
Julian langsung membuka Pintu Mobil " Ayo Naik, aku antar kamu pulang " ucap Julian langsung.
Okta tersenyum, tentu saja dia langsung mau dengan ajakan Julian, tanpa menunggu lagi Okta langsung masuk ke Mobil.
Rasa lelahnya yang tadi dia rasakan, seakan menghilang begitu saja setelah dia melihat Julian, Okta merasa tubuhnya kembali segar seperti mendapat suntikan energi saja.
Julian langsung menyalakan Mobilnya, saat di jalan dia bertanya pada Okta " kenapa kamu baru pulang jam segini ?" .
Okta menghela napas " Banyak yang harus aku urus Julian, ditambah aku juga Hitel kita juga sedang membangun tempat wisata di dekat pantai, jadi kesibukanku bertambah "
Julian mengerutkan keningnya " memang Proyek Wisata kalian sudah di mulai ?" tanya Julian penasaran.
" Proyeknya sudah di mulai dari kemarin, Apakah Tuan Campbel tidak memberitahu kamu ?, ah... aku lupa jika Hotel ini hanya sebagian kecil asetnya saja " Okta menepuk jidatnya.
" Terus darimana kamu mendapatkan uang untuk proyek tersebut ?" tanya Julian Serius.
Julian bertanya seperti itu karena dia harus memberikan wanitanya uang agar dia juga bisa mendapatkan uang walau cuma 10% saja.
" Untuk masalah itu kamu tidak usah khawatir Julian, Tuan Noah sudah menjamin pinjaman Bank untuk proyek yang sedang kita garap, jadi kita tidak kekurangan Modal sama sekali " Okta tersenyum senang karena dia pikir jika Julian akan bangga padanya.
Tapi Julian terlihat biasa saja, dia malah terlihat begitu dingin setelah mendengar penjelasan Okta.
Karena Julian sadar, walaupun dia memiliki banyak Target Harem, jika dia tidak membelanjakan mereka sesuatu, sama saja dia dengan pria miskin lainnya, karena dia tidak memiliki uang.
" Oh begitu " ucap Julian datar.
Okta melirik ke arah Julian, dia melihat jika Julian seperti tidak senang saat mendengar kabar tersebut.
" Apakah aku berbuat salah yah dengan Julian ?, tapi aku pikir tindakanku benar, terus apa yang membuatnya salah ?" Okta bertanya - tanya dalam hatinya.
Julian sepanjang perjalanan hanya diam, dia tidak berbicara lagi membuat Okta merasa canggung, pasalnya dia begitu merasakan Jika Julian tidak senang dengannya.
Okta menghela napas " Julian, bisa kamu hentikan Mobilnya sebentar ?"
Julian melirik ke arah Okta sembari mengerutkan keningnya " Ada apa ?"
" Sudah berhenti saja dulu !" Perintah Okta.
Julian terpakada menurut, dia mencari bahu jalan yang di perbolehkan untuk mobil berhenti, pasalnya dia takut jika nanti di tegur polisi lagi.
Setelah menghentikan mobilnya, Julian menoleh kearah Okta " Ada ap..."
" Cup !" Okta menarik dasi Julian dan mengecup Bibir Julian.
Julian membelalakan matanya karena terkejut dengan tindakan Okta.
Daging tidak bertulang Okta menyelusup masuk ke dalam mulut Julian.
Tentu saja Julian tidak menolak, dia membalas Cumbuan Okta.
Semakin lama pergelutuan tersebut semakin panas, tangan Julian mencari - cari benda favoritnya jika sedang berpagut dengan Wanita.
__ADS_1
Tangan Julian menyelusup masuk dalam pakaian Okta.
Okta tidak menepisnya sama sekali, dia malah bertindak semakin berani dengan melepaskan ikat pinggang Julian.
Julian Juga tidak mau kalah, dia memelintir puncak Gunung kembar miliki Okta.
" Mpppphhhhh
" Mppphhhhh
******* Okta tertahan oleh pagututan Julian, mereka berdua sudah lupa jika mereka ada di bahu jalan.
Tangan Julian Turun, dia melepaskan penutup Goa Okta tanpa melepaskan Roknya.
Pusaka Julian juga sudah menyembul keluar karena Celananya sudah di turunkan oleh Okta.
Okta begitu mahir memainkan tangannya di pusaka Julian, membuat libido Julian semakin membuncah.
Julian mencari Goa Okta, dia memasukan satu jarinya kedalam Goa Okta yang sudah basah.
" Cipak
" Cipak
" Cipak
Sebuah suara merdu keluar dari dalam Goa milik Okta saat Jari Julian bermain dengan agresive.
" Ju..lian
Okta menjaambak Rambut Julian, dia langsung melepaskan Goanya dari Jari Julian dan duduk di pangkuan Julian.
" Flooopp !
Pusak Julian masuk dengan lancar, Okta sedikit memebelalakan matanya, karena Pusaka terasa mengganjal di bandingkan punya pacarnya dulu.
" Uhhhhhhh !
Okta mendongak merasapi kenikmatan yang sedang mereka berdua lakukan.
Suara benturan Pusaka dan Goa menjadi alunan musik merdu pengiring kemesraan mereka berdua.
Julian mellepaskan pakaian Okta, dia melahap puncak gunung kembar yang sedang berdiri tegap tersebut.
Okta menggelinjang - gelinjang meresapi kenikmatan yang di buat oleh Julian.
Mobil Julian berguncang dengan Hebat akibat permainan keduanya.
Mobil yang sesekali lewat juga memperhatiak Mobil mereka.
Untung saja sudah dinihari, jadi sudah sangat jarang Mobil yang lewat, jadi Okta dan Julian bisa terus bergulat di mobil mereka.
__ADS_1
Okta sampai di puncaknya, dia memeluk Julian dengan Erat sembari memebenamkan Wajah Julian di gunung kembarnya.
Julian yang tahu Jika Okta sedang mencapai Puncak kenikmatan, dia mendiamkannya sebentar.
" Hoss..Hoss..., Julian " Okta berkata dengan manja.
" Floop !" Julian melepaskan pusakanya, Okta pikir jika Julian sudah berniat berhenti.
Tapi dia yang masih lemas terkejut saat Julian membaringkannya di Kursi dan langsung menghujamnya lagi.
" Urgggghhh !" Okta berteriak tertahan sembari membelalakan matanya.
Okta yang masih lemas, dia pasrah ketika Julian memompanya dengan sangat Cepat.
Julian menyibak Rok Okta agar dia bisa melihat bentuk Goa Okta dan semakin bersemangat.
Julian melihat Goa Okta di penuhi rumput Liar yang tumbuh tidak beraturan, tanpakanya Okta tidak begitu suka merawat Goannya.
Tapi Julian tidak perduli, dia terus memompa Okta, hingga Okta meminta berhenti karena napasnya begitu tersengal - sengal.
Okta menggelinjang lagi mencapai Puncak, kali ini Julian tidak membiarkannya, karena dia juga terasa akan mencapai puncak.
Julian memompa dengan begitu Cepat, membuat Okta seperti akan kehabisan napas, Okta memegangi Goanya.
Dia menatap Julian dengan sendu, pasalnya Julian tidak memberinya ampun sama sekali.
Hingga akhirnya Julian mencapai Puncak, dia membenamkan pusakanya hingga menyentuh dinding Goa terdalam.
Okta membelalakan Matanya, dia ingin melepaskan Pusaka Julian karena terasa sedikit sakit.
Tapi Julian malah menekankan pusakanya, Okta benar - benar kesakitan, tapi juga nikmat " Julian... Hoss..Hos.... " Napas Okta tidak beraturan.
Julian tersenyum Puas saat Lavanya sudah dikeluarkan semua dalam Goa Okta, tapi dia belum mencabut Pusakanya.
Julian mencium kening Okta dan Berbisik " Apa kamu mau lagi ?" Sembari bertanya dia memompa dengan pelan.
Okta menjawab " Mpphhhh, Na..nnti La..gi Julian "
Okta benar - benar sudah kehabisan tenaga, Julian akhirnya mencabut pusakanya.
" Plong ! " Okta merasa Goanya terasa begitu longgar saat Pusaka Julian Keluar.
Okta masih terbaring di kursi sembari membenarkan napasnya yang masih tersengal - sengal.
Julian menatap Wanita yang habis digarapnya, Okta terlihat sangat berantakan, bajunya lusuh, rambutnya terurai dan lepek oleh keringat dan Goanya mengalir Lava miliknya dan Okta yang bercampur menjadi satu.
Julian mengulurkan tangannya, dia membantu Okta untuk duduk, Julian tersenyum Puas saat Okta yang tiba - tiba bersender di bahunya.
.
.
__ADS_1
.