
Julian dan Celia yang selesai mandi dan baru memasuki tenda, mereka berdua kebingungan saat semuanya sedang tertawa.
" Ada apa ini ?" tanya Julian langsung.
Okta yang sedang menggulung tempat tidurnya, dia langsung menghampiri Julian.
" Julian, mereka semua menertawakan aku " Okta merajuk manja.
Julian mengerutkan keningnya " Lah kenapa memangnya ?"
Wajah Okta memerah " gara - gara semalam " jawabnya Lirih.
Julian mau ikut tertawa, tapi dia mencoba untuk tetap tenang, karena dia tidak ingin menyakiti para wanitanya.
Julian mengusap puncak kepala Okta " sudah, sudah, mereka juga tidak bermaksud seperti itu kok, mereka hanya bercanda saja dengan kamu "
" Julian benar Ok, kita kan mana mungkin saling menyakiti satu sama lain " Seila memeluk Okta dari belakang, di ikuti Wanita Julian yang lainnya.
Okta merasa sedikit lebih baik, karena setidaknya tidak ada lagi yang mengganjal di hatinya.
Mereka pun melakukan aktivitas seperti biasanya, ada yang mandi dan mendapat giliran membuat sarapan pagi, semuanya saling melengkapi satu sama lain.
Keharmonisan mereka tampak sangat terasa, Julian saja sampai kagum dengan dirinya sendiri saat para wanitanya bahu - membahu untuk menyenangkan dirinya.
Julian tidak menyangka kalau dirinya akan mendapatkan anugrah seperti itu, dia yang dulu hanyalah seorang yang tidak punya apa - apa, dia sekarang tumbuh menjadi seseorang yang sangat di segani dalam negaranya, di tambah sepuluh wanita cantik yang selalu menemaninya setiap hari, membuat hari - harinya terasa sangat bersyukur.
Julian menemani Resty yang masih berbaring di tempat tidurnya, dia ingin memanjakannya, karena sudah berusaha sangat keras semalam.
" Apa kamu mau minum obat pereda rasa sakit Res ?" tanya Julian lembut.
Resty menggelengkan kepalanya" tidak perlu Julian, aku ingin menikmati rasa sakit ini, sebagai bukti ketulusanku untukmu "
Julian tersenyum " dari dulu kamu memang wanita yang kuat Res "
Julian menyibak rambut yang ada menutupi dahi Resty dan mengecupnya, dia ingin memanjakannya hari ini.
Resty sangat senang akhirnya dia bisa bersama dengan Julian, walaupun dia harus berbagi dengan wanita lain, menurutnya itu sepadan, karena Julian juga tidak membedakan satu sama lain.
Saat Julian sedang asyik bercanda dengan Resty di dalam tenda, tiba - tiba terdengar suara jeritan Okta dari luar tenda.
__ADS_1
" Arhhhh... sakit, sakit " Okta ambruk di tanah sambil memegangi kepalanya sambil berguling - guling di tanah.
Tentu saja semua wanita Julian yang ada di luar tenda terkejut, mereka semua langsung menghampiri Okta.
" Okta, kamu kenapa ?" tanya Liyana yang datang terlebih dahulu.
" Arghhhh, sakit.. Li, sakit.. " Okta masih meronta - ronta kesakitan.
Terlihat para wanita Julian yang lainnya sangat khawatir, mereka mencoba menenangkan Okta, tapi dia masih meronta - ronta kesakitan.
" Apa yang terjadi ?"Julian bergegas menghampiri Okta.
" Okta ! Astaga kamu kenapa ?" Julian langsung memegangi Okta.
" Kepalaku sakit banget, arhhhh... Sakit Julian.." Okta masih menjerit - jerit kesakitan.
Baru saja Julian mau memapah Okta ke dalam tenda, Seila juga terjatuh, dia juga meraung - raung kesakitan seperti Okta.
" Arhhh... kepalaku sakit... " teriak Seila.
" Apa yang sebenarnya terjadi ?" Celia menghampiri Seila yang sama seperti Okta.
" Maaf Okta, Seila " Julian terpaksa membuat pingsan mereka berdua, agar keduanya tidak meronta - ronta lagi.
Tapi tiba - tiba, Liyana, Rosi, Alina, Rachel dan Larisa juga terjatuh, mereka semua mengalami gejala yang sama, membuat Julian semakin ketakutan.
" Apa yang sebenarnya terjadi ?!" Julian tertegun di sana melihat para wanitanya yang sedang kesakitan sambil menjerit-jerit.
Dunia Julian seakan runtuh, kebahagiaan yang dia dapatkan sekarang seolah hilang dalam sekejap mata.
Julian tidak bergerak sama sekali, dia masih tertegun mematung ditempatnya, tanpa berbuat apapun.
" Plak
Celia memupuk kedua pipi Julian untuk menyadarkannya " Julian !, bukan waktunya untuk berdiam diri, ayo kita bawa pulang mereka "
Julian segera tersadar, dia menggeleng kan kepalanya " Maaf Celia, Julian membuat pingsan ketujuh wanitanya sekaligus "
Darius dan Susan yang mendengar teriakan para wanita Julian baru datang, karena mereka pikir teriakan wanita Julian karena sedang di pompa Julian. Tapi teriakannya secara bersamaan jadi mereka curiga ada sesuatu.
__ADS_1
" Astaga.. apa yang terjadi Julian !" Susan menutup mulutnya tidak percaya saat melihat para wanita Julian terkapar di tanah.
" Aku juga tidak tahu kak, mereka tiba - tiba sakit kepala dan seperti ini, sepertinya kita harus menyudahi liburan ini dan kembali ke rumah " jawab Julian sambil membawa mereka semua ke tenda terlebih dahulu.
Darius merasa ada yang janggal, kenapa wanita Julian bisa serentak seperti itu.
Tapi bukan waktunya untuk memikirkan hal itu, mereka semua langsung membereskan tempat tersebut dan akan langsung pulang.
Julian menyuruh Alpa dan Dom untuk membawa para wanitanya ke Mobil, sementara Queen di suruh untuk membawa Resty.
Tubuh Julian gemetar hebat, setelah sekian lama dia akhirnya merasakan ketakutan yang sangat dalam, ya ketakutan tersebut berasal dari Hatinya.
Resty di buat bingung dengan tindakan Julian yang dadakan mengakhiri liburan mereka, dia tidak tahu kalau saudari - saudarinya terkena sakit yang Aneh.
Bukannya di bawa ke rumah sakit, Julian membawa para Wanitanya ke rumah, dia sebelumnya sudah menyuruh Sebastian untuk menyiapkan kamar di aula Mansion, karena dia ingin merawat mereka secara bersamaan.
Julian melakukan itu karena pengetahuan Medisnya melibihi para Dokter yang ada di Bumi, di tambah bantuan kakaknya untuk mencari tahu apa penyebab para wanitanya seperti itu.
" Sial ! Kenapa aku tidak bisa melihat gejala. mereka sedikitpun ?!" Julian meraung marah saat sudah memeriksa mereka beberapa kali, tapi tidak ada hasilnya.
" Sayang sabarlah " Celia dengan lembut menenangkan Julian.
" Bagiamana aku bisa sabar Cel, lihatlah mereka yang sangat menderita itu " jawabnya tidak berdaya.
" Kamu sudah berusaha sangat keras sayang, kita pasti bisa menemukan penyebab mereka seperti ini " ucap Celia lagi sambil memeluk Julian yang duduk bersimpuh di tanah.
" Celia benar Julian, kita harus lebih bersabar lagi, kita pasti bisa menyembuhkan mereka, kak Darius juga sedang berusaha mencari tahu penyebabnya juga " Yellow menimpali ucapan Celia.
" Iya Julian, lebih baik kita fokus dulu, kalau kamu menyerah seperti ini, siapa yang akan menyelamatkan mereka ?" Resty juga buka suara.
" Kalian benar, maaf karena aku terlihat sangat menyedihkan " ucapnya dengan penuh penyesalan.
Ketiga wanita tersisa Julian menggelengkan kepalanya, mereka tahu kalau Julian sangat terpukul, karena dia menyayangi mereka semua.
Julian kemudian baru teringat, kenapa Yellow, Celia dan Resty tidak mengalami gejala sakit kepala seperti mereka.
" Tunggu dulu, kenapa hanya kalian bertiga yang tidak seperti mereka ?" Julian menemukan sebuah kejanggalan.
Julian membulatkan matanya karena terkejut, dia langsung menggertakkan giginya karena tahu ini semua adalah sebuah rekayasa yang di lakukan seseorang, tapi siapa ? Dan bagaimana dia bisa melakukannya ? Sementara Julian tidak merasakan kehadiran Orang lain begitu juga dengan Rafael.
__ADS_1