
Cytra masih tetap duduk di ruang tamu setelah tiga orang tamu Ridwan dan kedua orangtuanya pulang. Sedangkan Putra dan Sanjaya sudah kembali bermain di halaman bersama Pak Jono.
Terbayang lagi wajah Umi Salmah saat mengamati sejumlah foto Cytra yang sedang bernyanyi di cafe yang terpampang di dinding. Jelas bahwa perempuan itu tidak suka kepada dirinya. Hal itu nampak dari mimiknya yang mencibir.
Seandainya perempuan itu kemudian menghalangi Ridwan menikah dengannya, hal itu tidak jadi soal. Tapi yang membuatnya tersinggung adalah kenapa begitu membenci profesi penyanyi cafe.
Cytra akhirnya ingat Tante Mira dan anaknya Maulana Ridwan. Kebencian Umi Salmah terhadap profesi penyanyi cafe jelas terkait kisah cinta suaminya dengan Tante Mira. "Pantas saja dia mencibirku begitu tajam," gumamnya.
Tidak lama setelah merenung di ruang tamu itu, datang Putra dan Sanjaya dengan balapan berlari. Lalu finis dengan menubruk badan mamanya hingga terpental jatuh ke sofa.
"Oit!! Ada apa ini kok pakai lomba berlari segala?" tanya Cytra dengan tersenyum riang.
"Ada tamu lagi di depan, Ma!" Seru dua anak genius itu dengan riang.
"Tamu lagi? Rasanya rumah ini sudah tidak steril lagi, sudah diketahui banyak orang," keluh Cytra.
"Mama sudah tidak nyaman lagi bersembunyi disini?" tanya Putra yang sudah mulai paham dengan urusan Mamanya.
"Siapa tamu yang datang. Kenapa tidak disuruh masuk?"
"Putra disuruh Pak Jono bilang dulu sama Mama. Diperbolehkan masuk atau tidak?"
"Bilang sama Pak Jono suruh masuk saja tamunya," kata Cytra.
Tapi sebelum Putra dan Sanjaya keluar Pak Jono datang menemui Cytra.
"Maaf Nyonya, tamunya anak muda agak sinting," kata Pak Jono.
"Agak sinting?" Cytra ingat kepada adik Ridwan yaitu Maulana Ridwan. "Tanyakan namanya siapa. Kalau namanya Maulana suruh dia masuk kalau bukan kunci saja pintunya.
Belum sempat Pak Jono kembali ke depan tiba-tiba tamu tersebut muncul diambang pintu dengan sikapnya yang selengean.
__ADS_1
"Halauuu...bidadariku yang cantik. Sedang berembuk apa kalian?" Tamu yang ternyata memang benar Maulana Ridwan itu menyapa dengan gayanya yang khas.
Cytra kaget sebentar. Kemudian meminta Pak Jono dan dua anaknya bermain lagi di halaman.
"Silahkan duduk. Bagaimana kabar Mamamu?"
"Kok yang ditanya Mama sih, bukan hamba sahayamu ini," ucap Maulana selengean.
"Buat apa tanya anak muda yang tidak tahu sopan santun seperti kamu," Cytra mengucapkan itu dengan nada bergurau.
Maulana tertawa ngakak dan baru mau duduk di kursi tamu yang beberapa menit lalu diduduki oleh Ridwan dan kedua orangtuanya.
"Sepertinya aku mencium bau tamu yang baru pulang dari tempat ini," kata Maulana.
"Ya, kakakmu dan kedua orangtuanya baru saja dari sini."
"Waduh! Berarti aku kedahuluan mereka untuk melamar bidadariku."
"Memangnya kamu datang kesini sendirian dengan pakaian compang camping begitu mau melamar aku juga?"
"Ya, jelas dong. Kecuali kau datang dengan baik-baik dengan pakaian yang bener. Aku akan pikirkan."
"Sebenarnya aku kesini bukan untuk tujuan itu. Aku cuma mau memberitahu bahwa Mamamu sudah tidak ada lagi di rumahku. Sekarang dia sudah menempati rumah baru bersama Radita," ujar Maulana mengagetkan.
"Jadi mereka sudah menikah dan hidup bersama?" tanya Cytra dengan nada sedih.
"Ya, begitulah. Tapi bidadariku tidak perlu sedih begitu. Masih banyak lelaki yang baik dan lebih baik dari Radita. Diantaranya aku ini," ucap Maulana menggoda.
"Kamu dan Mamamu ikut membantu dalam perjodohan mereka," ucap Cytra kesal karena saat itu mereka meninggalkan Radita dan Vionita sendirian di rumah.
"Mama merasa ikut bersalah dan minta maaf atas insiden itu. Walaupun semula Mama merencanakan mereka menikah, namun tidak seperti itu kejadian yang diinginkan," kata Maulana menjelaskan perasaan Mamanya tentang insiden di rumahnya itu.
__ADS_1
"Sudahlah aku tidak ingin mendengar lagi soal kejadian itu. Dan aku tidak ingin bertemu dengan mereka. Sampaikan saja aku senang mereka bisa hidup bersama."
Disaat mereka sedang ngobrol berdua, di perjalanan pulang perasaan Ridwan tidak enak meninggalkan Cytra dengan tanpa hasil yang jelas. Mamanya, Umi Salmah malah menambahn perasaannya berkemelut.
"Sudah batalkan saja rencanamu menikah dengan si Janda sok kaya itu," kata Umi Salmah di dalam mobil yang membawa mereka pulang setelah bertemu dengan Cytra.
Ridwan yang berada di samping sopir tidak mau menanggapi celotehan Maminya tersebut. Dia sangat paham mengapa di mata Maminya sosok penyanyi cafe adalah machluk yang paling jelek di dunia.
"Aku melihat ada yang tak beres dalam hidup Cytra," suara Umi Salmah terdengar lagi.
"Masa seorang penyanyi cafe bisa hidup semewah itu. Pasti dia melakukan sesuatu yang tak wajar dalam mengumpulkan harta kekayaannya."
Ridwan yang sedang keruh memikirkan Cytra akhirnya merasa perlu bicara agar Maminya mau menerima Cytra sebagai mantunya.
"Cytra tidak sekonyong-konyong hidup bergelimang harta, Mi. Dia itu sudah kerja keras dari sejak kuliah dengan menjadi penyanyi cafe. Dan ternyata bakatnya tidak cuma menyanyi. Setelah berhasil meraih sarjana bisnis cytra bekerja di perusahaan swasta. Kalau kini punya sejumlah perusahaan itu berkat warisan suaminya yang orang bule."
"Tuh dengar tidak, Mi! Mami tidak perlu komentar lagi soal Cytra. Ingat Mi, dia itu sudah dipilih oleh Ridwan. Kita harus menghargai pilihan anak kita. Jangan malah membuat down semangatnya," kata Haji Aris menasihati istrinya.
"Sikap kita harus tegas dalam masalah ini, Pi. Kalau tidak kita akan menyesal di kemudian hari karena tidak mau menasihati anaknya yang salah memilih calon istri."
"Tapi menurut Papi pendapat Mami kurang berdasar. Dan sangat subjektif. Masa baru melihat beberapa menit saja sudah bisa menyimpulkan kalau Cytra sok kaya dan mencurigai kehidupannya tidak wajar."
"Coba Papi melihat kehidupan Mira yang juga penyanyi cafe itu. Sekarang bandingkan dengan Cytra. Apakah wajar seorang penyanyi cafe memiliki kekayaan yang melimpah ruah begitu punya rumah besar, mobil mewah," kata Umi Salmah tak mau disalahkan.
Tak kuat mendengar kata-kata Mamanya yang terus menjelekan diri Cutra, Ridwan minta sopir menghentikan mobilnya di pinggir jalan lalu dia turun.
"Mami dan Papi pulang dulu. Saya masih ada perlu lagi," kata Ridwan dan langsung mencegat taxi. Teriakan Mami dan Papinya agar dia kembali lagi ke Mobil dan pulang ke rumah tidak ia gubris.
"Kemana Bang?" Tanya sopir taxi sambil menjalankan kendaraannya.
Ridwan lalu menyebutkan alamat rumah Cytra. Hatinya sudah bulat kalau pilihannya sudah tepat. Percuma mendengarkan komentar dan usulan Maminya. Sebab jelas Maminya tidak akan bisa menerima Cytra sebagai mantunya.
__ADS_1
Di perjalanan menuju ke rumah Cytra dadanya terasa lebih bergetar dibandingkan ketika bersama orangtuanya. Entah apa yang akan ia katakan setelah bertemu dengan Cytra lagi.
Bersambung