


" Ros, kamu..."


Julian belum selesai bicara, Rosi menutup mulut Julian dengan Jarinya sambil tersenyum " Puaskan aku Julian " Ucap Rosi genit.


Rosi menuntun kedua tangan Julian ke gunung Kembarnya.


Julian sudah tidak menahannya lagi " Persetan !" ucap Julian dalam hati.


Julian langsung menggarap Rosi tanpa berpikir panjang, setan yang ada didalam tubuhnya menang walau semalam sempat kalah.


Permainan Julian kali ini benar - benar kasar, dia sengaja membuat Rosi kewalahan agar nantinya Rosi tidak terlalu berani lagi.


Tapi dugaan Julian salah, Rosi malah menikmati permainan kasarnya, walaupun tubuh Julian memukul - mukul pinggulnya dengan sangat kencang sampai semuanya memerah.


Rosi tidak mempermasalahkan hal tersebut, dia malah semakin liar.


Permainan mereka berakhir ketika hari menjelang siang, Rosi sudah tidak bisa mengimbangi Julian lagi karena Goanya terasa begitu nyeri, dan tubuhnya juga sangat lemas karena entah sudah berapa kali dia mencapai puncak.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2