
Rapat di PT ANN akhirnya berlangsung tanpa Cytra Amalia. Padahal hari itu adalah pengukuhan dirinya sebagai Dirut menggantikan Frans Seda.
Cytra datang setelah rapat itu selesai bersama Radita dan dua anaknya. Radita yang akhirnya menolong mereka bertiga dari kamar hotel yang dikunci oleh Deryll dan Ibra. Radita tahu mereka terkurung dalam kamar hotel setelah Cytra menelpon.
"Saya minta maaf tidak bisa menghadiri rapat," ucap Cytra kepada Mellany di ruang kerjanya.
"Tidak apa-apa. Forum memaklumi karena Ibu Cytra masih terkena musibah. Untungnya anak-anak bisa ditemukan kembali," ujar Mellany.
"Mereka sengaja dibawa oleh Deryll dari hotel dan disimpan di hotel yang lain. Deryll mau menyerahkan mereka asal saya menandatangani penyerahan sebagian aset perusahaan di Australia kepadanya," Cerita Cytra.
"Saya minta maaf bodyguard yang saya sediakan untuk pengawalan Ibu tidak becus kerjanya?" Mellani merasa malu kepada atasannya itu sampai mengalami kejadian yang nyaris fatal.
"Bukan salah mereka. Mereka digaji kan untuk pengamanan saya pada saat bertugas. Itu karena kelalaian saya pribadi. Terus bagaimana hasilnya tadi."
"Begini, Bu. Rapat tadi secara umum lancar. Para investor atau stacholder menilai kebijkan yang diterapkan Ibu sudah baik. Hanya satu orang yang kurang puas. Tapi tidak masalah, itu bersifat pribadi," Mellany menjelaskan dengan serius.
"Siapa yang tidak puas?" Cytra langsung merespon.
"Bapak Frans Seda yang tadinya Dirut disini," jawab Mellany transparan.
"Oh, Bapak Frans. Tidak apa-apa. Biasa itu dalam sebuah pergantian jabatan. Pasti ada yang puas dan tidak puas," kata Cytra.
Setelah melaporkan hasil rapat. Mellany keluar dari ruang kerjanya. Cytra tidak memikirkan lagi soal Frans. Karena Sanjaya langsung menghambur kepadanya di ruang kerjanya. Sedangkan Radita cuma duduk di ruang tamu mendampingi Putra.
"Ma, Mama. Tadi Sanjaya dikasih coklat sama Om Frans," kata Sanjaya polos sambil menunjukkan kemasan coklat berbungkus panjang itu.
Cytra langsung merebut coklat itu dan dipegangnya untuk diamati.
"Dedek, ini coklat sudah kedaluwarsa tidak boleh dimakan. Nanti perutmu sakit. Dibuang saja ke tempat sampah, ya," ujar Cytra.
"Ja-jangan, Ma!" Sanjaya mencegahnya sambil merebut coklat itu kembali. Tapi Cytra mengangkat tangannya tinggi-tinggi.
Sanjaya akhirnya berteriak menangis.
"Ada apa sih ribut-ribut?" tanya Radita yang datang bersama Putra masuk ke ruang kerja Cytra.
"Ajak mereka beli coklat yang baru. Ini sudah kedaluwarsa," perintah Cytra kepada Radita.
"Ayo ikut papa keluar beli coklat," kata Radita.
Cytra kaget karena Radita menyebut dirinya papa kepada anak-anaknya.
__ADS_1
"Papa, siapa papa, Kak?" tanya Putra.
Cytra tertawa melihat mimik Radita yang kebingungan menjawab pertanyaan itu.
Kebiasaan yang berlaku di rumah panggilan untuk Radita adalah kakak. Itu benar sesuai hirarkinya. Karena Putra, Sanjaya dan Radita adalah anak keturunan dari satu ayah beda ibu. Radita adalah anak dari Samyokgie dan Agustin. Sedangkan Putra dan Sanjaya adalah anak pasangan Samyokgie dan Cytra.
"Merubah sesuatu itu tidak bisa mendadak begitu. Harus dilakukan step by step. Jangan frontal," kata Cytra memberikan pengertian.
"Yang saya lakukan tadi juga sebagai perkenalan. Bahwa mulai sekarang kalian memanggilku Papa, ya?"
"Ndak mau, Kakak saja. Kalau Papa kan sudah meninggal," kata Putra dengan lantang.
Cytra kembali terkekeh.
Rupanya perkembangan jiwa Putra lebih cepat dari usianya. Anak itu selalu merespon sangat cepat dan cerdas setiap Cytra membicarakan sesuatu. Persis seperti dirinya.
Sedangkan Radita mungkin menuruni Mamanya, Agustin. Cytra kurang tahu karakter Agustin. Karena ketika Cytra masuk ke rumah besar seperti istana itu, Agustin sudah meninggal.
"Maksudnya kakak, Putra dan Sanjaya ikut kakak beli coklat," ucap Cytra menerangkan supaya anaknya tidak bingung.
Radita cuma tersenyum malu kepada Cytra.
"Tidak masalah kau turuti saja keinginan mereka. Lain kali akan kujelaskan kepada mereka," ucap Cytra lirih kepada Radita agar Putra dan Sanjaya tidak mendengar.
"Mau apa lagi. Ayo sana Putra gandeng dedek pergi beli coklat," Cytra menyela agar Putra tidak bertanya lagi soal yang sama.
"Ma, Mama. Putra pingin punya papa, Ma," kata Putra mengejutkan.
Cytra dan Radita saling berpandangan. Siapa yang mau menjelaskan pertanyaan yang ringan tapi tidak gampang untuk menjawabnya itu.
"Ya, nanti Mama cari dulu ya. Yang Putra dan Sanjaya cocok," Cytra akhirnya yang menjawab.
Tapi Putra nampak belum puas. Dia masih tetap berdiri memandang Cytra.
"Tapi papanya jangan seperti kakak ya, Ma," kata Putra lebih mengagetkan Cytra apalagi Radita.
"Emang kenapa kalau papanya seperti kakak," Ctra ingin tahu seperti apa keinginan anaknya itu.
"Putra pinginnya papa yang jagoan, Ma. Seperti Superman yang bisa terbang yang bisa menyelamatkan kita kalau ada penjahat," ucap putra mengkhayal.
"Sudah sudah.., kamu mau ikut beli coklat apa tidak!" tukas Radita sebal melihat Putra.
__ADS_1
"Ditinggal saja, Kak. Kelamaan cih, Putra." Sanjaya menyeret tangan Radita diajak keluar dari ruang kerja Cytra.
"Aku ikut jangan ditinggal!" teriak Putra mengejar Radita dan Sanjaya yang sudah jalan duluan.
Cytra memperhatikan mereka pergi dengan harapan kedua anaknya nantinya mau menerima Radita sebagai Papanya. Bukan sebagai kakak seperti sekarang ini. Tetapi agaknya perubahan itu tidak mudah jika mendengarkan pendapat sikap Putra tadi.
Sementara di benak Radita juga sedang memikirkan hal yang sama. Ternyata apa yang semula dia anggap gampang, tidak seperti yang dibayangkan.
Semula bayangannya tinggal menunggu perceraiannya dengan Vika diketok oleh hakim, lalu menikahlah dia dengan Cytra. Namun jika mendengarkan ungkapan hati Putra tadi, tidak mungkin anak itu ia paksa agar mau menerimanya sebagai Papa.
"Kak Adit kok diam saja dari tadi. Kak Adit sakit ya?" tanya Putra saat mobil yang mereka tumpangi menuju ke supermarket.
"Iya, Kak Adit sakit hatinya," Radita pura-pura memijit dadanya. Padahal ia cuma pingin mengukur sejauh mana rasa perhatian Putra terhadap dirinya.
"Putra kan sudah tidak nakal lagi, kenapa hati Kakak sakit?" Putra nampak merasa bersalah.
Radita tersenyum dalam hati. Dulu Perilaku Putra jika di rumah memang sering rewel dan menjengkelkan. Sampai dia dan Vika kesal. Walaupun Putra dan Sanjaya lebih banyak bersama babysitter setiap harinya, namun kenakalan Putra berpengaruh sekali dalam kehidupan rumah tangganya.
Tetapi belakangan ini sikap Putra sudah berubah ke arah yang lebih baik. Entah apakah perubahan itu sudah selayaknya terjadi karena perkembangan jiwanya, atau karena adanya Cytra yang tinggal bersama mereka.
"Putra sayang tidak sih sama Mama?" tanya Radita memecah keheningan di dalam mobil itu.
"Sayang dong!" jawab Putra polos.
"Kalau sama Kakak?"
"Sayang juga!"
"Kalau Mama dan Kakak..." Radita tidak melanjutkan kata berikutnya, takut Putra belum menerimakan perubahan yang sangat mendadak itu.
Bocah kecil itu cuma memandangi Radita dengan penasaran, "kenapa tidak melanjutkan bicara," pikir Putra.
Radita tidak mau berkata-kata lagi. Perasaannya makin kikuk bicara dengan adik beda ibu itu.
Dulu waktu Cytra meninggalkannya di rumah besar seperti istana itu, Putra sudah berusia dua tahun. Entah sudah paham atau belum dengan sebab musabab kepergian Cytra, saat itu Putra menangis histeris.
Anak kecil itu menatap Radita dengan tajam seperti akan mengungkapkan sesuatu. Tatapan matanya seolah menyalahkan Radita kenapa mengusir Cytra pergi lantaran tidak mau disuruh berhenti dari pekerjaannya sebagai penyanyi cafe.
Di dalam mobil itu Radita mengingat kembali hal itu. "Mungkinkah Putra tidak menyukaiku karena trauma atas kejadian masa lalu?" tanya batin Radita.
Mobil terus melaju ke supermarket.
__ADS_1
......Hai pembaca, ini sudah sampai episode 100. Masihkah menikmati kisahnya? Balas ya...trims🙏
Bersambung