System Harem

System Harem
Terimakasih Brown


__ADS_3

Semua pelayan Wanita yang melihat hal tersebut iri pada ke enam wanita Julian, pasalnya jika mereka menjadi salah satu wanita Julian juga bisa mendapatkan jam tangan tersebut.


Tapi sayangnya di antara mereka, kecantikannya tidak ada yang sebanding dengan ke enam Wanita Julian, Jadi baik Julian Maupun System tidak tertarik pada mereka.


Ke enam Wanita Julian melihat jam tangan yang di berikan Julian serempak, Alina dan Rosi yang sudah mengenakan jam tangannya sendiri, mereka buru - buru melepas jam tangannya sendiri. Karena mereka hanya ingin memakai jam tangan pembelian Julian seperti Ke empat wanita lainnya.


" Julian terimakasih " ucap Rachel.


Celia dan Liyana juga mengatakan hal yang sama, kemudian Okta, Rosi dan yang terakhir Alina, mereka semua seolah tidak mau kalah satu sama lain.


Itulah perbedaan pemilik System dengan orang biasa, Jika orang yang tidak memiliki System, mana bisa mereka seperti Julian yang bisa menyatukan ke enam Wanitanya.


Yang ada mereka pasti di gampar kanan kiri oleh wanita mereka jika ketahuan membawa wanita lain, jangankan enam Wanita, dua Wanita saja harus membalas WA sembunyi - sembunyi, kalau ketemu keduanya Auto perang dunia ke 3 akan terjadi.


Sementara Julian dengan santainya berjalan dengan ke enam Wanitanya, itu menunjukkan jika System yang Julian dapat bisa menyatukan Wanita.


Percayalah jangan di tiru adegan ini di dunia nyata, karena bukannya kalian akan bahagia, yang ada kalian Akan menderita sepanjang masa.


Julian tersennyum ke arah enam Wanitanya " Baiklah, kita akan lanjut kemana ?" tanya Julian lembut.


" Bagaimana kalau ke tempat permainan ?" ucap Okta memberikan usul.


" Boleh juga, Ayo.." Rosi terlihat bersemangat.


Alina menghela napas " Kamu ini kalau dengar tempat permainan sangat senang sekali " ucap Alina sembari menggelengkan kepalanya.


Rosi tidak menggubrisnya, dia menjulurkan lidahnya pada Alina dan menggandeng Okta yang mengajaknya ke tempat permainan.


Sementara Rachel, Celia, Liyana dan Alina mengikuti mereka dari belakang, Julian melihat mereka kecewa, pasalnya dia ingin menghabiskan banyak uang, tapi malah ke tempat permainan, Julian merasa jika semuanya tidak sesuai rencana.


Julian mengikuti mereka semua dengan malas, dia benar - benar kevewa karena tidak bisa menghabiskan banyak uang.


Tiba - tiba Brown menegur Julian " Tuan Lewis, selamat siang " ucap Brown sopan.

__ADS_1


" Kamu..." Julian mencoba mengingat - ingat Brown.


Brown tersenyum " Saya Brown, sopir pribadi Nona Alina, kita pernah bertemu sebelumnya di acara pesta peresmian Fornas Elite " ucap Brown sopan.


Julian mulai mengingat siapa Brown " Ah.., aku ingat sekarang, kamu yang waktu mengusir bocah sombong itu " ucap Julian sembari tersenyum.


" Benar Tuan Lewis " jawab Brown sopan.


" Jadi kenapa kamu disini ?" tanya Julian lagi.


Brown menjawab tanpa menutupi maksudnya sedikitpun " Saya bertugas menjaga dan menjadi sopir Nona Alina, untuk itu saya kemari, saya juga mau mengucapkan terimakasih pada anda karena telah menjaga Nona Alina ketika saya tidak ada " ucap Brown berterimakasih dengan sungguh - sungguh.


Julian sebenarnya merasa heran pada Brown, pasalnya dia mengaku sebagai penjaga Alina, itu artinya dia Body guard Alina, tapi penampilannya tidak meyakinkan.


Brown sudah sepuh, tubuhnya juga terlihat ringkih, Julian pikir jika dia memukul Brown tulangnya akan patah mungkin.


Julian tidak tahu jika Brown sangatlah kuat, dia memiliki beberapa teknik beladiri dan penguatan tubuh, walaupun dia terlihat ringkih sebenarnya dia bisa sedikit mengimbangi Julian yang sekarang karena Brown unggul dalam hal pertarungan.


" kebetulan kamu disini, temani aku ngobrol sambil menunggu mereka selesai bersenang - senang " Ucap Julian sembari mengajak Brown duduk di kursi yang sudah disediakan tempat tsrsebut.


Awalnya Alina memang ragu untuk bermain di Arena permainan, tapi setelah dia mencoba ternyata menyenangkan, apa lagi dia sekarang memiliki banyak teman.


" Nona Alina dari kecil tidak pernah merasakan kebahagiaan seperti anak - anak pada umumnya, dia dari kecil terus mengejar impiannya, demi di akui oleh ayahnya, tapi semua mimpi Nona Alina Sirna ketika Ayahnya mengangkat kakaknya sebagai pewaris Rose Luxury " Ucap Brown tiba - tiba.


Julian mengerutkan keningnya, ketika mendengar ucapan Brown, dia menatap Brown yang terlihat sangat sedih saat menatap Alina.


Julian buka suara " Tuan Brown, kenapa kamu menceritakan itu padaku ?, bukankah itu rahasia Alina ?"


Brown tersenyum " Karena semenjak Nona Alina melihat anda, Ambisinya untuk di akui Ayahnya semakin berkurang dan dia sudah lebih rilex untuk menjalani kehidupannya sebagai seorang wanita "


" Maksud kamu apa Tuan Brown ?" tanya Julian penasaran.


Brown menggeleng sembari tersenyum " Aku cuma ingin bercerita saja, nanti anda juga akan tahu sendiri apa maksud saya "

__ADS_1


Julian menghela napas " Kamu ini "


Julian sebenarnya sudah tahu maksud Brown, karena ketika Alina menjadi target haremnya, dia sudah memiliki Poin suka, Artinya Alina tertarik dengannya sedari awal.


Tapi Julian pura - pura bodoh agar Brown tidak curiga kenapa dia bisa tahu semuanya, Karena Julian tidak mau ada orang yang tahu dia memiliki sebuah System.


Julian kemudian bertanya " Tuan Brown, Bolehkah saya bertanya sesuatu ?"


Brown menoleh dan mengangguk " Silahkan Tuan Lewis "


Julian menghela napas " Saya ingin memberi hadiah pada Alina karena dia mau menjadi CEO di perusahaanku, tapi aku tidak tahu harus memberi apa padanya, karena aku pikir dia bisa membeli apa saja dengan statusnya " ucap Julian lemah.


Brown tercengang ketika mendengar Hal tersebut, pasalnya ke inginan Alina selama ini adalah memegang perusahaan sendiri, dengan kata Lain dia memang menginginkan sebuah posisi CEO. tapi Alina tidak pernah mengungkapkannya.


Alasan Brown tahu, karena dia sempat mendengar Alina menangis di kamarnya sambil berkata jika dia ingin membangin sebuah perusahaan dan menunjukkan pada Ayahnya jika dia lebih mampu dari kakaknya.


Brown menatap Julian dengan seksama, Julian yang di pandangbseperti itu mengernyitkan dahinya " Tuan Brown, kamu kenapa ?" tanya Julian.


" Hahahahaha..... " Brown tiba - tiba tertawa, Julian sampai bingung sendiri kenapa Brown tiba -tiba ketawa seperti itu.


" sial !, apakah ini orang tua gila ?, ditanya malah ketawa, aku bogem juga nih tua bangka !" gerutu Julian dalam hati.


" Maaf, maaf Tuan Lewis, saya hanya terlampau senang saja, kenpa anda tidak belikan nona Perhiasan saja, Kalung, gelang atau mungkin Cincin ?" ucap Brown memancing Julian penuh Arti.


Brown tidak mengatakan yang sebenarnya, tapi dia malah memberitahu hal tersebut, pasalnya dia ingin Julian semakin dekat dengan Alina.


Karena menurut pemikiran Brown, jika wanita dibelikan Perhiasan oleh seorang Pria maka hubungan mereka akan semakin dekat, apa lagi Julian berinisiatif membelikan Cincin, sudah pasti Alina akan semakin berani mendekatkan diri pada Julian.


Brown tidak sadar jika jawabannya membuat Julian sangat senang, padalnya dia tidak kepikiran untuk membelikan perhiasan.


Julian tersenyum penuh arti " Terimakasih pak Tua Brown, karena akamu aku bisa menghabiskan uang sambil menaikkan daya tarik mereka !" ucap Julian dalam hati.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2