WANITA TERAKHIR

WANITA TERAKHIR
Bab 155. Cinta Yang Terungkapkan


__ADS_3

BRAK!!


Suara pintu kamar hotel terdengar keras menggetarkan dinding jantung Cytra. Jelas sekali wanita berambut pirang dan bermata biru itu marah meninggalkan kamar hotel.


Setelah Hanna pergi Cytra kemudian bilang kepada Alberto mau pulang. Tetapi pria tampan itu menahannya untuk tidak buru-buru meninggalkan kamar hotel.


"Hayo duduk di teras lagi. Saya sudah pesankan makanan dan minuman untuk merayakan keberhasilan kita," ujar Alberto.


Cytra turuti kemauan Aberto. Entah ada kekuatan apa dalam diri pria itu sehingga cytra seperti kerbau yang dicucuk hidungnya. Menurut begitu saja apa yang dia mau.


Apakah itu tandanya jatuh cinta? Sejak pertama kali berkenalan Cytra memang sudah terkesan dengan ketampanan keponakan mendiang suaminya itu. Tapi ia malu untuk mengungkapkan perasaan itu. Selain Al adalah saudara mendiang suaminya, juga masih muda terpaut beberapa tahun dengan dirinya.


"Kini kamu sudah bebas, tidak ada lagi Hanna yang akan mengganggumu. Apakah masih ada lagi yang kau inginkan dariku?" tanya Cytra.


"Untuk sementara ini tidak ada. Tapi walaupun begitu aku masih membutuhkan kamu disini," jawab Alberto.


Perkataan Alberto itu membuat hati Cytra bertanya-tanya. Sepertinya Alberto akan mengungkapkan sesuatu? Mungkinkah dia merasa jatuh cinta seperti diriku juga?


Walaupun lebih tua dari Alberto, Cytra masih kelihatan seoerti gadis. Apalagi saat dipergoki Cytra mengenakan singlet dan celana pendek. Cytra terlihat masih seperti gadis belia.


Kesan yang sama muncul lagi dalam hati Roberto ketika menunggui Cytra mandi di kolam renang. Dada Alberto sempat bergetar melihat body wanita beranak dua itu yang masih padat dan seksi.


Namun Alberto masih Ragu untuk menyatakan cinta pada Cytra. Karena Cytra kedudukannya di perusahaan di atas dirinya. Kekayaannya juga melimpah. Bujang seperti dirinya yang baru merangkak dalam karier diperusahaan berpikir dua kali untuk menyatakan cintanya.


"Kamu bilang sudah tidak ada lagi yang bisa saya bantu. Kenapa saya masih diminta menungguimu disini, untuk apa sebenarnya?" tanya Cytra memancing perasaan Alberto.


Alberto seperti ingin mengungkapkan sesuatu. Tapi tiba-tiba ditelannya kembali.


"Kita ngobrol-ngobrol aja dulu. Kenapa sih buru-buru mau pulang. Kayak tak pernah ke hotel saja?" Kata Alberto merayu.


"Saya kalau ke hotel itu karena keperluan pekerjaan. Kalau tidak ada tujuannya ngapain main-main ke hotel," kata Cytra beralasan.

__ADS_1


"Saya tahu kamu kan masih dalam masa cuti beberapa hari ini. Ngapain juga kalau pulang ke rumah. Kan disini lebih enak ada temannya ngobrol," Alberto merayu.


Cytra bingung menanggapinya. Memang beberapa hari ini dan hari berikutnya, dia masih dalam masa cuti. Tapi apakah pantas berlama-lama di dalam kamar berdua bersama keponakannya itu. Bagaimana nanti kalau ada yang melihat?


"Terimakasih kalau kamu masih suka saya disini," ucap Cytra.


"Saya yang lebih patut mengucapkan terimakasih. Dan minta maaf aku sudah banyak merepotkan kamu. Kalau tidak ada kamu tadi, tidak mungkin Hanna mau pergi," kata Alberto membuka isi hatinya.


Alberto adalah harta yang sangat berharga bagi Hanna selama ini. Seperti sapi perahan yang dinikmati tubuhnya setiap saat. Tidak itu saja. Uang yang telah dikeluarkan oleh Alberto untuk keperluan Hanna dalam dunia model juga sudah tak terhitung lagi jumlahnya.


Maka merupakan sebuah anugerah yang sangat berharga kehadiran Cytra di dalam hidupnya. Masalah dengan Hanna yang sudah lama tidak selesai, kini begitu singkat terselesaikan dibantu oleh Cytra.


Dengan telah perginya Hanna mestinya Alberto punya kesempatan mencari penggantinya. Dan Cytra orang yang paling dekat dengannya saat ini. Cytra belum berpikir jauh kesitu.


"Tapi melihat Hanna pergi dengan kecewa, aku kok jadi merasa bersalah kepadanya. Hanna pasti akan mengecam diriku yang tidak-tidak," kata Cytra sedih.


"Tidak ada yang perlu disesali atas kepergian Hanna. Dia bukan saudara atau teman akrabmu," uncap Alberto menenangkan perasaan Cytra.


"Menurutku kamu tidak bersalah. Akulah yang bersalah menyuruhmu untuk mengaku bahwa kau pacarku."


"Mungkin kalau pacar atau kekasih masih bisa ditolerir olehnya. Tapi yang aku katakan tadi lebih jauh dari sekedar masalah pacar. Hingga dia begitu frustasi mengetahui aku akan menikah denganmu."


"Aku anggap kamu sudah membantuku dengan benar dan tepat. Saya berterimakasih kepadamu. Kalau tidak kamu bantu pasti skenarioku tidak akan bisa berhasil dengan baik seperti ini."


"Kamu memang patut gembira. Karena selama ini sering dikecewakan dia. Tapi aku sebelumnya adalah orang yang berada di luar, tidak tahu apa-apa. Tiba-tiba sekarang ikut melibatkan diri dan mengusirnya. Inilah yang belum bisa diterima oleh hatiku."


"Ternyata kamu punya perasaan yang sangat halus, Cy. Aku sangat kagum padamu. Aku kira seorang bisnismen seperti kamu punya jiwa yang keras dan kompetitif dalam segala hal. Pantas kalau paman memilihmu sebagai istri dan diserahi mengelola perusahaan yang begitu besar itu."


"Kamu yakin dengan apa yang kamu katakan itu?" tanya Cytra. Karena dia tak yakin Alberto bisa menyoroti dirinya sampai sedalam itu.


"Ya, aku yakin. Dan itu keluar dari hatiku yang terdalam," ucap Alberto sungguh-sungguh.

__ADS_1


"Sekarang aku mau tanya dan kau jawab dengan jujur, apakah kekagumanmu itu mengandung sesuatu yang masih rahasia?"


Alberto pertama nampak terhenyak ditanya Cytra seperti itu. Lalu muncul perasaan malu untuk mengungkapkan perasaannya yang sebenarnya.


"Apa pun yang kau katakan, aku akan menerimanya dengan tulus," kata Cytra lagi melihat Al ragu untuk bicara.


Alberto masih tetap diam. Dia pura-pura sibuk memainkan hapenya.


"Mungkin perasaan kita sama yaitu ragu untuk mengungkapkan perasaan. Karena terbebani oleh kerendahan hati kita. Maka menurutku ungkapkan saja perasaan itu. Tidak perlu takut."


"Kalau kamu punya perasaan yang sama, kenapa tidak kamu dulu yang mengungkapkan?" Alberto malah balas bertanya.


"Baiklah, terus terang sejak dari pertama bertemu ada yang ingin aku ungkapkan kepadamu. Tapi rasanya seperti tak pantas diriku mengungkapkannya padamu," kata Cytra hati-hati sekali.


"Ya, sama aku juga merasakan perasaan seperti itu. Bila aku ungkapkan khawatir kau tidak akan menerimanya dengan baik."


"Sekarang kita ungkapkan saja berama-sama. Apakah perasaan kita sama atau tidak kita harus menerimanya dengan lapang dada. Bagaimana kau mau?"


"Ya, aku mau. Kita tunggu jarum jam itu sampai ke angka sepuluh," usul Alberto.


Setelah itu mereka sama-sama diam duduk di sofanya masing-masing menunggu jarum jam menunjuk ke angka sepuluh.


Jantung Cytra berdetak keras. Begitu juga Alberto. Mereka sama-sama tak tahu apa yang akan terungkapkan dari mulut masing-masing.


Tak...tak...tak...tak


Jarum jam berdetak seolah seperti jalannya siput. Tak sabar mereka menunggu. Tapi juga sama-sama was-was apa yang akan terjadi ketika jarum jam nanti menunjukkan angka sepuluh.


Hingga tibalah saatnya jarum jam itu menunjuk ke angka sepuluh. Dan yang terlontar dari mulut mereka ternyata sama: "Aku jatuh cinta padamu!!!"


Cytra tersenyum malu. Alberto juga tersenyum malu. Tapi dengan perlahan-lahan kedua tangan mereka saling bersentuhan dan saling menggenggam.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2