WANITA TERAKHIR

WANITA TERAKHIR
BANTUAN DARI SAM


__ADS_3

Davian melangkah keluar gedung dengan mimik muka yang sangat menunjukkan kemarahannya, beberapa orang yang menyapa pun di acuhkan oleh Davian, Sam berjalan dibelakang Davian seperti biasa.


Davian langsung masuk ke dalam mobil setelah Sam membukakan pintu mobil.


"Sam." ucap Davian ketika mobil sudah melaju.


"Hem." jawab Sam tetap fokus mengemudi.


"Hancurkan hidup mereka!" Sam langsung menoleh dengan tatapan tajam, dia memperhatikan wajah Davian memastikan pendengaran nya tidak salah.


"Dav." ucap Sam.


"Jangan membantah Sam." kata Davian dengan nada suara tinggi.


"Baiklah." jawab Sam.


Sepanjang perjalanan mereka hanya diam, Sam enggan mengajak bicara Davian yang terlihat sedang sangat marah, Sam masih berpikir tentang ucapan Davian yang memberi perintah menghancurkan dokter Sifa dan dokter Ferry.


Sam yang sudah sangat mengenal Davian tidak menyangka hal itu, semarah apa pun Davian tidak pernah terbesit di pikirannya dia menginginkan untuk menghancurkan hidup seseorang.


Sam langsung pergi setelah mengantar Davian pulang, dia ingin beristirahat hari yang sangat melelahkan untuk Sam.


Sam sampai dirumahnya dia langsung melemparkan badannya ke atas ranjang, pikirannya sedang sangat kacau, satu sisi dia harus menjalankan perintah Davian tapi di sisi lain dia tak menyangka akan menghancurkan kehidupan dokter Sifa.

__ADS_1


"Apa yang terjadi dengan mu Dav," ucap Sam dalam hati.


Sam terus berpikir jalan terbaik yang harus dia ambil, meskipun dia sangat marah dengan dokter Sifa yang dengan tega mempermainkan Davian tapi Sam sadar bagaimana pun awal kedekatan mereka karena dokter Sifa yang menolong Davian bangkit dari keterpurukannya setelah di putuskan oleh Andini dan kepergian tuan Abas.


- - -


Sam sudah berdiri di depan rumah dokter Sifa pagi pagi sekali, dia berangkat lebih pagi dari pada biasanya karena Sam harus kerumah dokter Sifa dulu.


Dokter Sifa membuka pintu setelah mendengar suara bel berbunyi.


"Sam." ucap dokter Sifa terkejut melihat Sam sudah berdiri di depan rumahnya sepagi ini.


"Mari masuk." ucap dokter Sifa ramah.


Sam masuk ke dalam rumah dokter Sifa tanpa mengucapkan apapun.


"Dokter." kata Sam, dokter Sifa berhenti sejenak.


"Duduklah." ucap Sam kemudian.


Dokter Sifa langsung duduk tanpa bertanya karena melihat mimik wajah serius dari Sam.


"Dokter." ucap Sam memulai obrolan.

__ADS_1


"Terakhir saya sudah memperingatkan dokter untuk tidak muncul di depan Davian." omongan Sam terputus.


"Aku hanya ingin minta maaf Sam." ucap dokter Sifa penuh penyesalan.


"Dokter telah membuat kesalahan lebih besar lagi." Sam berbicara datar tapi terdengar begitu menakutkan.


"Maksud mu Sam?" tanya dokter Sifa bingung


Sam mengusap mukanya beberapa kali sebelum menjawab pertanyaan dokter Sifa, dalam hidupnya selama bekerja dengan Davian baru kali ini Sam melanggar perintah Davian.


"Davian telah memberi perintah." Sam terdiam ada rasa ragu di hatinya untuk bercerita.


"Apa Sam?" tanya dokter Sifa dengan penasaran.


"Untuk menghancurkan hidup dokter dan dokter Ferry." jawab Sam dengan nada suara lirih tapi penuh ketegasan.


Dokter Sifa langsung menangis mendengar penuturan Sam, dia menangis karena merasa bersalah telah mengubah Davian, dokter Sifa sudah tahu bahwa Davian sekarang sangat dingin, dia beberapa kali melihat secara langsung perilaku Davian di rumah sakit.


"Lalu kenapa kamu mengatakan hal itu padaku Sam?" tanya dokter Sifa dengan air mata berurai.


"Saya melihat dokter Sifa orang baik, dokter datang untuk membantu Davian bukan menyakiti Davian." Sam berhenti sejenak mengambil nafas panjang.


"Tidak ada yang salah dalam hal ini, saya sudah memikirkannya semalaman, hanya keadaan saja yang tidak memihak pada Davian." ucap Sam dengan tatapan nanar.

__ADS_1


"Hari ini juga dokter harus pergi, semua sudah saya atur, semoga dokter mengerti, semua demi kebaikan bersama." Sam berdiri sejenak menatap dokter Sifa.


"Terimakasih telah hadir di hidup Davian, lupakan Davian, saya yang akan mengurusnya dokter." Sam berlalu meninggalkan dokter Sifa yang masih terisak dengan suara tangis yang semakin keras.


__ADS_2