
Benarkah cinta itu harus mengorbankan segalanya, gumam Cytra menakar cintanya kepada Radita.
Beberapa waktu lalu di rumah besar seperti istana itu posisi dirinya masih memiliki nilai tawar tinggi di hadapan Radita. Karena dia seorang lady boss, pengelola beberapa perusahan besar warisan mendiang suaminya yang kedua, Mr Morgant.
Tetapi sekarang Cytra merasakan dirinya turun sekian level di hadapan Radita. Hal itu Cytra rasakan sejak Ibra betemu dengannya di kantin sekolah Putra. Hari berikutnya Radita mulai banyak mengatur dirinya di rumah besar seperti istana itu.
Cytra masih menganggap wajar dan mentolerir kalau cuma kegiatan rutin di rumah dan menjaga anak-anak yang diatur oleh Radita. Tapi kalau aktivitasnya dalam pekerjaan diatur juga, apakah perlu ia takar kembali cintanya kepada Radita.
Seperti pagi itu Cytra seharusnya sudah berada di Bali. Asistennya Mellany mengabarkan nanti malam akan ada rapat dengan para investor dan stakeholder, melanjutkan pertemuan sebelumnya.
"Saya bukan mengekang atau membatasi aktivitasmu dalam pekerjaan. Tapi demi untuk kepentingan kita bersama menjelang pernikahan sebaiknya kau harus bisa mengatur diri dengan disiplin," kata Radita.
"Saya kira aku bisa mengatur diriku dengan baik tanpa kau atur-atur begitu, Mas," ucap Cytra kesal.
"Tapi seorang wanita mendekati pernikahannya pergi jauh-jauh bagi orang jawa itu tabu, Sayang," Radita mengingatkan.
"Saya pergi untuk bekerja bukan mau piknik."
"Menurut saya pekerjaanmu masih bisa diatur. Bukankah kau bisa melakukannya dengan daring dari rumah."
"Saya sudah sering ijin untuk bertemu langsung dengan para stakeholder. Aku nanti akan dianggap tidak profesional memimpin perusahaan."
Cytra tak mau berdebat lebih panjang lagi. Setelah mengatakan itu dia beranjak berdiri dan melangkah keluar.
"Kau mau kemana, Sayang?"
"Maaf, Mas. Saya harus ke Bali sekarang dengan pesawat. Besok saya sudah sampai di rumah lagi."
"Terserah kamulah kalau diatur calon suamimu tidak mau," Radita nampak mengeluh.
Cytra tahu apa yang harus ia lakukan. Maka ia dekap tubuh Radita dengan erat. Untuk membuat Radita legawa melepasnya pergi Cytra hadiahi ciuman manis di bibirnya.
Radita tak bisa berbuat apa-apa mendapat sergapan mesra dari Cytra seperti itu. Tatapan matanya kosong mengiringi Cytra berjalan ke mobilnya yang mewah itu. Dan sedetik kemudian lady boss itu lenyap dari pandangannya.
Radita baru sadar telah melepas Cytra pergi ke bali ketika terdengar suara anak kecil menyapanya di depan pintu itu.
"Mama pergi kemana, Pa?" anak kecil yang ternyata Putra itu bertanya.
Radita kaget bukan main Putra memanggilnya Papa. Seketika ia jongkok dan memeluk Putra dengan penuh kasih sayang.
"Papa, mata papa berair. Papa menangis?" ucap anak kecil itu.
Radita tidak bisa berkata-kata. Sungguh hatinya sangat terharu. Putra yang dulu menolaknya jadi papanya sekarang mau memanggilnya Papa dengan jelas.
"Aku terharu, Putra. Aku sudah lama menunggu saat-saat yang membahagiakan ini," Radita menghapus air matanya.
"Mama sudah bilang sama Putra. Kalau Kakak mau jadi suami Mama. Lalu Putra disuruh memilih memanggil Kakak menjadi Papa atau tetap Kakak. Karena dua panggilan itu kata Mama tidak salah," si anak genius berkata cukup masuk akal.
"Mamamu bener. Terserah Putra memanggil Kakak atau Papa kepada saya," kata Radita.
"Gimana ya enaknya," anak genius itu meletakan jari telunjukya di kening seperti orang dewasa sedang berpikir. Sehingga kelihatan lucu dipandang.
__ADS_1
Radita tertawa riang melihat tingkah Putra itu.
"Sudahlah Papa atau Kakak sama saja," kata Radita sambil mengajak Putra masuk ke dalam rumah kembali.
"Tapi Putra sudah biasa memanggil kakak."
"Ya tidak masalah kalau mau panggil kakak. Tapi Putra tidak keberatan kan kalau kakak jadi suami Mamamu?" tanya Radita setelah sampai di ruang keluarga dan duduk di sofa.
Putra mengangguk-angguk menandakan setuju.
"Tapi, Kak. Om Ibra katanya mau jadi ayah Putra juga," kata anak genius itu tiba-tiba.
Radita seperti tersengat listrik 12 volt mendengarnya.
"Tahu darimana kamu!" Suara Radita bergetar.
"Om Ibra sendiri yang bilang."
"Kapan itu?"
"Waktu ngantar Putra pulang sekolah," jawab anak genius itu lugas.
"Om Ibra bohong. Mama sudah tidak suka sama Om Ibra."
"Om Ibra katanya Cinta sama Mama. Begitu juga Mama...." Putra terus bercerita dengan jujurnya.
Radita mendengarkan dengan hati panas karena cemburu. Tapi ia pura-pura bersikap tenang di depan anak kecil itu.
Setelah Putra selesai bercerita Sanjaya datang mengajak Putra bermain. Tinggalah kini Radita sendirian di ruang keluarga itu dengan perasaan cemburunya.
"Putra!" panggil Radita kepada anak itu yang sedang asyik bermain dengan Sanjaya.
"Ada apa, Kak." Putra mendekat ke Radita.
"Mau tidak ikut Kakak menyusul Mama?"
"Mau, Kak!" Sanjaya menjawab lebih dulu.
"Kemana, Kak?" tanya Putra.
"Kita ke Bali lagi. Kalian belum lihat dari dekat patung GWK yang besar itu, kan?"
"Apa sih, Kak?"
"Patung Garuda Wisnu Kencana."
"Tapi besok Putra dan Sanjaya kan masuk sekolah, Kak."
"0h, iya. Kakak lupa. Kalau begitu biar Kakak sendiri yang menyusul Mama ke Bali."
"Iya, Kak. Putra dan Sanjaya tinggal di rumah."
__ADS_1
"Tapi jangan nakal ya kalian."
"Tidak Kak."
"Ok. Nanti kakak yang bilang sama bibi biar kalian berangkat sama om dan mbak yang biasa mengantar kalian."
Tapi kemudian ketika Radita mau menemui bibi di ruang belakang tiba-tiba hape Radita berdering. Ternyata Ibra yang menelpon.
["Selamat siang bagaimana kabar Tuan Radita?"] terdengar suara dengan logat Ibra yang khas.
Radita tidak menjawab. Ia tahu Ibra telpon cuma iseng saja. Setelah itu pasti dimatikan. Namun ternyata sampai semenit kemudian Ibra masih menunggu jawabannya.
["Halo Tuan Radita. Apakah anda dengar suaraku?"]
"Ganggu orang saja kamu dasar playboy busuk!" Belum apa-apa Radita sudah mengumpat.
["Sabar, Tuan. Saya ini mau berbaik hati."]
"Saya tidak butuh kebaikan playboy seperti kamu!" Radita masih meninggikan suaranya.
["Sabar, jangan berprasangka buruk dulu,"] kata Ibra enteng saja.
"Apa sih yang bisa diperbuat playboy seperti kamu tanpa niat busuk."
["Perbuatan buruk apa sih yang aku lakukan terhadapmu?"]
"Cytra sudah cerita kepadaku semuanya. Termasuk waktu kau menemui dia di kantin samping sekolah. Kamu mau merayu dia, kan?"
["Jangan menyalakan aku dulu atau dia. Itu pertemuan yang tidak kami rencanakan."]
"Siapa yang mau percaya pada mulut manis seperti kamu. Kamu berikan hadiah mainan kepada anaknya. Apakah itu bukan bentuk rayuan?"
["Sudah kukatakan bahwa itu pertemuan yang tidak disengaja. Saya hanya menitipkan hadiah untuk anaknya saja. Karena dia pingin robot baru karena robotnya sudah kau pecahkan."]
"Tidak usah betele-tele. Untuk apa kau menelponku sekarang."
["Nati kau tuduh aku mau macam-macam lagi?"]
"Sudah katakan cepat. Aku tak punya waktu lagi untuk kamu." Radita memang sudah tak sabar lagi pingin pergi menyusul Cytra.
["Sabar, jangan marah loh. Saya ini sekarang sedang bersama Cytra.]
Bagai tersambar geledek di siang bolong Radita mendengar omongan Ibra tersebut.
"Cytra memang sekarang sedang pergi, tetapi tidak mungkin bersama kamu!" ucap Radita jengkel.
"Mau bukti? Sekarang dia bersamaku disini sedang menunggu pemberangkatan pesawat?"
"Tidak perlu. Kalau pun benar itu cuma kebetulan saja kau bertemu dengannya. Bukan merupakan kesengajaan Cytra pergi bersamamu."
"Kebetulan atau tidak dia kini pergi bersamaku ke Bali dalam satu pesawat dan satu tempat duduk."
__ADS_1
"Sudah jangan kau besar-besarkan omong kosongmu itu. Aku lebih percaya Cytra daripada playboy bermulut bau seperti kamu," pungkas Radita lalu ia putus sambungan telepon dengan Radita.
Bersambung