
Asap mengepul dari gesekan cambuk darah Natali dan tubuh S1.
Julian yang melihat hal itu terkejut, dia terheran - heran kenapa cambuk darah Natali bisa langsung melukai S1.
Natali semakin mempererat lilitan cambuknya pada S1.
S1 semakin meronta kesakitan, ia berteriak - teriak meminta agar Natali melepaskannya. Tapi Natalo tidak menggubrisnya.
Cambuk darah Natali semakin masuk kedalam tubuh S1. Darah mulai mengucur keluar dari tubuh S1.
" Praal
" Arghhh
Cambuk darah Natali yang melilit tangan S1 memotongnya, membuat S1 berteriak histeris.
Natali yang sudah melakukan pelatihan selama beberapa hari bersama Julian. Dia sekarang sudah di bilang jauh lebih kuat di bandingkan dengan dirinya yang dulu.
S1 yang sudah mengeluarkan kekuatan penuhnya dia mencoba untuk melawan. Walaupun tubuhnya terasa sangat sakit.
" Harggghhh !!
S1 memberanikan diri menerjang ke arah Natali, tapi sayangnya Natali menahannya.
" Matilah kau monster aneh !!" Teriak Natali keras.
" Arggghhh
" Pral
" Pral
" Pral
Tubuh S1 langsung terpotong - potong oelh cambuk darah Natali.
Julian yang melihat hal itu menggelengkan kepalanya, padahal dia sangat kesusahan melawan S1. Walaupun dalam serangan Julian menang tapi serangannya tidak melukai S1.
Berbeda dengan Natali yang langsung bisa memotong - motong tubuh S1 layaknya sayuran saja.
Natali menarik Cambuk darahnya dan mendekati Julian dengan wajah yang berbinar.
Jantung S1 yang tidak terpotong oleh cambuk darah Natali masih berdetak. Perlahan S1 beregenerasi walaupun tidak secepat regenerasi Natali.
__ADS_1
Rafael langsung memberikan peringatan pada Julian " Tuan Lewis, cepat suruh Nona Natali menghancurkan seluruh bagian tubuhnya, sebelum dia beregenerasi lagi !"
Julian yang mendengar seruan Rafael terkejut, tapi dia langsung memeberitahu Natali " Natali !, hancurkan seluruh tubuhnya !, jangan sampai dia beregenerasi lagi !"
Wajah Natali langsung berubah jelek yang tadinya sudah sangat senang. Natali membalik badannya dan langsung mencabik - cabik tubuh S1 hingga berubah menjadi bagian - bagian kecil.
Julian yang melihat serangan Natali membabi buta seperti itu begidik ngeri. Dia tentu akan berpikir kembali jika menjadikan Natali musuhnya.
Polisi kemudian datang, sangat mirip dengan film india.
Julian, Dom dan Natali tidak sempat kabur saat Polisi menodongkan senjata mereka.
Natali mau melawan tapi Julian melarangnya dan menyuruh Natali mengikuti instruksi polisi untuk patuh. Mereka bertiga di bawa ke kantor Polisi untuk di mintai keterangan.
Sesampainya di kantor Polisi mereka bertiga langsung di interogasi. Karena Polisi tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Padahal jika mereka melihat hancurnya Lokasi pertarungan Polisi pasti tahu siapa orang - orang yang sedang mereka interogasi.
" Sekarang katakan apa yang sebenarnya terjadi ?" tanya Polisi tegas.
Julian menghela napas " Pak, jika aku mengatakan yang sebenarnya apa anda akan percaya ?"
Polisi mengerutkan keningnya " jangan bertele - tele, cepat katakan saja !"
" Baiklah, kami bertiga melawan para Monster aneh dan kami berhasil mengalahkan mereka bertiga walaupun awalnya kami kesulitan !" Julian menjelaskan dengan singkat.
Julian sudah menebak jika Polisi tidak akan menerima penjelasannya, karena itulah dia malas menjelaskan dengan detail.
" Julian !" tiba - tiba suara yang familiar terdengar oleh Julian.
Julian langsung menoleh, dia tersenyum saat melihat Rosi dan Ayahnya datang menemuinya.
Kepala Polisi yang sedang mengintrogasi Julian tercengang saat melihat jendral Polisi datang ketempatnya.
Kepala Polisi langsung berdiri dan memberikan hormat pada Ayah Rosi. Julian yang melihat hal itu tersenyum kecut.
Rosi dan Ayahnya datang ke kantor polisi karena Rafael memberikan pesan pada Rosi. Jika julian sedang ada di kantor polisi.
Ayah Rosi yang mendengar hal tersebut langsung marah. Pasalnya Julian adalah orang yang sudah berhasil merubah provinsi Anarka.
" Berani sekali kamu menangkapny !, apa kamu tidak tahu siapa dia !?" Walcot berkata dengan tegas.
' Glek ' Pemimpin polisi menelan ludah, dia langsung berkeringat dingin.
" Tuan Dail, saya hanya melakukan tugas saja, mereka bertiga melakukan keributan di pusat kota " jawab polisi tersebut ketakutan.
__ADS_1
Walcot menatap Julian, Julian menggendikkan bahunya seolah tidak tahu dengan apa yang terjadi. Karena Julian yakin jika Rafael sudah mengamankan Video CCTV pertarungannya.
" Lepaskan mereka, aku yang akan menjaminnya !" Ucap walcot tegas.
" Baik Tuan Dail !" polisi langsung membebaskan Julian dan yang lainnya.
Rosi tersenyum senang, dia langsung merangkul tangan Julian tanpa malu - malu lagi dihadapan Ayahnya. Walcot yang melihat hal itu hanya bisa tersenyum kecut.
Selepas kepergian Walcot, kepala Polisi menghela napas lega " Syukurlah tuan Dail tidak mengatakan sesuatu yang memberatkanku, tapi siapa Pria itu yah ?, kenapa tuan Dail mau menjaminnya secara langsung ?"
Kepala Polisi memikirkan siapa Julian, tapi semakin dia memikirnya rasa takut muncul dibenaknya. Akhirnya dia memutuskan agar tidak berurusan dengan Julian lagi.
" Dom, Natali kalian pulanglah lebih dulu, aku ingin bicara sesuatu dengan Tuan Dail " setelah keluar dari kantor polisi Julian menyuruh Natali dan Dom pulang terlebih dahulu.
Natali mau menolak, tapi melihat wajah serius Julian dia tahu jika pasti ada sesuatu yang penting. Jadi dia terpaksa langsung pulang dengan Dom.
Walcot membawa Julian ke sebuah kafe kecil dekat jalan raya, Rosi mencibir " Ayah pelit amat sih ! "
Walcot hanya tersenyum tipis saja menanggapi keluhan anaknya. Julian yang melihat itu tersenyum kecut.
Mereka bertiga kemudian duduk, memesan minuman dan makanan Ringan.
Walcot buka suara " Jadi apa yang ingin kamu bicarakan denganku Julian ?"
Julian menyeruput kopi yang di pesannya, kemudian menjawab " Tuan Dail, anda mungkin akan terkejut dengan apa yang telah aku temukan, lihatlah ini "
Julian menunjukan poto - poto di ponselnya, yang sebelum itu dia minta pada Rafael.
Walcot melihat poto - poto tersebut, dia membelalakan matanya karena terkejut saat melihat poto - poto itu.
" Julian apa maksudnya ini ?" Walcot bertanya dengan penasaran.
Julian menghela napas " Tuan Dail, ada seseorang yang menciptakan mereka, tapi entah kenapa pemerintah malah tidak mengetahuinya. Seharusnya hal itu tidak terlepas dari pantauan kalian bukan ?"
Walcot langsung mengerti maksud Julian " kamu menyalahkan kami Julian ?" tatapan Walcot berubah menjadi sengit.
Julian tersenyum getir " jika pemimpin seperti anda saja tidak bisa menerima kritikan, bagaimana dengan nasib negara ini ?, tuan walcot, aku mengajak anda berbicara karena masalah ini sangat serius !, jika kalian tidak menemukan dalang di balik pembuatan mereka semua. Bukan tidak mungkin jika Anarka akan di kuasai para Monster ini !" Tatapan Julian berubah menjadi serius.
Rosi yang menyaksikan perdebatan keduanya, membuat dia tidak bisa berkata - kata dan hanya bisa memandangi mereka berdua saja sambil makan kue yang dia pesan.
Walcot mencerna ucapan Julian, karena dia juga tidak ingin Anarka menjadi sarang Monster jika semua yang Julian katakan benar.
Walcot menghela napas " kamu benar Julian, aku salah "
__ADS_1
Walcot menyadari jika ucapan Julian ada benarnya. Ia memutuskan untuk membuat pengawasan dan mencari siapa dalang di balik pembuatan para Monster, dan mengajak Militer Anarka bekerja sama.