System Harem

System Harem
Liyana dan Rachel


__ADS_3

Julian melepaskan tangannya dari dagu Seila, Jantung Seila masih berdebar sangat kencang, sampai - sampai dia tidak berani menatap Julian dan terus menundukkan kepalanya.


" Ah..ini sungguh mendebarkan, apakah ini yang dikatakan orang - orang jika ini perasaan Cinta ?" Seila memegang dadanya yang masih berdebar - debat itu.


Faktor Daya Seila Bowl : +1


Target Harem Tersentuh dengan perlakuan Host.


Faktor Daya Tarik Seila Bowl sekarang : 96%


[ Karena Target Harem menaikan Daya tariknya ketahap Minimal, anda akan mendapatkan 10 poin kekuatan tambahan, setiap peningkatan daya tarik 1% selanjutnya Host akan mendapatkan 10 poin kekuatan ].


Poin Kekuatan Host sekarang : 20


Terlihat seringai tipis di sudut bibir Julian, misinya untuk mendapatkan Poin kekuatan ternyata berbuah manis.


" Seila, aku pergi menemui yang lain dulu " Julian beranjak dari duduknya.


" Julian !" Seila menarik tangan Julian, ketika Julian menoleh ' Cup ' Seila dengan lembut mengecup bibirnya.


" Terimakasih Julian " Ucapnya malu - malu.


Julian memegang puncak kepala Seila dan meninggalkannya yang masih berdiri menatap kepergian dirinya.


Di kamar Liyana, Rachel sedang merawatnya karena kondisi Liyana masih lemah.


Julian mengetuk pintu dan masuk, ia langsung menghampiri mereka berdua dan duduk di samping Liyana.


" Bagaimana keadaanmu Liyana ?" tanyanya sambil mengusap puncak kepala Liyana.


" Aku sudah baik - baik saja berkat Rachel yang terus merawatku " jawabnya Lirih.


Julian menatap Rachel " kamu memang bisa di andalkan Rachel, terimakasih banyak atas kerja kerasnya "


Rachel menggelengkan kepalanya " kita ini saudari, jadi berhak bagiku untuk merawat Liyana "ucapnya tulus.


Julian sangat senang karena para wanitanya tanpa pamrih sudah mau saling membantu satu sama lain. Mereka seolah sudah menerima jika dirinya memiliki banyak wanita sekaligus. Bagaimana mereka tidak menerima, orang mereka bertujuh saja melayani Julian secara bersamaan masih kewalahan.

__ADS_1


Luka Liyana sebenarnya sangat besar, rambutnya saja terpaksa dipotong agar luka tersebut bisa dijahit dengan benar. Julian tahu kalau Liyana butuh dukungan moral, pasalnya wanita pasti akan cenderung minder jika memiliki bekas luka, apalagi di daerah kepala mereka.


" Apakah kamu butuh sesuatu Liyana " tanya Julian lembut sambil menggenggam tangannya.


Liyana menyenderkan perlahan kepalanya di bahu Julian, Rachel yang melihat itu langsung pamit untuk kembali ke kamarnya. karena ia tahu jika Liyana butuh waktu untuk ngobrol dengan Julian.


Selepas kepergian Rachel, Liyana langsung bertanya " Julian, aku sekarang sudah cacat, aku tidak seperti wanita kamu yang lain, apa kamu akan meninggalkan aku ?" air mata Liyana mulai menetes.


Julian mengecup puncak kepala Liyana " apa aku terlihat seperti pria brengsek di matamu Liyana ?" ia malah balik bertanya.


Liyana mendongakkan kepalanya " aku tidak bermaksud seperti itu Jul..."


Liyana belum selesai bicara dia mengecup bibirnya dengan lembut, membuat ucapan Liyana tersekat di tenggorokannya.


Julian menatap wajah sendu Liyana, dia tahu kalau wanita yang ada di dekapannya itu sedang gelisah dan gundah karena takut di tinggalkannya.


Julian tersenyum " Mungkin karena aku memiliki beberapa wanita jadi kamu punya pikiran negatif tentangku. Itu semua aku anggap wajar karena semua wanita mungkin juga akan memikirkan tentang aku seperti itu "


Julian diam sebentar kemudian melanjutkan " Liyana, aku tahu rasanya bagaimana perasaan saat di tinggal ketika mencintai seseorang. Walaupun aku bukanlah orang yang sempurna untuk masalah Cinta, tapi aku akan berusaha menjadi yang terbaik, jika kamu percaya padaku buanglah pikiran itu jauh - jauh dan kita jalani semuanya seperti biasa dan yakinlah jika aku akan selalu bersama kamu "


" Julian, aku tidak meragukanmu, hanya saja aku sekarang sudah tidak pantas untukmu" Liyana masih merasa bersalah.


Mata Liyana berkaca - kaca, hatinya terasa hangat. Melihat keseriusan Julian membuat perasaan Liyana yang tadinya berat menjadi ringan. dia sekarang sudah tidak ragu lagi dengan Julian.


Faktor Daya Liyana Reid : +1


Target Harem tersentuh dengan ketulusan Host.


Faktor Daya Liyana Reid Sekarang : 100%


[ Selamat Target Harem telah mencapai penaklukan 100%, Host akan mendapatkan uang 100 Milyar Dolar dari penaklukan dan 20 Poin peningkatan .Host bisa memperbaharui penampilan Target Harem yang sudah ditaklukan menggunakan Poin Peningkatan ].


Poin peningkatan Host : 40


Pada dasarnya wanita memang sangat menyukai pria yang tulus, walaupun Julian memiliki banyak wanita tapi setidaknya Liyana sudah melihat sendiri kalau Julian bisa membagi waktunya untuk para wanitanya.


Liyana bukanlah orang yang naif lagi, dia sadar harus berbagi satu pria dengan wanita yang lain. tapi jika itu semua bisa membuatnya bahagia kenapa tidak ?, toh dia pikir Julian juga bisa membuatnya bahagia.

__ADS_1


Julian yang mendengar pemberitahuan System, dia tersenyum dan langsung mengecup bibir Liyana lagi.


" Mulai sekarang dan selamanya jangan berpikir jika aku akan meninggalkanmu Oke !" Julian menghapus air mata Liyana yang mulai menetes.


Liyana mengangguk - anggukan kepalanya lirih, dia sekarang sudah yakin kalau Julian tidak akan pernah meninggalkannya. Ia pun langsung memeluk Julian dengan erat.


Julian membalas pelukannya dan membelai lembut rambut Liyana yang terlihat kusut karena belum di cuci, ia berkali - kali mengecup puncak kepala Liyana.


Melihat perban dikepala Liyana membuat Julian semakin merasa bersalah dan tidak punya niat sedikitpun untuk meninggalkannya.


" Kamu sekarang istirahat dulu yah, nanti aku kesini lagi membawa makan malam untukmu " Julian melepaskan pelukan Liyana.


Liyana mengangguk lirih sambil tersenyum, ia kemudian di papah Julian untuk beristirahat. Julian menyelimutinya, mengecup keningnya dan meninggalkan Liyana agar beristirahat.


Liyana menatap punggung Julian dan bergumam " Walaupun aku tidak bisa memiliki kamu seorang diri, tapi setidaknya aku bisa merasakan kasih sayang orang yang aku cintai " ucapnya penuh dengan ketulusan.


Sementara itu di luar kamar Rachel sedang menunggu Julian sambil meminum, minuman kaleng yang dia ambil dari dapur sambil bersender di pembatas lantai.


" Kamu menungguku ?" tanya Julian sambil mendekati Rachel.


" Awww !" Rachel mencubit perut Julian dengan keras.


" Rachel apa yang kamu lakukan ?" tanya Julian sambil pura - pura kesakitan.


Rachel menggembungkan pipinya " kenapa kamu tidak bilang jika memiliki musuh yang sangat berbahaya !, apa kamu tidak mikirkan keadaan kami yang lemah ini !"


Julian menghela napas " Maaf Rachel, aku kira dengan robot penemuan kak Darius denganku bisa menghentikan mereka, tapi mereka ternyata sangat kuat. ini semua di luar kendali kami " Julian bertumpu pada pembatas lantai dan menghela napas berat sambil menatap nanar Aula Mansion.


Rachel juga melakukan hal yang sama, dia sedikit menyenderkan kepalanya pada Julian " setidaknya kamu bisa berbagi cerita dengan kami agar kami lebih hati - hati lagi Julian, lihatlah Liyana yang menjadi korban. Apakah kamu akan baik - baik saja jika dia terluka lebih dari ini ?"


Julian mengepalkan tangannya, kemudian menghela napas. Ia tahu jika telah melakukan kesalahan fatal karena meremehkan kekuatan musuh dan terlalu percaya diri dengan robot ciptaannya.


Julian masih menatap ke depan, dia tahu jika ucapan Rachel sebagai cambuk peringatan untuknya.


" Kamu tahu Julian kalau kami juga takut jika kamu kenapa - napa, walaupun kami tidak bisa membantumu, setidaknya berbagilah cerita dengan kami " Rachel bicara dengan penuh kelembutan.


Julian menatap Rachel, dia menggenggam tangannya dan menciumnya " Aku akan mengingat kata - katamu itu, sekali lagi maafkan aku yang ceroboh ini "

__ADS_1


Julian tidak memungkiri jika dirinya salah, lebih baik dia mengakui kesalahannya daripada harus mendapat tekanan karena egonya.


__ADS_2