WANITA TERAKHIR

WANITA TERAKHIR
Bab 123. Mencari Obat Pening


__ADS_3

"Mama pergi kemana, Kak," tanya Putra sepulang dari sekolah.


Radita yang sudah bersiap-siap hendak berangkat kerja lagkahnya menjadi berhenti mendadak mendengar panggilan anak pertama Cytra itu.


"Kenapa kamu panggil kakak lagi?" tanya Radita.


"Habis Papa bertengkar lagi sama Mama. Putra tidak suka Papa dan Mama bertengkar terus," kata anak genius itu.


Tadi pagi sebelum berangkat ke Bali, Radita dan Cytra memang terlihat bertengkar. Hari sebelumnya anak-anak juga melihat mereka bertengkar lalu menjauh, karena dihardik oleh Mamanya.


Pada pertengkaran tadi pagi Putra dan Sanjaya melihatnya saat meluncur berangkat sekolah diantar Mbak Ijah dan sopir. Bahkan saking serunya mereka bertengkat sampai tidak membalas lambaian tangan Putra dan Sanjaya dari balik jendela mobil.


"Dimana sih Papa dan Mama bertengkar?" tanya Radita pura-pura tidak tahu.


"Di depan pintu ini tadi pagi," jawab Putra cerdas.


"Oh, itu bukan bertengkar, Sayang. Mama dan Papa sedang berdiskusi," Radita mencoba mengaburkan pemahaman anak kecil itu.


"Kakak bohong. Mama kemarin menangis katanya habis bertengkar juga dengan Kakak. Kenapa sih Kakak bertengar terus sama Mama?" tanya Putra dengan tatapan mata penuh selidik.


"Tidak apa-apa. Itu biasa dalam keluarga. Tidak perlu kau cemaskan. Kamu tetap saja bermain dengan Sanjaya, tidak perlu kau cemaskan kalau ada sesuatu antara Kakak dan Mamamu."


"Tapi Putra kasihan sama Mama, Kak. Mengapa Kakak tidak sayang lagi sama Mama. Katanya Kakak mau jadi Papa Putra dan Sanjaya."


"Siapa bilang tidak sayang. Kakak masih sayang Mama. Putra jangan berprasangka yang tidak-tidak dong!"


"Kakak bohong terus. Putra sebel sama Kakak. Putra tidak mau dekat-dekat sama Kakak!," seru Putra tiba-tiba dan berlari masuk ke dalam rumah.


Radita ingin mengejarnya agar anak itu tidak kurang ajar kepada kakaknya dan sebentar lagi akan menjadi papanya. Tapi dia sudah ditunggu sopir di dalam mobil dengan mesin sudah dihidupkan.


Maka dibiarkan saja Putra membawa kebenciannya kepada Radita. Entah apa yang ada di dalam hati dan pikiran anak genius itu. Apakah yang dikatakannya murni dari hatinya sendiri setelah melihat kejadian per kejadian, atau karena pengaruh omongannya Cytra.


"Brengsek Cytra!" seru Radita menebak bahwa Putra sudah dicekoki kata-kata untuk bersama melawannya.


Setelah naik ke atas mobil dan melaju ke jalan raya, Radita telpon Cytra yang saat itu sedang di Bandara menunggu pemberangkatan pesawat ke Bali.


"Putra tadi pagi ternyata melihat kita bertengkar," kata Radita tidak langsung menyinggung ke pokok masalah yang ingin ia tanyakan.

__ADS_1


["Memangnya kenapa kalau dia melihat kita bertengkar."] kata Cytra di earphone Radita.


"Tidak baik untuk pendidikan watak dia ke depan."


["Tidak usah ngurusin watak anakku. Biarkan jiwa mereka berkembang sendiri setelah mendengar dan melihat kejadian di sekelilingnya."] kata Cytra menyengat.


"Ini karena kesalahanmu pagi-pagi sudah mengajak perang. Akibatnya anak-anak melihat pemandangan buruk di rumahnya sendiri."


["Yang salah itu kamu. Kenapa tidak jawab terusterang saja malah mengajak berdebat. Akhirnya dia melihat kita seperti sedang bertengkar."]


"Saya harus jawab apa lagi. Saya tidak menyimpan rahasia dengan Mamamu!" kata Radita mulai emosional.


["Aneh! Kamu kalau disinggung soal Mama langsung emosional begitu kepadaku. Betulkan dugaanku kalau kamu punya rahasia dengannya."] terdengar suara tawa Cytra. Tetapi tawa yang sangat mengejek.


"Rahasia itu yang punya kamu. Kenapa kamu tidak berani tanya langsung kepada Mamamu soal dugaanmu. Itu kan berarti kau punya rahasia." Radita membaĺikkan fakta dengan menyerang Cytra.


["Saya tidak berani tanya karena pasti kamu, Mama dan Tante Mira sudah bersengkokol. Tinggal kamu saja mau jujur atau tidak. Kalau tidak mau jujur ya sudah..."]


"Ya, sudah bagaimana? Memangnya aku takut. Ayo katakan kalau kamu berani?" Bayangan Radita adalah putus dan gagal menikah untuk selama-lamanya.


Radita tidak melihat bila kedua mata Cytra basah karena menangis. Setelah mengatakan kalimat itu, langsung hatinya teriris-iris pedih.


Cytra tidak ingin hidup seperti dulu lagi. Walaupun kaya raya tapi sendiri tanpa ditemani anak, rasanya menderita banget.


"Maaf, pesawat sudah stanby, aku mau matikan telponnya," terdengar suara Cytra serak, lalu setelah itu suara di earphone Radita hampa.


Di dalam mobil yang meluncur Radita menyandarkan kepalanya. Pening! Mengapa Cytra masih terus menyoal hubungan dirinya dengan Vionita.


Tapi Radita berniat dia tidak akan mengatakan rahasia itu kepada Cytra. Begitu juga pesan Vionita. Sebelum Cytra punya pasangan baru pengganti Radita rahasia itu harus disimpan rapat-rapat.


"Cytra agaknya sudah tahu hubunganku dengan Vionita. Tapi dia tidak mau mengatakan hal itu sebelum aku mengatakan sendiri. Rupanya dia sedang menguji kejujuranku," pikir Radita sambil terus menyandarkan kepalanya ke belakang.


Mobil terus melaju mendekati kantornya. Tetapi tiba-tiba Radita minta sopir balik kanan.


"Kemana, Bos?" tanya sopir yang tak biasa mengantarnya itu.


"Maaf, mobil saya bawa sendiri saja. Kamu turun disini. Ini tak kasih uang untuk naik taksi," kata Radita sambil mengulurkan tiga lembar uang ratusan ribu kepada sopir.

__ADS_1


Setelah sopir turun Radita langsung membawa mobil mewah itu sendirian menyelusuri jalan raya yang padat kendaraan. Pening rasanya tadi setelah menelpon Cytra. Dan kini ia sedang mencari obat pening itu.


Sementara itu di rumah, Mira dan anaknya Ridwan sedang bersiap-siap untuk pergi ke tempat saudaranya di kota "B". Mereka tinggal menunggu keputusan Vionita apakah ikut atau tidak.


Mira dan Vionita sama berasal dari kota "B". Ketika ditawari apakah mau ikut pulang atau tidak, Vionita ragu menjawabnya.


"Saya tidak ikut, Mir. Saya tunggu rumah saja."


"Kenapa tidak ikut bukankah kamu belum pernah pulang kampung."


"Nanti saja kalau sudah menikah dengan konglomerat saya mau pulang."


"Hahaha..." Mira tertawa berderai. "Yo, wis semoga berhasil."


Setelah Mira dan Ridwan pergi meninggalkan rumah, bersamaan itu sebuah mobil mewah masuk ke halaman rumah Mira. Siapa dia?


"Kamu ternyata, Dit!" ucap Vionita gembira menyambut seorang pria tampan turun dari mobil mewah itu.


"Memang kamu kira siapa yang datang?" taya Radita.


"Aku kira Cytra. Karena mobilnya hampir sama."


"Orang dia sudah berangkat ke Bali ada urusan perusahaan," jawab Radita.


"Oh, ayo masuk saja ke dalam. Kamu mau minum apa. Tapi disini adanya teh dan kopi," tawar Cytra.


"Terserah ajalah aku mau semua."


"Kalau aku mau tidak?" Vionita menggoda sambil masuk ke dalam dapur untuk menyiapkan minuman.


Dada Vionita bergetar hebat saat menyeduh kopi di dalam cangkir. Wajahnya tegang, baru saja ia taburkan sesuatu ke dalam cangkir itu.


Sekaranglah saat yang tepat untuk membalas sakit hatinya kepada Cytra. Dendam itu sebentar lagi akan terbalaskan. Dalam waktu sekejap calon suami Cytra akan berpindah tangan kepadanya. Dan kelak dia akan berada kembali di dalam keluarga konglomerat di rumah besar seperti istana itu.


......Halo gaes lama ndak ada yg komen nih, apa sudah tidak ada yg baca novel ini ya....🌺


Bersambung

__ADS_1


"


__ADS_2