WANITA TERAKHIR

WANITA TERAKHIR
Bab 114. Radita Curiga


__ADS_3

"Pak, Ob apakah tadi ada telpon dari Bapak?" tanya Cytra kepada sopir setelah mobil melaju meninggalkan rumah Tante Mira.


Pak Ob tidak langsung menjawab dia pura-pura serius mengemudi di jalan yang padat kendaraan.


"Pak Ob, ditanya kok diam sih!" Cytra menghardik.


"Iya, tadi Tuan menelpon saya. Tapi Nyonya jangan bilang Tuan, ya," jawab Pak Ob gugup.


"Kenapa kamu kelihatan takut begitu?"


"Tuan tadi kelihatannya pingin tahu apakah Nyonya benar menemui mamanya. Aku katakan ya benar menemui mamanya. Lantas Tuan bilang jangan disampaikan Nyonya kalau Tuan menelpon," Pak Ob menerangkan apa adanya.


"Oh Bapak cuma kepo saja kok. Tidak apa-apa. Terimakasih Pak Ob," ujar Cytra.


Cytra heran juga kenapa Radita sampai kepo begitu. Kenapa tidak telpon dia saja langsung. Tak mungkin Radita berani. Karena pasti Cytra sedang bersama Vionita, wanita yang pernah sangat ia cintai dan nyaris menjadi istrinya.


"Gimana tadi Ben, pukulanmu kayaknya keras sekali ke perut Ridwan," Cytra ganti mengajak bicara dengan bodyguardnya.


"Sepertinya dia punya ilmu dalam juga, Bos. Pukulanku seperti itu biasanya akan membuat orang langsung mules atau muntah. Tapi dia kelihatan biasa saja tadi. Aku sendiri merasakan seperti memukul kapas ," ujar Beni.


"Masa sih, Ben," Cytra tersenyum tak percaya, cowok urakan begitu punya tenaga dalam. Badannya saja kurang kekar.


"Siapa sih dia, Bos?" tanya Beni.


"Dia itu anaknya Tante Mira. Saya sendiri baru tahu sekarang. Aku kira dia itu janda tak punya anak," kata Cytra.


"Sepertinya aku pernah melihat cowok urakan yang persis dia. Tapi aku lupa dimana ya," celetuk Pak Ob.


"Kamu itu sok tahu saja. Cowok model urakan seperti itu banyak di jalan-jalan. Kerjaannya cuma mejeng di atas motor kesayangannya dan menggoda cewek ," Beni menimpali.


"Bukan-bukan di jalanan kok waktu aku lihat. Sepertinya ada di sebuah gedung," Pak Ob membantah sinyalemen Beni.


"Ya bisa aja di gedung, tapi cuma di depan atau halamannya saja. Tidak mungkin cowok berandalan seperti itu berada di dalam gedung bicara tentang hal serius."


"Tidak salah apa yang kau katakan. Tapi menurutku menilai orang itu jangan cuma lihat tampangnya saja. Belum tentu kelihatannya urakan tapi ternyata punya SDM yang tinggi," kata Pak Ob lebih bijak dibandingkan Beni.


"Kalau saya praktis saja. Urakan ya urakan. Hati dan pikirannya pasti tidak lebih jauh dari urakan," Beni tak mau kalah berpendapat.

__ADS_1


Beni adalah pengawal Cytra yang khusus melakukan pengamanan terhadap dirinya. Maka ketika Ridwan mau menyentuh wajah bosnya, dengan cepat dan tangkas menangkap tangan jahil itu.


Beni termasuk dari sekian orang pilihan dan terlatih yang dipakai oleh Mr Morgant. Setelah Mr Morgant meninggal Mellany menugaskan Beni untuk pengamanan kegiatan Cytra.


Sedangkan Pak Ob adalah sopir kepercayaannya Radita disamping masih ada lagi sopir lainnya yang bekerja di rumah besar seperti istana itu. Wajar bila Pak Ob yang diminta Radita mendampingi sekaligus memata-matai Cytra kemana dia pergi.


Dalam hati Cytra juga sedang berdiskusi tentang sosok cowok urakan itu. Sama seperti yang sedang didiskusikan oleh Beni dan Pak Ob. Cytra tak habis pikir kenapa Mama dan Tante Mira mau menjodohkan dirinya dengan Ridwan.


Apakah bisa menyatu dua hal yang berbeda itu.


Ingin Cytra bicara lebih serius lagi dengan mamanya. Barangkali mamanya punya alasan yang kuat kenapa sepakat dengan Tante Mira untuk menjodohkannya dengan Ridwan. Apa mungkin karena tidak enak saja, atau sebagai balas budi kepada Mira karena sudah banyak membantunya.


Sesampainya tiba di rumah besar seperti istana itu, Cytra belum menemukan kata-kata yang tepat untuk menyampaikan hasilnya kepada Radita. Apakah akan ia katakan seperti yang sudah terjadi di rumah Tante Mira tadi.


Untungnya Radita belum pulang dari tempat kerjanya. Sehingga masih ada waktu untuk dipikir. Dan lagi-lagi sosok urakan itu mengganggu lagi di benaknya. Seandainya penampilan Ridwan sedikit rapih dan bersih, mungkin Cytra akan tertarik dengannya. Karena Ridwan memang tampan. Hidungnya mancung dan Rambutnya yang tebal dibelah dua sangat keren.


"Halo sayang! Kau sudah pulang!" sapa Radita masuk ke dalam rumah masih mengenakan jas yang terbuka dan dasi.


Cytra yang sedang melamun terkejut. Tapi segera ia menutupi keterkejutannya dengan senyum dipaksakan.


"Kamu kalau senyum gitu sungguh aku makin tak sabar ingin menikah," ucap Radita merayu sambil duduk di depan Cytra.


"Kalau kamu ada di rumah saya tak betah berlama-lama di luar. Pinginnya cepat pulang saja."


"Di luar kan banyak gadis lebih cantik dari seorang janda seperti diriku," kata Cytra merendah.


"Di luar memang banyak gadis cantik. Tapi tidak ada janda cantik yang seperti kamu," Radita pandai juga berkilah.


"Saya janda dua anak, Mas. Sudah dua kali menikah apakah masih menarik juga?"


"Menurutku masih sangat menarik."


"Dari sisi mana kamu memandangnya?"


"Pesona dalam diri seorang wanita itu tidak hanya terletak pada fisiknya saja juga statusnya janda atau gadis. Namun bisa juga dari prestasinya dalam pekerjaan atau hobinya."


"Yang mana dari semua itu yang paling Mas suka?"

__ADS_1


"Aku menyukai semuanya. Karena yang kamu miliki semuanya ideal."


"Gombal! Kenapa dulu Mas tidak menyukai hobiku. Malah aku diminta pergi kalau masih ingin menyanyi." Cytra mengungkit lagi masa lalu.


"Kenapa kamu mempermasalahkan lagi hal itu?" Radita bertanya curiga.


Cytra diam menyesal telah membuat Radita curiga.


"Bagaimana mamamu. Apakah tidak merestui pernikahan kita?" tanya Radita membuat Cytra makin bingung menjawabnya.


"Mama tidak jelas menjawab setuju atau tidak," kata Cytra tidak menceritakan kejadian yang sebenarnya.


"Lalu apa yang dikatakan mamamu?"


"Mama tidak mau lagi mencampuri masalahku. Seperti dulu waktu aku mau menikah dengan Papamu. Tapi lama-lama akhirnya dia mau juga merestuinya." Cytra susah payah merangkai kalimat itu.


"Lalu dengan masalah kita apakah engkau akan menunggu sampai mamamu merestuinya?"


Cytra benar-benar sangat bingung menjawabnya. Ingin ia menjawab pernikahan itu ditunda saja sampai tidak ada lagi keraguan di hatinya. Persoalannya apa yang dikatakan Vionita di rumah Tante Mira telah mengoyahkan ketetapan hatinya menikah dengan Radita. Tapi kalau pernikahan ditunda apakah Radita tidak kecewa.


"Ayo ungkapkan saja jangan hanya diam begitu," kata Radita melihat Cytra termenung.


"Kalau misalkan ditunda beberapa hari lagi pernikahan kita, apakah Mas keberatan?"


Kini ganti Radita yang diam merenung.


"Keberatan sih," kata Radita kemudian. "Tapi aku pikir-pikir memang ada baiknya kita menikah dengan tidak tergesa. Agar hasilnya nanti baik untuk kita berdua," kata Radita dengan penuh bijaksana.


"Luar bisa calon suamiku ini," ucap Cytra sambil menggenggam kedua tangan Radita dengan erat.


Setelah itu mereka berpisah. Radita masuk ke kamarnya sendiri. Sedang Cytra masuk ke kamar yang lain yang sudah ia tempati sejak menjadi istri mendiang Tuan Samyokgie, pemilik rumah besar seperti istana itu.


Di dalam kamar Radita tidak terus berbaring. Dia menelpon Pak Ob dan mengkrosceknya dengan keterangan Beni. Cerita mereka berdua sama. Membuat kecurigaan Radita makin parah.


"Jangan-jangan Cytra menyembunyikan sesuatu yang sangat urgent saat ngobrol tadi," gumam Radita.


Bersambung

__ADS_1


**Hai reader kalau sudah mampir kirim-kirim komen, dan hadiahnya yang banyak ya...makasih 🙏🙏🙏


__ADS_2