WANITA TERAKHIR

WANITA TERAKHIR
Bab 150. Kesan Manis Dari Alberto


__ADS_3

Hanna merasa Alberto masih sayang kepadanya. Coba kalau tangan kekar itu tidak menyelamatkannya. Pasti tubuhnya tersungkur ke lantai setelah didorong oleh Cytra.


"Tuh kan, Sayang. Dia itu preman lihat sikapnya sangat keras dan tidak punya belas kasihan kepadaku," kata Hanna manja dengan merangkul Alberto.


"Sudahlah, Han. Kamu itu jangan terus mendiskreditkan Cytra. Dia itu cuma menyelamatkan anak buahnya dari pukulanmu," kata Alberto berusaha melepaskan tangan Hanna lalu letak berdirinya bergeser lebih dekat kepada Cytra dan Mellany yang masih berdiri tenang.


"Hai! Sayang! Sini kok malah mendekat ke janda preman itu nanti kau dipukul," tingkah Hanna seperti anak kecil yang manja menarik tangan Alberto menjauhi Cytra.


"Maaf, kalau aku mengganggu kebersamaan kalian. Silahkan dilanjutkan kebersamaannya. Saya mau kembali ke rumah saya," kata Cytra tenang.


"Dasar preman!" Lengking Hanna.


Cytra yang sudah melangkah ke pintu keluar akhirnya berhenti. Ia membalikan tubuhnya menghadapi lagi Hanna yang kelihatan sangat benci kepadanya.


"Maaf, atas dasar apa anda menuduh saya preman?" tanya Cytra dengan suara berat menahan amarah.


"Bukan aku saja yang bilang kau preman. Derryl juga bilang begitu. Kau ingat kan telah melakukan apa pada Deryl," tuduh Hanna sengit.


"Saya melakukan apa dengan Derryl. Dia malah yang memeras saya untuk menyerahkan semua harta Mr Morgant. Dan hal itu sudah saya penuhi walaupun di dalam surat wasiat Mr Morgant tidak ada yang menyebutkan perintah penyerahan kekayaan kepadanya," Cytra menjelaskan masih dengan sikap tenang.


"Ya, Derryl memang kau beri bagian. Tapi yang kau kuasai jauh lebih banyak daripada yang diberikan kepadanya."


Mellany dan Alberto yang juga tahu persolannya terlihat akan menyela tuduhan Hanna yang ditujukan kepada Cytra itu. Tapi Cytra mencegahnya.


"Biar saya yang jelaskan pada wanita yang cantik tapi bodoh ini!" cegah Cytra kepada Alberto dan Mellany.


"Tidak perlu! Kalau perkataanku itu benar akui saja kalau dirimu itu preman. Tidak perlu berkelit dan berdalih sok benar sendiri." kata Hanna makin menyakitkan.


"Tudingan anda itu sangat ngawur. Tidak berdasar sama sekali. Sepertinya anda itu begitu benci kepada saya. Padahal selama ini kami sudah banyak membantu anda. Tidak ada masalah dengan anda."


"Dasar preman, tidak pernah sadar berbuat kesalahan!" seru Hanna dengan kalimat makin menusuk jantung Cytra.


"Apa maksudmu?!"


"Dulu kau bisa merebut Morgant dari Derryl dengan mendapatkan harta yang melimpah. Aku tahu sekarang kau akan ulangi lagi perbuatan jahat itu padaku, kan?!"


"Maksudmu apa?!"

__ADS_1


"Jangan pura-pura bodoh. Aku tahu kalian berdua sedang merencanakan untuk merebut Alberto dari pelukanku," tuduh Hanna lagi dengan lebih ngawur.


"Hahaha...," Mellany dan Cytra tertawa mendengarnya.


Cytra memang naksir pada Al. Karena dia tampan dan baik. Tapi belum muncul niat untuk menjalin cinta kasih dengannya. Terlalu dini kalau baru beberapa hari bertemu sudah menyatakan jatuh cinta. Walaupun patut pria tampan dan punya masa depan cerah itu ia cintai.


Kemarin sebenarnya Cytra merasa iba melihat Hanna begitu terpukul tidak berhasil menemukan Al. Mengingatkan pada nasib dirinya sendiri yang gagal menikah dengan Radita karena diserobot oleh Vionita.


"Kenapa kalian mentertawakan aku?"


"Sudah aku tidak mau berdebat berkepanjangan. Sebaiknya saudara beristirahat saja. Kelihatannya jiwa anda sedang terganggu," kata Cytra kemudian.


Dikatakan begitu Hanna malah tambah emosional. Kedua matanya melebar dan merah seperti banteng yang digoda matador. Lalu menyeruduk menyerang Cytra.


Cytra yang sudah waspada akan mendapatkan serangan seperti itu dengan mudah menghindarinya. Sehingga bukan tubuh Cytra yang ditabrak. Melainkan pintu yang ada di belakang Cytra.


Gedebruk...Brak!!!


Hanna tersungkur dengan tubuh tengkurap. Lalu tak sadarkan diri.


Cytra, Mellany dan Alberto kaget melihatnya. Mereka segera melakukan pertolongan dengan diangkat ke tempat tidur.


"Paling sebentar lagi siuman."


"Dia mungkin kecapean dari kemarin mencari kamu, Al" kata Cytra.


"Mungkin saja. Tapi akhirnya jadi masalah ini. Aku minta kalian jangan pergi dari sini," pinta Alberto dengan muka prihatin.


"Lho kenapa?"


"Temani aku sampai dia siuman."


"Masa kami harus menunggunya sampai siuman. Kamu sendiri kan bisa."


Radita tidak menjawab hal itu. Dia mengajak keluar dari kamar tempat Hanna berbaring. Kemudian duduk di kursi taman depan rumah.


Di tempat itu Alberto menceritakan soal Hanna di depan Citra dan Mellany.

__ADS_1


"Hubungan kami sebenarnya sudah cukup lama. Tapi mendekati kami serius akan menikah, dia malah berselingkuh dengan seseorang yang masih saudara saya sendiri."


"Jadi sebenarnya kamu dan dia sudah putus?" tanya Cytra.


"Sudah lebih sebulan lalu aku mengirim surat lewat email bahwa hubungan kami sudah berakhir. Setelah itu aku menghilang. Rupanya dia terus mencariku hingga ke negara ini," papar Al.


"Saranku selesaikan masalahmu dan dia dengan baik. Kasihan agaknya jiwanya tergoncang tidak kuat menghadapi masalah," kata Cytra.


Disaat mereka sedang bincang-bincang terdengar Hanna berteriak dari dalam memanggil Alberto. Maka dia beranjak berdiri dan lari masuk ke dalam rumah.


Cytra dan Mellany tetap duduk di taman depan rumah. Sikap mereka jadi serba salah. Mau ikut masuk ke dalam tidak enak, tidak ikut masuk nanti disangka tidak peduli.


Namun ternyata Alberto tidak lama berada di dalam. Beberapa saat kemudian dia keluar menemui Cytra dan Melani lagi.


"Kami minta maaf tidak bisa berlama-lama disini. Kami ijin mau pulang," kata Cytra.


Dia tidak ingin dianggap sebagai pemicu putusnya hubungan mereka yang sudah hampir menginjak ke pernikahan.


"Bagaimana nanti dengan Tuan Alberto, Bu. Apakah tidak repot sendirian mengurus orang sedang stres begitu," kata Mellany dalam perjalanan pulang.


"Saya juga sedang berpikir kesitu. Tapi barusan sudah saya hubungi tim kesehatan kantor untuk membantunya. Jangan sampai kita disalahkan lagi tidak bisa melayani tamu penting."


Sampai di rumah Cytra terus memantau apakah kesehatan Hanna sudah pulih kembali atau perlu dirujuk ke rumah sakit. Namun kata tim kesehatan kantor kondisi Hanna berangsur-angsur membaik.


Mendengar bahwa Hanna tidak parah gangguan jiwanya Cytra merasa lega. Dan dia baru bisa tidur setelah tim kesehatan keluar dari homestay Alberto pada pukul 02.00 dini hari.


Esok paginya di kantor Cytra mendapat telpon dari Alberto yang mengatakan pagi itu sudah terbang ke Australia bersama Hana.


Ada perasaan tak ikhlas Alberto pulang bersama Hanna. Apa pun yang terjadi dengan pria itu selama di Bali, meninggalkan kesan manis yang dirasakan oleh Cytra.


Kejadian dipergoki Alberto tanpa busana lengkap ketika sedang bersih-bersih di halaman rumah bersama Mellany, sungguh tak terlupakan sampai hari ini.


"Berarti separuh tubuhku sudah dilihat oleh Alberto. Malu iih," gumam Cytra sendirian di meja kerjanya.


Bersamaan itu hapenya bergetar seperti ada yang mengirim pesan. Ketika Cytra baca ternyata pesan dari Al yang mengatakan dia hanya sebentar mengantar Hanna pulang. Setelah itu kembali lagi ke Bali.


"Aku suka Bali. Banyak kenangan manis yang tertinggal disana," kata Al di dalam pesannya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2