WANITA TERAKHIR

WANITA TERAKHIR
KEPERGIAN TUAN ABAS


__ADS_3

Pintu ruang perawatan tuan Abas terbuka, dokter Sifa keluar dengan wajah yang mengguratkan kesedihan, mereka serempak menoleh, suasana yang tadi sangat panas dan tegang mendadak hilang berganti dengan tatapan penuh tanya melihat dokter Sifa melangkah gontai ke arah mereka, Davian yang terlihat sangat emosi kepada tuan Abas langsung menatap dokter Sifa dengan raut kesedihan, dia seperti sudah bisa mengartikan ekspresi dari dokter Sifa.


Aditya langsung bangun menatap dokter Sifa


"Bagaimana kondisi ayah dok?" tanya Aditya dengan suara parau.


Dokter Sifa tidak menjawab pertanyaan Aditya, dia hanya meneteskan air mata, Aditya langsung berlari masuk ke dalam ruangan tempat tuan Abas di rawat di ikuti oleh Andini.


Dokter Sifa merasa sangat emosional karena dia dekat dengan tuan Abas, dokter Sifa merupakan dokter pribadi tuan Abas dan dokter kepercayaan tuan Abas di rumah sakit miliknya itu.


"Katakan dokter." Davian berkata dengan suara tinggi.


"Tuan Abas sudah pergi." jawab dokter Sifa yang kini sudah menangis.


Davian langsung berdiri mematung dengan air mata yang keluar dengan sendirinya, dunianya seakan runtuh mendengar pernyataan dokter.


Dengan langkah gontai dia memasuki ruangan, di sana pemandangan yang sangat pilu dia lihat, tuan Abas sudah terbujur kaku di sebelahnya Aditya sedang menangis histeris.


Davian duduk terjatuh di lantai, sekarang dia merasa kehilangan yang teramat sangat menyakitkan, lebih sakit dari pada saat dia harus merelakan Andini.

__ADS_1


Sam masuk kedalam melihat Davian sedang duduk bersimpuh, dia segera menghampiri Davian.


"Bangunlah, tuan akan bersedih melihatmu seperti ini." ucap Sam sembari menarik tangan Davian agar bangkit, kemudian Sam menuntun Davian ke arah sofa yang tak jauh dari situ.


Tuan Wisnu dan nyonya Lisa masuk kedalam hanya berdiri tanpa berkata apa apa, mereka menghampiri Aditya yang terlihat sangat terpukul dengan kepergian tuan Abas.


Dokter Sifa sudah duduk di sebelah Davian, Sam memintanya untuk menemani Davian.


"Dia sudah seperti ayah bagiku." ucap Davian sambil menunduk.


Dokter Sifa langsung menoleh ke arah Davian, dia mengelus punggung Davian dengan lembut.


Davian seperti ingin berbagi kesedihan kepada orang lain.


Dokter Sifa mendengar dengan seksama sambil terus mengelus punggung Davian untuk menenangkan dan menguatkan Davian.


Davian bangun ketika melihat tuan Abas akan di pindahkan


"Sebentar." ucap Sam menahan petugas yang akan mendorong ranjang tuan Abas

__ADS_1


Davian berjalan mendekat ke arah tuan Abas.


"Terimakasih Paman, selanjutnya percayakan Aditya padaku." ucap Davian dan memeluk tuan Abas.


Andini berjalan sambil menuntun Aditya meninggalkan ruangan itu, dia melirik Davian beberapa saat, hatinya terasa sakit melihat Davian yang begitu hancur, tapi dia memilih meninggalkan Davian karena sudah berjanji pada David untuk fokus pada Aditya.


Sam menatap Andini dengan tatapan penuh kebencian.


"Bagaimana bisa dia seperti itu di depan Davian." kesal Sam dalam hati.


"Ayo kita pulang, kita tunggu tuan Abas dirumah." ajak Sam.


Davian berjalan dengan di papah oleh dokter Sifa, sedangkan Sam keluar lebih dulu untuk menyiapkan mobil.


"Bolehkan aku ikut?" pinta dokter Sifa melihat Davian.


Davian mengangguk menyetujui permintaan dokter Sifa.


"Jangan bersedih, tuan Abas orang baik dia pasti mendapat tempat terbaik." dokter Sifa berkata menguatkan Davian kembali.

__ADS_1


Davian terus berjalan tanpa menjawab atau menimpali ucapan dokter Sifa.


__ADS_2