
Sam menyempatkan diri untuk kekantor sebelum dia berangkat menuju kota kecil untuk menjemput Davian, ada beberapa hal yang harus dilakukan Sam, salah satunya bertemu Monica.
Setelah makan siang bersama Monica, Sam merasa ada sesuatu yang kurang dalam menjalani harinya jika belum bertemu Monica.
"Pagi pak." Sapa Monica yang kebetulan bertemu Sam di lobby.
"Pagi." Jawab Sam dingin.
Beberapa orang menatap Sam dan Monica, baru kali ini Sam membalas sapaan dari seseorang.
Sam berjalan menuju lift, sedangkan Monica berjalan beberapa meter di belakang Sam, Sam menuju lift khusus Presdir, Monica berdiri menunggu lift karyawan bersama beberapa orang lainnya.
"Monica." Panggil Sam.
Monica berjalan cepat menghampiri Sam
"Iya pak." Jawab Monica.
"Ke ruangan saya langsung." Ucap Sam sambil melangkah masuk ke dalam lift.
"Baik pak." Jawab Monica sambil berjalan menuju lift karyawan.
"Mau kemana?" Tanya Sam melihat Monica melangkah pergi.
"Masuk." Kata Sam kemudian yang sudah tahu Monica akan menggunakan lift karyawan.
Monica masuk ke dalam lift Presdir dengan tatapan dari beberapa karyawan.
"Hari ini saya ada keperluan di luar, kamu bantu mengecek ini." Kata Sam ketika dia dan Monica sudah berada di ruang kerjanya.
__ADS_1
"Apa ba...." Sam memotong ucapan Monica.
"Kerjakan seperti biasa, saya percaya padamu." Sam berjalan keluar ruangan dengan tatapan bingung dari Monica.
- - -
Sam baru saja tiba di rumah sakit setelah berkendara cukup jauh, dia akan menjemput Davian, Sam telah menerima kabar dari dokter Sifa bahwa Davian sudah berbaikan dengannya.
"Sejak kapan kamu tiba Sam?" Tanya Davian melihat kedatangan Sam.
"Baru saja." Jawab Sam berjalan menuju sofa.
"Kenapa cepat sekali." Ujar Davian sembari makan dengan di suapi dokter Sifa.
"Wah wah wah, seperti ada yang berharap aku tidak datang." Sam berdecak sambil melihat Davian.
"Aku kira kamu baru datang besok." Kilah Davian padahal dia benar berharap Sam tidak datang hari ini.
Davian menekuk wajahnya mendengar ejekan Sam, dokter Sifa mengelus lembut pipi Davian melihatnya merajuk.
"Nanti gantengnya hilang lho." Ucap dokter Sifa menggoda Davian.
"Bagaimana keadaan perusahaan?" Tanya Davian berusaha mengalihkan topik pembicaraan.
"Tidak usah memikirkan perusahaan, pikirkan saja kelanjutan hubungan kalian." Ucap Sam sembari tertawa keras.
"Lebih baik kamu keluar Sam." Kata Davian dengan senyum mengembang.
"Apa kamu bisa pulang sendiri." Sam mengangkat alisnya.
__ADS_1
Setelah selesai makan Davian langsung bersiap untuk kembali ke kota, dia sebenarnya masih ingin tinggal beberapa hari lagi, rasanya dia masih ingin melihat senyum dokter Sifa.
"Kamu nanti kontrol setelah lima hari Dav." Ucap dokter Sifa membantu Davian bersiap.
"Nanti aku kesini lima hari lagi dok." Jawab Davian dengan senyum lebar.
"Apa kamu sedang mencari kesempatan." Ucap Sam dengan nada mengejek.
"Apa kamu tidak dengar dokter Sifa meminta kontrol lima hari lagi." Protes Davian.
"Iya tapi kamu bisa kontrol di rumah sakit terdekat." Ucap dokter Sifa yang membuat Sam tertawa lebar.
"Diam Sam!" Davian sambil menatap tajam Sam, Sam semakin mengeraskan suara tawanya.
- - -
Lobby rumah sakit
Terlihat raut wajah sedih dokter Sifa saat mengantar Davian ke lobby rumah sakit.
"Hati hati dijalan Dav." Kata dokter Sifa tanpa senyum manis di bibirnya.
"Dokter ikut saja pulang." Pinta Davian dengan tatapan memohon.
"Belum ada alasan untuk ku pulang." Jawa dokter Sifa tersenyum tipis.
"Aku akan menjadi alasanmu pulang dok." Davian memeluk dokter Sifa.
"Tunggu aku, aku akan menjemputmu." Davian melepaskan pelukan kemudian mengecup kening dokter Sifa.
__ADS_1
Dokter Sifa melambaikan tangan ketika mobil Davian mulai melaju meninggalkan rumah sakit.
"Aku tunggu Dav." Kata dokter Sifa dalam hati.