WANITA TERAKHIR

WANITA TERAKHIR
Bab 140. Antara Benci dan Rindu


__ADS_3

Sebelum insiden persetubuhan itu terjadi, Cytra sudah berjanji pada dirinya sendiri akan menjadikan Radita sebagai cinta terakhirnya. Dan Radita sendiri pernah berjanji, tidak ada cinta yang lain selain kepada Cytra.


Tapi rencana tinggalah rencana. Dan janji yang telah terucapkan seiring berjalannya waktu menguap dengan meninggalkan perih di dalam dada Cytra.


"Aku sudah memaafkan dirimu. Sekarang aku minta kau pergi dari sini," kata Cytra dengan berani, setelah di ruang tengah rumah itu tinggal dia sendiri dan Radita. Mbak Irah, asistennya beberapa menit yang lalu sudah kembali ke dapur melanjutkan pekerjaannya.


Tapi Radita tidak mau beranjak pergi. Dipandanginya Cytra yang sedang sakit dengan kondisi fisik yang lemah.


"Aku tidak tega meninggalkanmu dalam kondisi lemah begini," kata Radita merasa iba.


"Tidak usah kau merayu dengan pura-pura kasihan kepadaku. Cepat pergi atau kuminta satpam mengusirmu," ucap Cytra dengan perasaan ditega-tegakan menghadapi pria yang pernah mengisi hatinya itu.


"Aku benar-benar tulus memohon maaf kepadamu. Kenapa kamu tidak percaya?" Radita berusaha membangkitkan kembali kepercayaan Cytra kepada dirinya yang sudah hancur luluh lantak.


"Kamu pikir dengan minta maaf kepadaku akan membasuh perih yang kurasakan. Tidak akan hal itu terjadi. Sekarang justru yang kedua kalinya kau telah menusuk-nusuk hatiku kembali," Cytra tak sanggup lagi menyimpan perasaan antara benci dan rindu kepada Radita.


Radita diam. Dia tidak ingin memaksakan kehendak agar Cytra menerima maafnya. Radita paham betapa kecewanya Cytra kepada dirinya. Apalagi kini Cytra dalam kondisi sakit. Jangan sampai kedatangannya akan menambah makin parah kondisi wanita yang masih dicintainya itu.


"Ayo, Cy. Kalau mau ke dokter saya antar," kata Radita menawarkan diri.


"Jangan sok peduli. Biarkan saja saya sakit atau mati. Tidak usah peduli!" kata Cytra bernada mengeluh.


"Jangan ngomong begitu tidak elok. Sungguh aku baru tahu tempat tinggalmu ini. Maka baru sekarang aku bisa kesini pas disaat kau sedang sakit."


"Itu karena kamu merasa benar kalau aku pergi kan? Buat apa mencariku, kan? Kalau tidak ada aku kamu akan lebih leluasa mencumbunya, kan?" Cytra merajuk.


"Sungguh, Cy. Aku waktu itu mencarimu kemana-mana. Bahkan sempat menyusul ke Bali. Tapi katanya kamu sudah pulang ke Jakarta."


"Kenapa kamu tidak telepon?"


"Aku sudah berkali-kali telepon. Tapi nomormu tidak pernah aktif. Bagaimana saya bisa tahu alamatmu disini."


"Alasan! Buktinya sekarang kamu bisa sampai disini. Kenapa tidak dari kemarin-kemarin kamu tahu. Dasar perayu dan penipu!" kata Cytra kasar.


Tapi terlihat Radita cuma tersenyum kecil.


"Maafkan aku, Cy. Waktu itu aku sedang bingung sekali. Antara mencarimu dan meninggalkan Vionita atau sebaliknya," kata Radita jujur.


"Memangnya kenapa kalau kau tinggalkan dia sebentar untuk mencariku. Dasar perayu dan penipu," kembali lagi Cytra berkata kasar.


Tapi Radita tidak terpancing marah. Malah senyumnya terlihat manis.


"Yaah, aku memang salah waktu itu. Aku minta maaf," ucap Radita dengan lapang dada.


"Halah. Kata maaf saja yang kamu bisa. Tidak ada gunanya!"

__ADS_1


"Sudah jangan marah-marah terus begitu. Nanti malah tambah parah. Ayo saya antar ke rumah sakit sekarang," ajak Radita lagi.


Cytra tidak menjawab malah mengambil hapenya. Cytra ingin menelpon Ridwan lagi. Padahal satu jam yang lalu, saat merasa badannya tidak enak sudah menelpon Ridwan. Dan mengatakan akan cepat datang untuk mengantar Cytra periksa ke dokter. Tapi sampai sekarang belum muncul dan tidak memberi kabar apa-apa.


"Ayo! Disuruh ke dokter kok malah bermain hape."


Cytra tak menanggapi. Terlihat jari-jarinya sudah bergerak mengetik sesuatu di hapenya.


"Ayo, sayang!" panggil Radita lagi.


Cytra tidak melanjutkan mengetik. Ia letakan hapenya dan memandang Radita dengan penuh selidik.


"Aku hanya ingin mengantar saja ke dokter. Tidak ingin macam-macam," kata Radita menjelaskan. Karena Cytra kelihatan curiga padanya.


"Aku mau ke doker sendiri saja," kata Cytra sambil berdiri.


Padahal kepalanya masih tetasa senut-senut. Dan tanpa sadar tubuhnya oleng ke kanan ke kiri hampir menubruk pot bunga. Sehingga Radita langsung memegang lengannya untuk dipapah.


"Lepaskan. Kau pikir aku senang dibantu berjalan!," ucap Cytra galak.


Radita tidak peduli dikatain begitu oleh Cytra dan masih tetap memapahnya sampai ke garasi.


Pak Jono yang melihat Nyonya jalan sempoyongan dipapah oleh tamunya segera mendekat.


"Nyonya mau kemana?"


Pak Jono segera mengeluarkan mobil mewah Cytra yang masih ada di garasi dan memposisikannya tepat di samping Cytra yang berdiri dipegangi oleh Radita.


Cytra kemudian masuk ke dalam mobil dengan dipapah oleh Radita. Setelah mendudukan Cytra dengan baik Radita juga duduk dan menutup pintu mobil. Pak Jono lalu langsung pancal gas.


"Hai! Kamu kok ikut. Mau apa?" tanya Cytra mengagetkan Radita.


"Saya tadi kan bilang mau mengantar kamu periksa ke dokter," jawab Radita tenang.


"Siapa yang minta diantar ke dokter? Saya bilang mau ke dokter sendiri."


"Aku khawatir ada apa-apa di jalan. Karena kondisimu memprihatinkan begitu."


"Tidak perlu mengkhawatirkan diriku. Aku hanya sakit flu biasa kok. Kau boleh turun kalau mau pulang."


"Kamu tega menurunkan aku di pinggir jalan?"


"Kenapa tidak tega. Kau sendiri sudah berbuat tega kepada diriku."


Radita diam tidak mau meladeni Cytra yang sedari tadi terus mengajaknya bertengkar.

__ADS_1


Sambil menyetir Pak Jono mendengarkan Nyonya dan Tuan bicara dengan menyungging senyum. Karena terkesan mereka tidak sungguh-sungguh bertengkar.


Sementara itu di rumah Cytra, Ridwan datang dengan sikap gelisah. Dia berjalan setengah berlari menaiki teras rumah. Lalu memencet bel pintu.


Tak lama kemudian pintu terbuka dan muncul Mbak Irah.


"Nyonya ada, Mbak?" tanya Ridwan langsung.


"Pergi periksa, Nyonya sedang tidak enak badan, Tuan," jawab Mbak Irah lugas.


"Ya, tadi Nyonya bilang padaku minta diantar pergi ke dokter."


"Tuan terlambat datangnya. Nyonya sudah pergi diantar Pak Jono."


"Pakai mobil apa, Mbak?"


"Mobil Nyonya sendiri."


"Lha itu mobilnya siapa, Mbak. Tamu, ya?"


Mbak Irah memgangguk.


"Sekarang dimana tamunya?"


"Ya, pergi ikut mengantar Nyonya periksa."


"Pria atau wanita tamunya, Mbak?"


"Pria, kelihatannya kenal akrab dengan Nyonya," jawab Mbak Irah cepat.


Ridwan menerawang siapa pria itu. Tidak mungkin adiknya yang beruntung berkesempatan pergi lagi bersama Cytra. "Lalu siapa ya?" tanya Ridwan dalam hati.


Jika melihat mobilnya kelihatannya bukan orang biasa. Mungkin mitra bisnis Cytra. Pikir Ridwan. Tapi kenapa Cytra tidak cerita punya teman bisnis yang akrab. Sampai mau mengantar periksa segala.


Menyesal dia kenapa datang terlambat. Sebenarnya ketika menerima telpon tadi pagi, Ridwan langsung bersiap-siap pergi menemui Cytra. Tetapi Maminya, Umi Salmah tiba-tiba memintanya untuk mengurus perusahaan ritelnya dulu. Sialnya setelah sampai di mall langsung banyak hal yang harus ia tangani. Sehingga terlambat menemui Cytra yang butuh diantar pergi ke dokter.


"Gimana ya...." gumam Ridwan bingung. "Mbak tahu Nyonya periksa kemana?"


"Tidak tahu Tuan."


"Sial! Benar-benar sial!" gerutu Ridwan.


"Ditelpon saja Tuan. Nyonya periksa kemana."


"Tidak lah nanti malah mengganggu. Nanti bilang saja sama Nyonya. Saya minta maaf datang terlambat," kata Ridwan pasrah.

__ADS_1


Pria lajang itu lalu pergi dari rumah Cytra dengan membawa segumpal rasa penasaran kepada lelaki yang mengantar Cytra periksa.


__ADS_2