WANITA TERAKHIR

WANITA TERAKHIR
Bab 126. Posisi Yang Sulit


__ADS_3

Sore itu juga Cytra bersiap-siap meninggalkan rumah besar seperti istana itu. Kedua anaknya Putra dan Sanjaya sudah ia ganti pakaiannya yang lebih bagus untuk bepergian. Dua koper besar juga sudah dimasukan ke dalam bagasi.


"Sudah ya Mbak Ijah kami mau berangkat. Nanti kalau Tuan Radita pulang bilang tidak perlu menyusul kami ke Bali," kata Cytra dengan mimik yang sangat sedih.


"Tidak nunggu Tuan pulang dulu Nyonya. Ijah takut nanti Tuan marah-marah," asisten rumah tangga itu nampak gugup.


"Jangan takut Mbak, katakan saja begitu. Oya, sekalian besok mintakan ijin kepada sekolah, Putra dan Sanjaya absen belum bisa berangkat karena ada keperluan keluarga."


"Tapi Nyonya...Kenapa Nyonya buru-buru pergi?" Mbak Ijah nampak makin gugup.


"Sudah ya, Mbak. Nanti kami ketinggalan pesawat," ucap Cytra lalu meninggalkan Ijah di depan pintu yang masih tercengang melihat Cytra dan kedua anaknya pergi mendadak


"Ayo Pak Ob jalan.... Ke bandara!"


Mobil mewah milik Cytra lalu melaju perlahan.


Cytra berharap Radita tidak menyusulnya ke bandara dan menahannya tidak usah pergi dari rumahnya. Karena dia tahu Radita berada dalam posisi yang serba sulit. Membiarkan Cytra pergi berarti mengingkari janjinya sendiri untuk menikah dengannya.


Cytra sangat menyesalkan sikap Vionita yang masih menyimpan dendam. Perbuatan Mamanya itu sama saja seperti balas dendam atas perbuatannya di masa lalu.


Mobil yang ia tumpangi Cytra sudah melaju di jalan raya menuju ke Bandara Soetta. Sementara Radita masih berada di rumah Tante Mira. Vionita dengan kata-kata indah dan rayuannya mampu membuainya tetap bercokol di rumah Tante Mira.


Vionita bisa membaca perasaan Radita. Walaupun di depannya dia nampak tenang seolah tidak ada kejadian apa-apa, tapi hatinya pasti sedang gemuruh memikirkan Cytra.


Sebenarnya ada perasaan kasihan yang terselip di hati Vionita. Tetapi cinta itu telah menguasai seluruh otak dan hatinya. Terlepas perbuatannya telah melanggar etika, ia berhak menikmati cinta itu bersama Radita.


"Sekarang apa lagi yang perlu kau jelaskan kepada Cytra. dia sudah melihat sendiri kejadiannya. Kamu lebih memilih diriku, cinta lamamu, daripada dia bekas ibu tirimu," kata Vionita menahan agar Radita tidak pulang.


"Tapi kau juga bekas ibu tiriku. Sekarang aku benar-benar berada di dunia yang aneh, dunia yang mengutamakan cinta dari lainnya. Entah apa yang akan dikatakan oleh anak cucu kita kelak. Apakah kita ini sebagai orangtua yang baik atau tidak."


"Masih ada kesempatan untuk memperbaiki diri kita masing-masing."


"Memperbaiki bagaimana? Keadaannya sekarang ini sudah sangat rumit. Aku seperti mendapatkan buah simalakama yang dimakan atau tidak dimakan sama saja akan membuat perutku sakit, kepalaku pusing."


"Kalau begitu ambil saja aku dan Cytra sebagai istrimu."


"Gila! Itu hal yang sangat langka terjadi di dunia ini. Banyak lelaki yang memiliki istri dua. Tapi tidak ada yang dua-duanya bekas ibu tiri. Hanya aku sendiri yang mau berbuat bodoh seperti itu."


"Kamu menyesal telah mencintai aku dan Cytra?"

__ADS_1


Radita terdiam mendapat pertanyaan yang tidak bisa dijawabnya itu. "Menyesal aku kenapa kelepasan bicara yang sensitif seperti itu," gumamnya.


"Tidak. Aku tidak kecewa," katanya kemudian.


"Kenapa kau merasa bodoh mencintai kami?"


"Yang saya maksudnya terkadang cinta itu memang tak punya mata dan otak," ujar Radita ngeles.


"Kan sama saja namanya bodoh."


"Ya, tidak apa-apa tapi artinya bukan berarti aku kecewa. Aku sadar betul yang telah aku perbuat dan sadar pula resikonya yang harus aku hadapi."


Mendengar itu Vionita memeluk Radita erat-erat.


"Kamu sudah banyak perubahan dibandingkan dulu. Aku senang mendapatkan suami yang tidak takut menghadapi resiko dan mau bertanggung jawab atas perbuatannya."


Radita tersenyum dalam hati. Senyum seorang playboy yang sudah tobat. Wajar kalau dalam perilakunya masih ada salah-salah sedikit.


\*\*\*


Pagi menyambut sangat cerah di kota Denpasar. Cytra, Putra dan Sanjaya sudah selesai mandi dan berpakaian rapih.


Pak Ob yang sudah tiba juga di Bali dengan mobil mewahnya, menunggu Cytra dengan sabar di loby hotel.


"Bagaimana, Pak Ob. Bapak sudah siap?" kata Cytra yang mendatangi lelaki setengah baya itu dengan menggandeng dua anaknya.


"Sudah Nyonya. Anak-anak mau dibawa sekalian ke kantor?" tanya Pak Ob.


"Ya. Bahaya ditinggal di hotel sendirian."


"Tidak apa-apa, Nyonya. Kebetulan saya punya keponakan tinggal di sini. Nanti biar anak-anak istirahat di rumah keponakan saya."


"Apakah tidak mengganggu Pak Ob. Situasinya apakah aman, Pak," Cytra khawatir.


"Aman sekali. Keponakan saya juga punya anak sebaya mereka?" jawab Pak Ob meyakinkan.


l


"Ok, kalau begitu kita ke rumah keponakan Pak Ob saja dulu. Ke kantornya nanti setelah anak-anak merasa nyaman tinggal disana," kata Cytra pingin tahu situasi dan kondisinya dulu.

__ADS_1


Mereka lalu berjalan ke tempat parkir dimana mobil mewah milik Cytra itu diparkir oleh Pak Ob.


"Kerja dimana?" taya Cytra.


"Tidak tahu. Karena dagangannya macam-macam," ujar Pak Ob lugas.


Tidak berapa lama mobil itu masuk ke sebuah rumah besar cukup mewah. Cytra kaget ternyata keponakan sopir pribadinya itu termasuk orang hebat.


"Kenapa Pak Ob pilih jadi sopir. Tidak ikut bekerja dengan keponakannya?" tanya Cytra sambil mengamati rumah besar itu.


"Tidak enak bekerja ikut saudara sendiri, Nyonya."


"Betul, Pak. Rasanya punya beban dan tidak leluasa kalau bekerja di tempat saudara sendiri," kata Cytra membenarkan pendapat Pak Ob.


Mereka lalu masuk ke dalam rumah itu.


Sambutan tuan rumah sangat akrab dengan Pak Ob. Ketika melihat Cytra dan kedua anaknya tuan rumah laki-laki sedikit tercengang atas kecantikan Cytra. Sedang tuan rumah wanita langsung menyalami Cytra dan anak-anaknya.


"Dia bos saya, Nyonya Cytra. Dan ini anak sulungnya Putra, terus yang mungil ini namanya Sanjaya."


"Waduuuh cakep-cakep sekali. Saya Winar keponakan OM Obi. Dan ini suami saya Yanu. Mari kita duduk di dalam saja," ajak Winar.


Cytra menuruti ajakan Winar masuk ke dalam bersama anak-anaknya. Sedangkan Yanu kembali ke ruang tamu menemui seseorang.


Selintas Cytra memandang tamu itu dan sepertinya dia mengenali sosoknya.


Beberapa saat Cytra ngobrol dengan Winar. Menceritakan kendalanya membawa anak-anak ke Bali.


"Tidak apa-apa mereka ditinggal disini. Sebentar lagi anak saya pulang. Masih seumuran Putra, masih kelas satu SD. Namanya Boy. Lucu juga anaknya seperti Putra dan Sanjaya," Winar bercerita.


Cytra mendengarkan saja tuan rumah bicara. Sedang pikirannya tertuju kepada sosok lelaki tampan yang duduk di ruang tamu dengan tenang dan tersenyum kepada Cytra.


"Bapak sibuk berdagang ya, Bu?" tanya Cytra.


"Ya, sibuk sekali. Hari ini tumben ada di rumah, karna ada tamu rekan bisnisnya dari Jakarta."


Cytra menerawang rekan bisnisnya. Rasanya tidak ada wajahnya yang seperti itu. "Siapa ya dia. Kok rasanya sangat akrab sekali denganku," gumam Cytra.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2