
Davian berjalan lurus dengan tatapan tajam ke depan di koridor rumah sakit, Sam mengikuti langkah Davian dari belakang tanpa berkata sedikitpun, pagi ini Davian menghubungi Sam untuk mengantarnya ke rumah sakit setelah mendapat kabar tuan Abas di temukan pingsan di rumahnya.
Dokter Sifa yang melihat Davian menyapa Davian dengan hangat, tapi Davian terus berjalan tanpa mengindahkan dokter Sifa, Sam yang mengetahui hal itu langsung menatap dokter Sifa dengan tatapan sendu dan menganggukkan kepala, dokter Sifa yang mengetahui arti anggukan kepala Sam pun tersenyum sambil menggelengkan kepala
"Tidak papa aku tahu perasaan Davian saat ini."
Di depan ruang perawatan tuan Abas, Davian masih berdiri mematung dan menatap tajam ke dalam ruangan, di dalam ruangan ada Aditya yang sedang duduk sambil terisak yang di tenangkan oleh Andini, sedangkan tuan Wisnu dan nyonya Lisa berdiri di sebelah tuan Abas.
"Bagaimana kondisi paman?" tanya Davian kepada asisten tuan Abas yang berdiri di sebelah pintu masuk ruang perawatan.
"Tuan masih koma." jawab asisten tuan Abas dengan suara lirih.
Sam membukakan pintu kemudian Davian memasuki ruangan, Davian langsung menuju ke tempat tuan Abas sedang berbaring lemah, dia seakan tidak memperdulikan ada tuan Wisnu yang berada di situ.
Tuan Wisnu menoleh dan langsung menatap dengan tajam ke arah Davian, dia terkejut dengan kehadiran Davian di situ.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya tuan Wisnu dengan nada suara dingin
Davian hanya terdiam tidak menjawab pertanyaan tuan Wisnu, dia masih berdiri mematung menatap tuan Abas.
__ADS_1
Tuan Wisnu hendak menepuk punggung Davian, tapi Sam terlebih dahulu menangkap tangan tuan Wisnu dan menatapnya tajam dengan sorot mata mengintimindasi.
"Siapa kamu?, berani sekali memperlakukan ku seperti ini!" ucap tuan Abas kesal melihat tangannya di cengkram erat oleh Sam.
Sam masih menatap tuan Abas dengan aura permusuhan yang sangat terlihat dari raut wajahnya.
"Tuan Wisnu yang terhormat jadilah orang terhormat hari ini atau anda akan mempermalukan diri anda sendiri." ucap Sam dingin.
Tuan Wisnu balik menatap Sam dengan tajam, dia bahkan tidak mengenal Sam sama sekali bagaimana Sam bisa mengenal dirinya dan berani berkata seperti itu.
Aditya dan Andini menghampiri mereka, perdebatan Sam dan tuan Wisnu menimbulkan kegaduhan yang juga membuat asisten tuan Abas masuk ke dalam ruang perawatan.
"Seret mereka keluar!" perintah tuan Wisnu pada asisten tuan Abas sambil menunjuk Sam dan Davian secara bergantian.
Sam menoleh ke arah asisten tuan Abas, dia memberikan kode dengan kepalanya, asisten tuan Abas langsung menghampiri tuan Wisnu.
"Maaf tuan, tuan bisa menunggu di luar." ucap asisten tuan Abas pada tuan Wisnu.
Tuan Wisnu melotot mendengar ucapan asisten tuan Abas
__ADS_1
"He siapa yang memerintah mu?" ucap tuan Wisnu dengan nada tinggi.
"Mari tuan." kali ini asisten tuan Abas menarik tangan tuan Wisnu, tidak terima dengan perlakuan asisten tuan Abas, tuan Wisnu langsung menepis tangan asisten tuan Abas dengan kasar.
Di tengah tengah keributan, alat pendeteksi detak jantung tuan Abas berbunyi dan menampilkan garis lurus, Davian langsung berteriak.
"Sam panggil dokter cepat."
Sam langsung berlari untuk memanggil dokter.
Beberapa dokter memasuki ruangan dengan tergopoh gopoh, selanjutnya para keluarga pasien di persilahkan untuk menunggu di luar.
Keributan antara Sam dan tuan Wisnu belum selesai, di luar tuan Wisnu yang tidak terima dengan perlakuan asisten tuan Abas meluapkan emosinya dengan berteriak pada asisten tuan Abas.
"Tuan jika tuan masih membuat keributan maafkan saya jika menyeret tuan keluar dari rumah sakit ini." ucap Sam dengan nada suara lirih tapi mengancam.
Tuan Wisnu yang mendengar ucapan Sam bertambah emosi, dia mengangkat tangannya dan bersiap memukul Sam.
Davian langsung berdiri, saat ini kondisinya sedang sangat emosional melihat keadaan tuan Abas ditambah lagi dia melihat keributan yang di timbulkan oleh tuan Wisnu.
__ADS_1
"Om silahkan pergi!" teriak Davian tepat di depan muka tuan Wisnu.
Tuan Wisnu terdiam shock melihat Davian sangat berani kepadanya, dia menoleh ke orang yang ada di situ, nyonya Lisa dan Andini hanya diam, sedangkan Aditya masih duduk dan menunduk seolah tak peduli dengan kejadian yang menimpa tuan Wisnu.