WANITA TERAKHIR

WANITA TERAKHIR
Bab 92 Ancaman Hidup Cytra


__ADS_3

Pagi yang cerah tapi menyedihkan sedang berlangsung di rumah besar seperti Istana itu...


Putra dan Sanjaya merengek minta Cytra mengantarnya sekolah. Putra sudah mengenakan seragam SD sedang Sanjaya TK. Tapi sementara Mellany dan dua asisten lainnya sudah menunggunya untuk segera berangkat ke Bali.


"Mama tidak bisa mengantar kalian masuk sekolah. Karena Mama mau kerja. Tuh sudah ditunggu oleh teman-teman Mama," kata Cytra sedih tidak bisa memenuhi keinginan dua putranya yang sangat ia sayangi itu.


"Putra tidak mau sekolah kalau bukan Mama yang mengantar!" jerit Putra ngambek.


"Sanjaya juga!" jerit adiknya ikutan.


"Ya, Tuhan. Jangan buat pusing Mama. Ok kali ini saja kalian berangkat dengan mbak dan om yang biasanya mengantar kalian. Besok ganti Mama yang mengantar kalian," Cytra berusaha menenangkan dan memberi harapan.


"Janji loh, Ma. Dosa loh kalau Mama bohong," tukas Putra lucu.


"Iya Mama janji. Sekarang anak-anakku yang pinter agar berangkat sekolah dulu tanpa diantar Mama. Ok?"


Kedua anaknya diam saling berpandangan. Seperti orang dewasa yang sedang bertukar pikiran. Lalu mereka pamitan berangkat sekolah dengan mencium tangan Cytra lebih dulu.


"Putra berangkat ya, Ma!"


"Sanjaya berangkat, Ma!"


Kedua bocah itu lalu dengan lincahnya naik ke atas mobil yang biasanya mengantar mereka ke sekolah. Wajah-wajah mereka sangat ceria, polos memandang Cytra yang melambaikan tangan dengan sedih.


"Ya, Tuhan aku telah berbohong kepada mereka. Apakah benar besok aku bisa mengantar mereka sekolah. Padahal tugas dan pekerjaanku makin banyak dan berat," rintih hatinya.


Cytra merasa bersalah lebih peduli pada kepentingan orang lain selama ini. Sementara kepentingan anak-anaknya ia nomor duakan. Mengantar sekolah saja ia belum pernah. Apalagi merawatnya setiap hari.


Tiba-tiba sekarang mereka telah tumbuh menjadi anak yang tegar. Masih beruntung mereka masih mengingat dirinya sebagai ibu. Bagaimana jika mereka tidak menganggapnya sebagai ibu lagi karena sering meninggalkannya dan tak pernah merawatnya.


"Oh, Tuhan. Apa yang mesti kulakukan menghadapi masalah kehidupanku ini.


Sesungguhnya Cytra ingin bersama mereka selalu. Pagi melihat wajah mereka segar baru bangun tidur. Malam melihat wajah-wajah mereka teduh dalam dekapannya. "Oh, Tuhan. Maafkan aku," rintih hatinya sedih.


Dua air bening menetes dari sudut matanya. Lalu cepat-cepat ia menghapusnya ketika Mellany mendekat kepadanya.


"Ibu Cytra...," panggil Mellany pelan karena melihat Cytra masih sibuk dengan suasana batinnya.

__ADS_1


"Sebentar aku Tenangkan perasaanku dulu," kata Cytra mengira Mellany sudah tak sabar ingin mengajak berangkat kerja. Karena hari itu rencananya akan ke PT ANN di Bali.


"Ibu Cytra kalau masih kangen sama anak tidak usah berangkat ke bali dulu. Biar kami saja yang menyelesaikan masalah di PT ANN. Yang penting ada mandat dan restu dari ibu," kata Mellany.


Kata-kata asistennya membuat Cytra mendongak memandang Mellany gembira.


"Kenapa tidak dari tadi kau punya pikiran seperti itu?" tanya Cytra heran.


"Kami tidak berani mengganggu ibu yang sedang bersama anak-anak tadi," jawab Mellany merasa bersalah.


"Ya, sudah kalian berangkat ke Bali. Kemarin kan sudah saya paparkan apa saja permasalahannya. Dan satu lagi pesan saya. Hati-hati dengan orang yang namanya Frans. Tapi sebenarnya dia tidak punya kekuatan apa-apa di ANN. Kalian bisa lihat di dokumennya nanti," kata Cytra memberikan arahannya kepada anak buahnya itu.


Frans memang salah satu ancaman dalam hidup Cytra ke depan. Orang itu yang telah membuat Morgant marah menuduhnya telah berselingkuh.


"Siap, Bu. Kami mengerti. Kalau begitu kami bisa berangkat sekarang ya, Bu," ijin Mellany.


"Ok. Hati-hati di jalan."


Rombongan anak buahnya itu lalu berangkat dengan satu mobil ke Bali. Sementara satu mobil lagi yang dipakai Cytra ditinggal.


Beberapa saat ketika Cytra sedang sibuk di kamarnya, asisten rumah tangga tergopoh-gopoh datang mengabarkan ada tamu wanita bule dan seorang pria tampan.


Cytra sudah tahu dari Radita kemarin bila Deryll dan Ibra akan datang. Maka ia menyuruh asistennya itu untuk mempersilahkan tamunya masuk ke ruang tamu.


Semenit kemudian Cytra menghampiri mereka yang sudah ada di ruang tamu.


"Hallo Deryll...! Kapan kamu datang dari Australia?" sapa Cytra memeluk wanita bule itu.


Tapi Deryll menanggapinya hambar. Sedangkan Ibra di kursinya duduk dengan tanpa ekspresi.


"Jangan sok baik kamu kepadaku. Aku tahu kebaikanmu punya maksud jahat kepadaku," kata Deryll membuat Cytra terkejut.


"Apa yang telah saya lakukan semata-mata menjalankan perintah Morgant. Saya belum selesai bekerja. Nanti kalau sudah selesai baru aku sampaikan kepada kamu," kata Cytra menjelaskan.


"Tidak perlu kau jelaskan saya sudah tahu. Kamu mau mengusai seluruh perusahaan Morgant. Kamu kira aku tidak tahu hal itu?" kata Deryll dengan nada tinggi.


"Tadi saya katakan saya belum selesai menjalankan perintah morgant yang ada dalam surat wasiat itu. Saya tidak punya niat untuk menguasainya," dengan sabar Cytra menjelaskannya.

__ADS_1


"Saya tidak percaya. Jelas dengan kamu tidak memberi tahu soal surat wasiat itu jelas kalau kamu mau menguasai harta kekayaan Morgant seluruhnya," kata Deryll menyengat.


"Terserah kamulah kalau kau tetap menuduhku begitu. Tetapi sesungguhnya saya tidak punya maksud begitu. Walaupun secara hukum saya sebagai istri Morgant yang syah, sangat berhak atas seluruh harta kekayaannya. Sedangkan kamu adalah istri yang sudah diceraikan," kata Cytra akhirnya sedikit menohok perasaan Deryll.


"Saya memang sudah cerai. Tapi saya masih berhak untuk pembagian warisnya," Deryll tak mau mengalah.


"Bukankah itu sudah kamu terima waktu pengadilan memutuskan kamu cerai dengannya?"


"Tetapi itu tidak adil. Morgant terlalu sedikit melimpahkan haknya kepadaku."


"Itu karena kesalahan kamu sendiri. Karena kamu sudah berselingkuh di depan mata suamimu," kata Cytra lebih menyengat.


Mendengar itu Derill berdiri dari sofa hendak menyerang Cytra. Tetapi ditahan oleh Ibra.


"Sudah kamu tidak perlu ribut-ribut disini. Sekarang kamu pulang saja. Nanti akan saya kabari lagi kalau aku sudah selesai menyelesaikan permasalahan manajemennya," kata Cytra merendahkan emosinya yang tadi sempat naik.


"Memangnya ada kesalahan manajemen apa. Selama ini saya kira tidak ada masalah yang krusial," Deryll tetap tak percaya kalau Cytra ingin bermaksud baik kepadanya.


"Perlu kamu ketahui seluruh perusahaan Morgant tidak sehat manajemennya. Sebagian malah menunggak hutang. Kamu mau menanggung hutang-hutang itu yang nilainya tidak sedikit?"


"Enak saja saya yang disuruh menanggung hutang perusahaan," Deryll mundur dan duduk kembali di sofa.


"Makanya. Kamu diam saja tidak perlu menuduhku macam-macam. Saya yakin bisa menyelesaikan masalahnya. Semua karyawan pasti senang tidak ada yang terancam di-PHK," kata Cytra berusaha menenangkan perasaan Deryll, tetapi wanita itu kelihatan masih emosional.


"Saya tunggu hasilnya nanti. Tetapi jika kau bohong, akan kuadukan kau ke Polisi telah menggelapkan aset dan kekayaan suamiku," kata-kata Deryll masih keras.


"Morgant bukan suamimu lagi. Karena kamu sudah diceraikannya."


"Brengsek kau, Cy," Deryll emosional lagi dengan menggebrak meja. Akhirnya tanpa minta ijin lebih dulu kepada Cytra, Deryll diseret Ibra keluar dari rumah besar seperti istana itu. Lalu setelah diluar dinaikan ke atas mobilnya dan dibawa pergi entah kemana.


Cytra memperhatikan kepergian Deryll dengan perasaan sedih juga. Wanita bule itu sebenarnya punya hati baik tapi mudah emosional sikapnya. Tidak pernah menggunakan pikirannya untuk berbuat sesuatu.


Padahal Cytra sudah merencanakan untuk bersama-sama mengelola aset kekayaan Morgant yang melimpah itu termasuk sejumlah perusahaannya. Tetapi dengan kejadian barusan Cytra merasa semakin terancam dalam hidupnya ke depan.


Apalagi Deryll dalam pesan whatsapnya kemudian menyatakan perang kepada Cytra.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2