
Sehari setelah kejadian di "Paviliun Bunga", Cytra mendengar Mama Vionita membuka Cafe bersama teman akrabnya Mira di sebuah tempat yang cukup ramai.
Maka hari itu bersama sopir pribadi dan seorang bodyguard, Cytra menuju ke sebuah cafe tempat Vonita berada. Sedang Radita tidak ikut karena ada kesibukan sendiri mengurus perusahaan.
"Kamu kalau mau menemui mamamu silahkan saja, tapi maaf aku tidak bisa ikut karena ada urusan penting di kantor," kata Radita sebelum Cytra pergi.
"Harusnya sih Mas ikut. Karena sekalian disamping melihat usahanya yang baru, kita minta doa restunya. Hanya dia satu-satunya orang tua kita yang masih hidup," rayu Cytra karena kehadiran Radita sangat penting.
"Sudahlah kamu saja, Sayang. Kali ini saya memang tidak bisa meninggalkan pekerjaan. Saya titip salam saja untuk mamamu," ujar Radita.
Akhirnya Cytra pergi sendiri ditemani sopir pribadi dan bodyguard. Dalam hati Cytra agak kecewa Radita tidak ikut. Tetapi kemudian dimakluminya.
Alasan Radita ada kesibukan sendiri sehingga tiak bisa ukut menemui Vionita, mungkin terkait pula dengan kenangan masa lalu. Dimana Radita pernah mencintai Vionita hingga hampir menikah. Tetapi akhirnya mereka putus.
Entah apa penyebabnya hubungan mereka itu putus. Kata Vionita yang pernah Cytra dengar katanya Radita playboy. Tapi hal itu belum tentu benar. Karena yang Cytra lihat setelah itu Radita hidup membujang cukup lama. Dan tahu-tahu menikah dengan Vika yang kemudian bercerai belum lama ini.
Hampir dua jam jarak yang ditemluh Cytra hingga sampai di cafe Vionita.
Bangunan cafe itu tak begitu besar. Tapi kelihatan ramai banyak orang sedang menikmati menu makanan di mejanya masing-masing. Sejumlah pramusaji yang berseragam merah hitam sibuk melayani pembeli.
Setelah turun dari mobil dengan dikawal bodyguard, Cytra tidak masuk ke dalam cafe itu. Tetapi berjalan menuju ke bangunan rumah kuno yang ada di samping cafe. Itulah rumah Mira yang dulu sama-sama bekerja sebagai penyanyi di discotik.
Ketika pintu yang diketuk Cytra dibuka penghuni rumah, Cytra kaget karena yang muncul bukan Vionita atau Mira. Melainkan seorang pria masih muda, tampan tapi kelihatan urakan.
"Cantik sekali bidadariku ini, mau cari siapa?" Kata pria itu merayu.
Cytra mundur beberapa centi sebelum menjawab pertanyaan pria yang kelihatan kurang waras itu.
"Saya mencari Vionita atau Mira adakah di rumah ini?"
"Oh, Tante dan Mami. Saya tidak tahu. Saya saja ya ada ya bidadariku yang cantik," sambil berkata begitu pria itu maju hendak mencolek dagu Cytra.
Melihat itu bodyguard yang berada di samping Cytra langsung bereaksi manangkap tangan pria itu dan menekuknya hingga berteriak kesakitan.
"Jangan, Ben. Saya tidak apa-apa kok."
"Sialan! Siapa dia bidadariku. Kasar sekali!"
__ADS_1
"Kamu yang kasar! Belum kenal sudah mau colak colek!" Bodyguard bertubuh kekar itu balas membentak dan mata mendelik.
Si pria urakan itu tidak takut dia maju melayangkan pukulan ke muka Beni. Tapi dengan mudah dapat dihindari dengan hanya memalingkan mukanya ke kanan. Si pria urakan itu malah terkena pukulan kecil Beni di bagian perutnya. Hingga ia menunduk menahan sakit dengan memegang perutnya.
"Hai ada apa kalian ribut-ribut!"
"Cytra!"
Dua wanita sebaya yang baru datang tiba-tiba berteriak melerai perkelahian kecil itu. Mereka ternyata Vionita dan Mira.
Beni dan pria urakan itu langsung berhenti berkelahi. Sedangkan Cytra dan Vionita berpelukan menumpahkan kerinduannya. Karena sudah lama tidak bertemu.
"Kalian itu kenapa kok sampai berkelahi. Ini Ridwan anak saya, Cy," kata Mira memandang Cytra yang kini jauh berubah penampilannya. Bahkan sampai membawa bodyguard segala.
"Maafkan kami yang sudah membuat keributan disini, Tante. Tadi cuma salah faham saja. Karena belum kenal," kata Cytra.
"Siapa dia, Cy?" tanya Vionita menunjuk ke arah Beni.
"Biasa, Ma, yang mengawal Cytra."
"Kamu punya jabatan apa sampai punya pengawal segala?" tanya Vionita heran campur senang.
"Lho kok malah ngobrol di luar, ayo masuk ke dalam, Cy," ajak Mira.
Mereka lalu masuk ke dalam. Sedang Ridwan ngeloyor meninggalkan mereka megambil sepeda motornya lalu pergi dengan menggeberkan knalpotnya keras-keras.
Sementara Beni bergabung lagi dengan Pak Ob yang masih stanby di dalam mobil.
"Ridwan itu anak Tante Mira? Saya tidak tahu kalau Tante punya anak sudah sebesar itu," kata Cytra berbasa-basi.
"Cakep tidak anak Tante, Cy?" tanya Mira.
Cytra kaget ditanya seperti itu. Sepertinya ada maksud tertentu dibalik pertanyaannya.
"Cakep tante tapi kok penampilannya seperti seniman begitu sih tante," kata Cytra kemudian apa adanya.
"Iya, dia memang seniman, lulusan sarjana seni dan desain," kata Tante Mira membanggakan anak satu-satunya.
__ADS_1
"Oh, gitu ya."
"Von kita jodohkan saja ya anak kita. Gimana kau setuju?" ajak Mira kepada Vionita kemudian.
Cytra terhenyak mendengar itu. Dijodohkan? Apa mereka tidak tahu kondisi dirinya sekarang? Seorang lady boss yang mengelola sejumlah perusahaan besar, yang setiap keluar dikawal bodyguard? Wanita hebat seperti itu apakah pantas bersanding dengan pria urakan dan belum mempunyai pekerjaan itu.
"Apakah Ridwan tidak punya pacar tante?" celetuk Cytra hanya untuk basa-basi saja. Tapi Mira menanggapinya lain, mengira Cytra merespon positif tawarannya itu.
"Belum, Cy. Gimana Von ini anaknya sudah mau. Kamu kok bingung gitu," kata Mira nampak berharap sekali.
"Terserah Cytra saja, saya sebagai ibunya tinggal merestui," ucap Vionita menambah keruh pikiran Cytra.
"Kalau sudah oke semua saya tinggal bilang sama Ridwan untuk menikah dengan Cytra," kata Mira dengan mimik seperti baru mendapatkan lotre miliaran rupiah.
"Sebentar, tunggu dulu, Tante. Saya kan belum mengatakan setuju, kenapa sudah dibilang setuju?" Cytra menyela.
"Kamu tidak perlu bilang setuju. Karena Tante tahu di dalam hatimu mengatakan setuju di jodohkan dengan Ridwan."
Alamak! Mati aku! Kacau pikiran Cytra
"Gimana, betulkan apa kataku," kalimat Mira yang terkesan memaksa itu menyeruak kembali pikiran Cytra.
"Waduh, gimana ya, Tante?" Cytra kebingungan.
"Udah jangan gimana-gimana. Tante sudah cocok kok sama kamu."
"Begini, Tante. Saya kesini ini sebenarnya mau minta doa restu sama Mama, kalau saya mau menikah," Cytra akhirnya buka saja apa maksud dan tujuannya yang belum disampaikan dari tadi.
Mendengar itu Vionita dan Mira terkejut dan saling berpandangan.
"Gimana sih kamu, Cy. Kenapa tidak bilang dari tadi," Mira nampak kecewa.
"Iya, terus terang aku sendiri baru tahu sekarang, Mir," Vionita menimpali.
"Waduuh..., gimana sih ini anak dan ibu. Masa persoalan sepenting itu tidak dikonfirmasikan lebih dulu," Mira seperti menyalahkan Cytra dan mamanya.
"Saya minta maaf, Mir. Saya benar-benar baru tahu sekarang. Habis kami tidak pernah bertemu atau berkomunikasi," Vionita merasa tidak enak dengan sahabat karibnya yang telah banyak membantunya itu.
__ADS_1
Bersambung
*Maaf, berhubung banyak reader minta dilanjut, untuk saat ini kisah WT belum akan tamat, semoga bisa dinikmati 🙏🙏🙏