WANITA TERAKHIR

WANITA TERAKHIR
MENGANTAR RISA PULANG


__ADS_3

Sam sudah mulai terbiasa dengan sikap aneh Davian, kedekatan Davian dan Risa berpengaruh banyak terhadap keseharian Davian, Davian kini lebih terlihat bahagian dengan senyum yang mengembang di wajahnya.


Pagi ini Sam sudah berdiri di sebelah mobil menunggu Davian keluar dari rumahnya, jika sebelumnya Sam selalu melihat wajah dingin dari Davian, beberapa hari ini Sam selalu melihat senyum Davian setiap pagi yang menurutnya menjijikan, tapi dalam hati kecil Sam dia ikut bahagia Davian sudah kembali menemukan semangat hidupnya.


"Ada agenda apa saja hari ini Sam?" tanya Davian setelah memasuki mobil.


Sam menjawab dengan runtut dan detail tentang agenda Davian hari ini.


"Usahakan semua selesai setengah jam sebelum jam pulang kantor." Perintah Davian setelah mengetahui ada satu agenda yang selesai jam 6 petang.


"Baik." Jawab Sam singkat.


Para karyawan menyapa Davian dengan ramah setelah sebelumnya mereka segan untuk menyapa Davian karena sikap dinginnya.


Davian sedang duduk santai di kursinya setelah selesai memeriksa beberapa berkas yang harus dia tanda tangani.


"Ada apa?" Tanya Davian ketika melihat Sam masuk dengan wajah panik.


"Risa baru saja di bawa ke rumah sakit." jawab Sam dengan nafas yang terengah engah.


"Kenapa kamu diam?" Ucap Davian kesal melihat Sam masih berdiri tidak menyusulnya, Sam langsung berjalan cepat menyusul Davian.


"Baru saja aku ambil nafas." Gerutu Sam sambil berjalan.


Davian terlihat sangat gelisah di dalam mobil, berkali kali dia memaki karena jalanan yang begitu macet.


"Sam lebih cepat lagi!" Teriak Davian.


"Bagaimana mau cepat kamu tidak lihat macet begini." Jawab Sam kesal.


"Argg" ucap Davian yang terlihat sangat kesal, Sam hanya diam melihat Davian uring uringan.

__ADS_1


Davian langsung berlari begitu mobil sampai di depan loby rumah sakit Sam bergegas mengejar Davian.


"Dimana ruangan pasien bernama Clarisa Amelia?" Tanya Davian ketika sampai di resepsionis.


Staf resepsionis langsung membuka data di komputernya dengan terburu buru karena melihat pemilik rumah sakit ini bertanya dengan wajah panik.


"Di ruang melati nomor 8." Jawab resepsionis dengan suara terbata bata.


Davian langsung berlari setelah bertanya letak ruang melati nomor 8, Sam yang berada di belakang Davian beberapa kali harus meminta maaf kepada orang orang yang di tabrak Davian.


Setelah sampai di ruang perawatan Risa Davian langsung masuk tanpa mengetuk pintu dulu.


"Dimana Risa?" Teriak Davian pada Sam setelah mendapati ruang perawatan itu kosong. Sam terlihat bingung menjawab pertanyaan Davian, Davian mencengkeram kerah baju Sam karena Sam hanya terdiam.


"Kalian kenapa?" Davian langsung menoleh ke arah suara, di sana sudah berdiri Risa dengan baju pasien.


"Kamu dari mana?" Tanya Davian menghampiri Risa.


Davian menatap Risa yang sedang membereskan beberapa barang dari meja di sebelah ranjang pasien.


"Katanya kamu pingsan?" Tanya Davian dengan nada bingung melihat Risa terlihat sehat sehat saja.


"Hanya kelelahan." Jawab Risa masih fokus memasukan barang barangnya ke dalam tas.


"Kamu mau apa?" Tanya Davian sembari menghampiri Risa.


"Bersiap pulang, kata dokter aku cuma butuh istirahat." Jelas Risa yang sudah selesai dengan pekerjaannya.


Risa berjalan menuju toilet sambil membawa paper bag.


"Mau apa?" Tanya Risa melihat Davian mengikutinya.

__ADS_1


"Aku mau ganti baju." Ucap Risa melihat tatapan kuatir dari Davian.


Davian sudah duduk di jok belakang bersama Risa, dia akan mengantar Risa pulang, wajah Davian sudah terlihat lebih tenang mengetahui Risa baik baik saja.


"Sam atur cuti untuk Risa besok, dia perlu istirahat." perintah Davian, Sam langsung mengangguk.


"Dav." Ucap Risa.


"Aku besok masuk kerja." Lanjutnya.


"Tidak, kamu harus istirahat" kata Davian.


"Dav, kamu tidak perlu seperti ini aku tahu batas kemampuan tubuh ku." Protes Risa.


Davian tetap memaksa Risa untuk cuti, sementara Risa berusaha meyakinkan Davian bahwa dia baik baik saja.


"Besok Risa bekerja di ruangan mu saja Dav." Sam memberi usul karena sudah jengah mendengar perdebatan Davian dan Risa.


"Ide bagus." Jawab Davian cepat.


"Tapi Dav." Rajuk Risa.


"Kamu pilih cuti atau kerja di ruangan ku" ucap Davian memberi pilihan.


"Baiklah" jawab Risa pasrah.


Mobil memasuki jalan perkampungan yang cukup sempit, beberapa kali mobil harus menepi karena berpapasan dengan mobil lainnya.


"Berhenti Sam." Ucap Risa meminta berhenti setelah mereka sampai di depan sebuah rumah.


"Ayo turun." ajak Risa

__ADS_1


Davian terdiam sesaat memandangi kondisi rumah Risa yang terlihat sangat sederhana, seingat Davian dulu keluarga Risa merupakan orang berada karena ayahnya mempunyai jabatan tinggi di salah satu perusahaan milik negara.


__ADS_2