WANITA TERAKHIR

WANITA TERAKHIR
Bab 131. Rencana Menikah


__ADS_3

Tidak sulit bagi Ridwan untuk menyampaikan rencananya untuk menikah. Mami dan Papinya nampak menyambut gembira.


"Kapan kamu akan menikah, Nak. Biar Mami dan Papi mempersiapkan dulu apa yang akan dibutuhkan?" kata Umi Salmah kepada anaknya.


"Ya, nanti dong, Mi. Ini aku kan baru menyampaikan keinginanku saja. Belum sampai ke pelaksanaannya. Mami dan Papi belum tahu juga kan wanita yang akan kupilih." Ridwan minta orangtuanya supaya bersabar dulu.


"Siapa pun wanita yang akan kau pilih, Mami dan Papimu setuju-setuju saja. Karena kamu ini sudah terlambat menikah. Seharusnya dua tahun lalu kamu sudah punya anak dan Mami sudah menggendong cucu. Tapi nyatanya baru sekarang kau punya rencana itu."


"Mamimu betul, Rid. Saya lihat kamu itu sudah lebih dari pantas menikah. Usiamu sudah 31 tahun. Tapi sampai sekarang pacar saja belum punya," Papi Ridwan, Haji Aris menimpali.


"Kamu jangan kalah sama adikmu, anaknya Papimu itu. Kemarin dia juga mengatakan sudah punya pacar ya, Pi?" Umi Salmah menyinggung soal Maulana, anaknya Haji Aris dengan istri keduanya Mira Sani.


"Kalau dia sih Papi belum berharap untuk menikah. Kelakuannya saja masih cuek dan urakan begitu."


"Mami juga punya pendapat begitu, Pi, berharap Ridwan menikah lebih dulu karena lebih tua. Kalau Maulana belakangan saja tidak masalah. Dan sepertinya anak itu belum berpikir masa depan. Masih seneng main."


"Gimana sih kok malah membicarakan anak urakan itu," keluh Ridwan.


"Iya, Papi sih!" Umi Salmah menyalahkan suaminya.


"Kok aku sih! Orang Mami yang menyinggung dia dulu," Papi Aris tak mau disalahkan.


"Sudah-sudah kok malah saling menyalahkan," keluh Ridwan tidak suka melihat kedua orang tuanya berdebat.


Kedua orangtua itu lalu diam. Menunggu Ridwan bicara lagi.


Dulu mereka malah hampir setiap hari berdebat. Bahkan tak jarang bertengkar. Terutama ketika Umi Salmah usul agar Maulana Ridwan ikut satu rumah dengan ibu kandungnya saja. Tidak usah ikut mereka. Karena anak itu selalu membawa aura tidak nyaman di dalam rumah.


Pada awalnya Haji Aris menolak. Karena Maulana adalah anaknya sendiri sama dengan Ridwan. Harus mendapatkan hak yang sama. Jangan dibeda-bedakan. Soal kelakuannya yang urakan itu mungkin karena masih dalam proses mencari jatidiri.


Tapi kemudian Haji Aris setuju karena Umi Salmah terus mendesak. Bahkan minta suaminya untuk memilih dirinya atau Maulana yang keluar dari rumah. Akhirnya suaminya mengalah. Dan ketika disampaikan kepada Maulana, anak itu tidak keberatan tinggal dengan ibu kandungnya sendiri, Mira.


"Gimana, nih. Mau dilanjutkan tidak topik pembicaraan tentang rencana saya itu?" kata Ridwan kemudian.


"Kalau Papa sih terserah kamu saja, Rid. Kapan kamu akan menikah dan siapa wanita yang mau kau nikahi itu," kata Papinya.

__ADS_1


"Kamu sudah berapa lama pacaran dengan dia. Mami kok tidak tahu."


"Baru beberapa hari yang lalu kok, Mi. Kami bertemu di rumah mitra bisnis kita Pak Yanu di Bali."


"Saudaranya Pak Yanu bukan?" tanya Papinya.


"Bukan. Kebetulan saja dia bertamu disitu," jawab Ridwan.


"Siapa namanya?" tanya Umi Salmah.


"Cytra, Mi. Lengkapnya Cytra Amalia."


"Cantik juga namanya. Pasti cantik pula wajahnya," Haji Aris menyela dengan semangat.


"Hati-hati, Rid. Jangan kau kenalkan dulu dia dengan Papimu. Bisa kambuh lagi penyakitnya," ledek Umi Salmah.


"Masa sih, Mi. Saya kan sudah tua sudah bertobat. Pengalamanku dengan Mira itu sebagai cambuk yang sangat berharga yang tidak bakal terulang."


"Iya, Pi. Mami percaya kok. Tapi sampai sekarang Mami masih trauma dengan kejadian itu."


"Pokoknya Mami minta kamu jangan sampai main ke cafe atau discotik. Nanti bisa seperti Papimu kecantol penyanyi dan punya anak si urakan itu," ujar Salmah menyinggung lagi masa lalu suaminya.


"Mira itu wanita baik-baik, Mi. Dia bekerja di cafe hanya menyanyi. Karena keahliannya cuma disitu. Tidak ada lahan pekerjaan lainnya yang cocok," Aris membela diri.


"Cafe atau discotik itu tempat hiburan malam. Sebaik-baiknya orang yang bekerja di tempat seperti itu pasti imbasnya terkesan jelek."


"Mami jangan menilai seperti itu pada orang yang bekerja di cafe. Banyak juga orang yang baik dari sana dan akhirnya menjadi orang besar," Ridwan ikut mendukung pendapat Papinya.


"Kalau pendapat Mami tidak begitu. Sepanjang masih ada pekerjaan lainnya yang lebih baik ya jangan bekerja di tempat yang bisa berpengaruh jelek begitu."


Salmah ngotot dengan pendapatnya itu. Suaminya memaklumi. Karena dia ikut menerima akibatnya ketika suami bergaul dengan wanita cafe. Sehingga sekarang dia menjustifikasi bila orang yang bekerja di tempat hiburan malam itu buruk.


Meski begitu Haji Aris memuji kesabaran istrinya itu. Walaupun merasa tersakiti karena hidup sebagai wanita yang dimadu, dari mulutnya tidak pernah keluar kata cerai. Saat itu dia cuma menunjukkan sikap tidak suka dengan kelakuan suaminya.


Perlawanannya yang terakhir dilakukan dengan tidak mau menerima hasil hubungan gelap suaminya dengan Mira. Apalagi tinggal satu rumah dengannya. Sehingga saat itu Mira dan Aris sempat tinggal di rumah kontrakan dan belakangan rumah tersebut akhirnya dibeli dan ditempati oleh Mira dan anaknya itu.

__ADS_1


"Kalau wanita yang kau taksir itu bekerja dimana?" tanya Maminya kepada Ridwan.


"Dia seorang kontraktor, Mi. Memiliki sejumlah perusahaan di Indonesia dan di luar negeri," kata Ridwan menirukan omongannya Bu Winar saat memperkenalkan profesi Cytra.


"Allahuakbar! Kamu akan menikah dengan seorang konglomerat, Nak! Apakah dia mau menikah denganmu yang cuma pengusaha ritel?" Umi Salmah nampak grogi.


"Sepertinya dia mau, Mi. Kami sudah bincang-bincang bersama dari hati ke hati. Dari situ saya tahu kalau dia wanita baik-baik dan tidak sombong."


"Sebentar. Kekayaannya yang melimpah itu apakah punya orangtuanya atau dia sendiri?"


"Punya dia sendiri, Mi."


"Masa sih masih muda bisa menguasai kekayaan sampai melimpah begitu besarnya," Umi Salmah takjub tapi setengah tak percaya.


"Harta yang melimpah itu adalah warisan dari suaminya yang sudah meninggal."


"Ouw! Berarti Cytra itu janda. Kenapa tidak kau cari wanita lainnya saja yang masih lajang. Kan banyak sekarang wanita lajang yang cantik-cantik."


"Mami itu gimana sih. Orang dia cintanya sama Cytra kok disuruh cari wanita lainnya," kata Papinya mendukung pilihan Ridwan.


"Cytra itu seorang pengusaha kontruksi yang berhasil, Mi. Kalau saya lihat profilnya dia bukan wanita yang membanggakan kekayaan suaminya. Dia wanita yang sangat mandiri, Mi."


"Tuh anak kita, Mi. Memilih wanita yang punya prestasi dan mandiri. Saya kira sudah bagus dan benar seleranya," Papinya menambahkan.


"Bukan itu yang saya masalahkan. Tapi kenapa memilih janda. Berarti sudah punya anak juga kan?"


"Sudah Mi. Dua anaknya."


"Beli satu langsung dapat tiga dong. Tidak perlu lama kita langsung punya dua cucu dan satu mantu, Mi," kata Papinya senang.


"Kalau tidak ada yang dipermasalahkan lagi. Rencana Cytra mau saya ajak ke rumah. Kenalan sama Mami dan Papi."


Kedua orangtuanya diam saling berpandangan. Ridwan tidak tahu apa yang ada dalam pikiran mereka.


Rencana menikah itu sudah bulat. Tinggal bagaimana pelaksanaannya. Ia sangat berharap orangtuanya setuju dengan wanita pilihannya sendiri.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2