
Putra dan Sanjaya menangis melihat Cytra tak berdaya tergeletak di kamar perawatan rumah sakit. Kedua anak yang genius itu memegang kedua tangan Mamanya di kanan kiri ranjang.
Alberto nampak terharu melihat adegan itu.
Mereka datang ke rumah sakit diantar Mbak Irah asisten yang mengurusi keperluan mereka dan sopir pribadi rumah tangga, Pak Jono.
"Mama nabrak apa, Ma?" tanya Putra dengan mimik sedih. Adiknya Sanjaya juga menunjukkan sikap penuh perhatian dengan menciumi tangan Cytra.
Cytra cuma tersenyum menatap kedua anaknya yang sangat menyayanginya itu. Cytra tidak mau menceritakan kejadian yang mengerikan itu kepada anaknya.
"Mama kalian cuma jatuh dari mobil. Tuh lukanya sudah diverban. Biarkan Mama istirahat dulu, ya. Putra dan Sanjaya ikut om main di luar saja, yuk!" ajak Alberto dengan halus.
Kedua anak Cytra dari suami pertama itu mengikuti Alberto keluar dari kamar perawatan. Sedangkan Mbak Irah dan Pak Jono ganti yang menunggui Cytra.
"Pak Jono....Mendekat kesini!" panggil Cytra.
Lelaki setengah baya itu lalu beranjak dari sofa dan berjalan mendekati tempat berbaring Cytra.
"Siap Nyonya...Ada apa Nyonya?" tanya Pak Jono dengan sopan.
"Tadi orang rumah ada yang telpon saya. Apakah Pak Jono tahu ada apa sebenarnya di rumah kok sampai menelpon saya?"
"Saya tidak tahu Nyonya. Waktu itu saya masih ngantar anak-anak sekolah. Coba tanya Irah tahu tidak," kata Pak Jono lalu meminta Irah mendekat.
"Tadi yang telpon waktu saya di luar siapa, Mbak?" tanya Cytra setelah Irah mendekat.
"Bibi Sarpih tadi yang telpon Nyonya. Karena ada tamu yang minta ditelponkan ke Nyonya," jawab Irah polos.
Bibi Sarpih adalah kepala asisten rumah tangga di rumah Cytra yang besar dan ada kolam renangnya itu. Dia mempunyai tugas yang lebih ke dalam dibanding pembantu lainnya. Termasuk diberi kewenangan menggunakan pesawat telepon.
"Mbak irah tahu siapa orang yang datang ke rumah," tanya Cytra.
"Saya tidak tahu Nyonya. Bibi Sarpih yang menerima tamu itu. Saya waktu itu masih di belakang," jawab Irah sesuai apa yang dia ketahui.
"Pak Jono tolong Bibi Sarpih dibawa kesini. Itu anak-anak dan Irah pulang saja," perintah Cytra.
Tak banyak tanya lagi Pak Jono langsung menarik tangan Irah keluar dari kamar. Setelah Putra dan Sanjaya pamitan dengan Mamanya, mereka lantas pergi meninggalkan rumah sakit.
__ADS_1
"Ada apa kok kelihatannya serius sekali?" tanya Alberto yang mendekat lagi di samping tempat berbaring Cytra.
"Sebelum kecelakaan itu terjadi ada orang yang datang ke rumah. Saya penasaran saja pingin tahu siapa dia."
"Sudah, serahkan saja kepada pihak berwajib yang kini sudah bergerak menyelidikinya. Yang jelas penyebab kecelakaan itu karena fungsi rem mobilmu dirusak orang."
"Menurutmu siapa pelakunya? Kalau kerusakan itu karena alami saya kira tidak mungkin. Pasti ada yang dengan sengaja merusak fungsi rem mobil saya," ujar Cytra.
"Kalau perkiraan saya Hanna atau orang suruhannya. Dia ingin mencelakakan kamu karena sakit hati," tebak Alberto.
"Seharusnya bukan kepada saya tapi kapadamu juga kekecewaan itu dilampiaskan," kata Cytra dengan perasaan menyesal telah membuat orang yang tidak bersalah kepadanya ia kecewakan.
"Aku tidak mengira kalau akan berakibat seperti ini. Maafkan saya ya, Sayang. Kita tunggu saja hasil penyelidikan polisi. Nantj akan diketahui siapa yang berbuat tindak kriminal itu" kata Alberto.
Tidak lama kemudian Pak Jono datang bersama Bibi Sarpih. Perempuan setengah baya itu langsung menangis melihat Nyonya tergeletak tak berdaya dengan sejumlah luka yang ditutup verban.
"Maafkan saya, Nyonya. Saya yang menelpon Nyonya hingga mengalami kecelakaan seperti ini," Bibi Sarpih nampak menyesal dan ketakutan.
"Bukan...bukan Bibi yang menyebabkan saya kecelakaan," Cytra menenangkan perasaan perempuan setengah baya itu.
"Jadi bukan karena saya menelpon Nyonya, ya."
"Iya, Nyonya. Waktu itu ada dua wanita yang datang ke rumah. Mereka mencari Nyonya dengan marah-marah karena nyonya tidak ada. Lalu saya dipaksa untuk menelpon Nyonya."
"Waktu Bibi telpon saya sedang bicara dengan kamu, Sayang. Jadi langsung saya matikan," kata Cytra kepada Alberto.
Bibi Sarpih melirik ke pria yang dipanggil Cytra dengan panggilan sayang itu. Ia membatin rupanya Nyonya sudah punya kekasih lagi. "Apakah pria ini ada kaitannya dengan salah satu wanita yang memaksaku menelpon Nyonya itu," gumam Bibi Sarpih dalam hati.
"Oh, begitu. Lalu kaitannya apa dengan kecelakaan yang kamu alami?" tanya Alberto tak paham.
"Sebentar, Sayang. Saya belum selesai menanyai Bibi Sarpih," pinta Cytra.
Kembali Bibi Sarpih melihat sikap Nyonya dan pria tampan itu berkomunikasi penuh kemesraan.
"Apakah Bibi mengenal tamu dua wanita yang datang ke rumah?" tanya Cytra lagi kepada Bibi.
"Saya tidak mengenal mereka, Nyonya. Tapi salah satu dari mereka menyebut dirinya adalah orangtua Nyonya."
__ADS_1
Degh!!
Kaget Cytra mendengar keterangan Bibi Sarpih. Orangtuaku? pikirnya. Kalau begitu berarti wanita yang bertamu di rumahnya itu adalah Vionita? Dan siapakah wanita satunya lagi yang diajak Vionita datang ke rumahku?
"Kamu masih ingat ciri-ciri dua wanita itu, Bi?" Selidik Cytra kemudian.
"Kalau yang mengaku orangtua Nyonya wajahnya cantik seperti Nyonya. Sedangkan wanita satunya agaknya orang bule, Nyonya," kata Bibi Sarpih sambil mengamati postur Alberto yang kelihatannya juga orang bule.
"Apakah wanita yang kau sebut bule itu berambut coklat keemasan dan bermata biru?" tanya Cytra langsung menunjuk ke ciri-ciri yang Hanna punya.
"Ya, betul, Nyonya. Dia malah yang membentak saya untuk menelpon lagi. Tapi aku tidak mau karena Nyonya mungkin masih sibuk tidak boleh diganggu."
"Lalu apa lagi yang di omongkan mereka kepada Bibi?"
"Ketika saya tidak mau menelpon Nyonya lagi, mereka berpesan agar Nyonya...," Bibi menghentikan kalimatnya sambil memandang segan kepada Alberto.
"Katakan saja. Bibi tidak perlu takut kepadanya. Saya kenalkan dia ini Tuan Alberto. Sebentar lagi akan menjadi papanya Putra dan Sanjaya," Cytra memperkenalkannya tanpa malu-malu.
"Oh, begitu. Selamat ya, Nyonya. Tapi pesan wanita yang berambut pirang itu juga menyebut nama dia, Nyonya." Bibi Sarpih paham sekarang maksud dan tujuan kedatangan dua wanita itu.
"Saya sudah bisa menebak pesannya pasti aku diminta menjauhi Tuan Alberto, kan?"
"Betul, Nyonya. Dia mengatakan seperti itu sebelum pulang dengan sikap marah sekali kepada Bibi."
"Tidak apa-apa. Bibi tidak perlu takut. Nanti aku selesaikan masalahku dengan dia."
"Kalau sudah tidak ada yang dibutuhkan lagi dari keterangan saya, saya mohon pamit kembali ke rumah."
"Ya, Bi. Terimakasih ya, Bi."
Usai Bibi pergi, kAlberto mengusap kepala Cytra dengan lembut. "Terimakasih ya, Sayang. Kamu sudah banyak berkorban untukku," ucapnya.
"Sudah pasti Hanna ada di belakang kejadian yang aku alami. Tapi biarlah polisi nanti yang akan menangkapnya. Kini yang aku pikirkan hubungan Hanna dengan Mamaku. Sungguh aku tidak tahu ada kedekatan apa diantara mereka. Sampai Mamaku mau melibatkan diri dalam urusan kita."
"Jangan-jangan dia masih ada ikatan saudara dengan Mamamu. Berarti benar kata informanku. Hanna itu sebenarnya orang indonesia. Malah ternyata dekat dengan Mamamu."
"Saudara darimana dia. Mama kok tidak pernah cerita punya saudara yang tinggal di luar negeri. Saudara Mama semuanya orang kampung di Jawa."
__ADS_1
Cytra mengingat-ingat lagi seluruh saudaranya, juga kerabat dekatnya yang kemungkinan kelewatan tidak ia ketahui. Tapi sama sekali tidak ada benang merah yang sampai ke sosok Hanna.
Bersambung