
Siapa bilang bahwa Radita legawa dengan keputusan Cytra yang menunda pernikahan.
Sebenarnya tidak. Itu cuma basa-basi saja kemarin di depan Cytra. Bagaimana bisa legawa
rencana pernikahan yang sudah lama dirintis bersama, ketika mendekati pelaksanaan tiba-tiba ditunda untuk beberapa waktu ke depan.
Ada apa gerangan??
Wajar saja jika kemudian Radita curiga kepada Cytra. Maka esok harinya ketika semua belum bangun Radita keluar dari rumah pagi-pagi sekali.
Di perjalanan keinginan untuk mengetahui apa yang sedang terjadi pada diri Cytra dipikir lagi. Kalau hari ini pergi sendirian ke rumah Tante Mira untuk menemui Vionita, rasanya mirip kejadian beberapa tahun lalu. Dia pergi ke rumah Tante Mira untuk menemui cinta pertamanya, Vionita.
Radita masih sangat muda saat itu. Baru lulus sarjana. Sedangkan Cytra baru semester terakhir dan tidak pernah bertemu dengan Radita. Karena Cytra memilih hidup sendiri di tempat kos, berpisah dengan Vionita yang tinggal di rumah besar seperti istana itu dengan suaminya yang tidak pernah mencintainya. (Baca Gelora Asmara Tuan Samyokgie).
Begitulah, Radita masih sangat muda saat kali pertama jatuh cinta. Entah dari mana datangnya perasaan itu, tiba-tiba saja ia merasa jatuh cinta kepada wanita yang lebih tua.
"Kalau misalnya aku bertemu dengannya jangan sampai aku jatuh cinta lagi kepadanya," gumam Radita di dalam mobil yang meluncur dengan kecepatan sedang di atas jalan raya.
Pak Ob yang sedang mengemudikan mobil mendengar gumamam Radita itu. Tapi tidak berani menyeletuk atau bertanya wanita mana yang membuat tuannya itu jatuh cinta.
Sementara itu Cytra di rumah yang sejak semalam susah tidur, pagi itu ingin sekali ngobrol dengan Radita. Biar persoalannya menjadi jelas, tidak ada kesalahpahaman, bahwa dia hanya menunda pernikahan dengan Radita bukan membatalkan.
Tetapi ketika ia keluar dari kamarnya keadaan rumah sepi. Kata para asisten rumah tangga Tuan Radita sudah berangkat kerja pagi sekali.
"Kemana dia pergi ya?" gumam Cytra curiga.
Tidak biasanya calon suaminya berangkat kerja pagi sekali. Paling jam 10.00 biasanya Radita baru bersiap-siap pergi ke tempat kerjanya. Hari ini kok pagi sekali sudah berangkat kerja.
"Dengan sopir apa sendiri tuan perginya, Bi?"
tanya Cytra kepada seorang asisten rumah tangga yang biasa mengurus di bagian dalam.
__ADS_1
"Dengan Pak Ob tadi," jawab asisten rumah tangga itu.
"Makasih, Bi. Sekarang Bibi bisa bekerja lagi."
Cytra kemudian meninggalkan wanita paruh baya itu lalu masuk ke kamarnya. Mengambil hape. Mencari nomor Radita lantas diklik.
Di tengah perjalanan Radita terkejut mendengar hapenya berdering. Ketika ia buka bertambah terkejutnya yang menelpon adalah Cytra.
["Halo, sayang. Ada apa pagi-pagi sekali sudah menelpon saya?"] terdengar suara Radita menyahut.
["Saya yang mau tanya, ada apa pagi-pagi sekali Mas sudah pergi."]
["Ada kepentingan yang mendadak di kantor. Tidak sempat kasih tahu,"] jawab Radita tidak mau terus terang.
["Mas sedang marah sama saya, ya."] Cytra tidak mau bertanya apa yang sebenarnya ingin ia tanyakan.
["Tidak, kok. Saya malah senang ditunda. Karena kita lebih leluasa menyiapkan segala sesuatunya. Tidak gugup dan tergesa-gesa."] Radita malah menjawab apa yang sedang dipikirkan oleh Cytra.
["Saya cuma ingin memastikan apa jawaban Mamamu tentang rencana pernikahan kita."] Kata Radita akhirnya karena Cytra sudah menduganya pergi ke rumah Tante Mira.
Padahal ada hal yang lebih penting lagi yang ingin diketahuinya. Yaitu munculnya cowok tampan di rumah Tante Mira. Seperti hasil crosceknya dengan Pak Ob dan Beni.
["Kenapa tidak mengajakku, Mas. Kalau begini caranya berarti Mas tidak percaya lagi denganku,"] kata Cytra sewot.
["Kamu kemarin tidak mengatakan ada cowok tampan di rumah tante Mira. Padahal Pak Ob cerita itu, juga Beni. Kan wajar kalau saya pingin melihatnya."]
Kalimat Radita itu cukup membuat Cytra mati kata. Ia tidak bisa mengelak lagi akan fakta itu. Menyesal dia kenapa kemarin tidak ia ceritakan saja soal Ridwan anak tante Mira. Kini Radita malah mengulik soal itu.
["Saya tidak punya perasaan apa-apa dengan cowok itu. Kenapa repot-repot ingin kau buktikan omongan Pak Ob dan Beni."]
["Saya tidak menuduh kamu punya perasaan kepadanya. Kenapa kamu keberatan aku ingin kenalan dengannya?"] kata Radita kalem tapi cukup membuat perasaan Cytra tersentuh.
__ADS_1
Memang Cytra belum melakukan apa-apa dengan cowok itu. Berkenalan saja belum. Tapi setidak-tidaknya hatinya sudah mengakui kalau Ridwan adalah cowok yang tampan. Dan penampilannya yang urakan itu satu sisi yang menarik dalam pandangan mata Cytra.
["Saya tidak keberatan soal kamu mau kenalan atau mengorek keterangannya barangkali ada apa-apa denganku. Tapi aku keberatan kenapa kau mau menemui Vionita. Mau kembali kepadanya?"] kata Cytra hingga Radita teringat kembali kisah lamanya dengan Vionita.
["Ya' ampuuun. Jadi dari tadi kamu itu cemburu kalau aku mau menemui Vionita. Dia itu mama kandungmu, Cy. Masa kamu cemburu terhadap mamamu sendiri."]
Radita salah menilai isi hati Cytra. Misalkan iya CLBK itu terjadi Cytra malah senang. Tapi bukan itu yang sedang dikhawatirkan Cytra.
["Terserah kamulah! Kesana mau CLBK atau curiga saya pacaran dengan anaknya tante Mira, terserah kamu menuduhku,"] kata Cytra akhirnya sewot.
Mendengar kalimat Cytra itu Radita malah tertawa riang.
["Kamu itu aneh, Cy. Kenapa sih kalau kamu tenang-tenang saja di rumah. Tidak usah kau cemaskan aku pergi ke rumah tante Mira."]
["Bodo ah! Terserah kamu,"] ucap Cytra sewot lalu ia putus sambungan komunikasi dengan Radita.
Di dalam mobil Radita menyimpan lagi hapenya ke saku baju. Tapi ia masih tersenyum-senyum senang membayangkan mimik wajah Cytra yang sewot kepadanya.
Saat itu Radita pergi dari rumah pagi-pagi sebenarnya tidak langsung ke rumah tante Mira. Tetapi menuju ke kantornya dulu untuk urusan pekerjaan sambil menenangkan perasaannya mau bertemu dengan Vionita.
Tetapi setelah bicara dari hati ke hati dengan Cytra di telpon tadi, perasaan Radita yakin bahwa ada sesuatu di balik pertemuan Cytra dengan mamanya. Tidak mungkin begitu cepat Cytra menunda pernikahan.
Setelah menyelesaikan seluruh pekerjaannya, yaitu menandatangani setumpuk map berisi berkas laporan dan perencanaan dari para staf bagian, sore harinya Radita baru bisa keluar dari kantornya.
Sempat ia berpikir untuk tidak jadi pergi ke menemui Vionita karena pekerjaan kantor ternyata selesai sampai sore. Tapi rasa penasarannya kepada cowok yang diceritakan Pak Ob dan Beni itu, membuat mobilnya meluncur keluar kota Jakarta.
Setelah menempuh perjalanan sekiar dua jam, sampailah dia di rumah tante Mira yang keadaannya jauh sudah berubah lebih bagus dari yang dia lihat dulu. Tetapi rumah itu sepi. Walaupun lampu-lampu rumah menyala terang. Entah penghuninya pada kemana.
Sedangkan di samping rumah itu terlihat sebuah cafe yang cukup ramai. Sejumlah pramusaji nampak sibuk menghidangkan menu makanan dan minuman yang dipesan. Dari dalam terdengar alunan musik live yang lembut.
Lagu yang terdengar itu mengingatkannya kepada Vionita. Merupakan lagu favorit Vionita kalau tampil menyanyi. Menjadikan terbayang lagi saat-saat bermesraan dengan wanita cantik berhati lembut itu.
__ADS_1
Bersambung