WANITA TERAKHIR

WANITA TERAKHIR
SENYUM TERAKHIR RISA 3


__ADS_3

Davian berdiri mematung menatap lurus pintu ruang tempat Risa dirawat, tidak ada kata keluar dari mulut Davian, bahkan hampir tidak ada ekspresi di wajahnya, wajahnya terlihat begitu dingin.


Davian langsung bereaksi ketika pintu ruangan terbuka, dokter muncul diikuti suster di belakangnya. Wajah yang sedari tadi terlihat dingin seketika berubah menjadi wajah yang penuh harap melihat dokter keluar.


"Pasien ingin bertemu pak Davian." Ucap dokter lirih, Risa baru saja sadar tapi tidak ada raut bahagia di wajah dokter.


Davian bergegas masuk ke dalam tanpa menjawab ucapan dari dokter, dia langsung duduk di kursi sebelah Risa yang sudah membuka matanya.


"Ris." Panggil Davian lirih sembari menggenggam tangan Risa


Risa melirik Davian, ada senyum tipis di bibirnya.


"Aku disini." Ucap Davian berusaha tersenyum walau air mata mengalir di pipinya, Davian mencium tangan Risa dengan lembut.


Risa mengedarkan pandangannya ke arah lain seperti mencari sesuatu

__ADS_1


"Mamah sedang istirahat di rumah." Ucap Davian seakan tahu Risa sedang mencari keberadaan mamahnya.


Semenjak Risa kecelakaan kondisi kesehatan mamahnya menjadi memburuk, Davian memutuskan menaruh perawat di rumah Risa untuk memantau mamah Risa, dia tidak ingin kondisi mamah Risa semakin bertambah buruk apabila berada di rumah sakit dan melihat Risa yang terbaring koma di atas ranjangnya.


Davian mengelus punggung tangan Risa dengan lembut, walaupun Risa sudah tersadar tapi tidak ada rasa bahagia pada wajah Davian, Davian merasa Risa membuka mata hanya untuk berpamitan dengannya.


Bibir Risa bergerak, Davian memperhatikan dengan seksama


"Aku mencintaimu Dav." Kata yang keluar terakhir dari mulut Risa sebelum Risa kembali menutup matanya.


Mesin pendeteksi detak jantung kembali berbunyi, dokter buru buru memeriksa kondisi Risa, Davian pun berdiri dan mundur beberapa langkah untuk memberikan ruang bagi dokter, Davian diam mematung beberapa meter dari ranjang Risa.


"Cukup dok." Ucap Davian dengan suara lirih.


Dokter menghentikan aktivitas nya ketika Davian melangkah mendekati Risa, beberapa perawat langsung mundur untuk memberi jalan kepada Davian.

__ADS_1


"Biarkan Risa beristirahat, terimakasih atas kerja keras dokter." Ucap Davian setelah itu menggenggam tangan Risa.


Sam menatap nanar pemandangan di depannya, beberapa perawat wanita malah menitihkan air mata melihat pemandangan yang sangat memilukan.


"Aku mencintaimu Clarisa Amelia." Bisik Davian di telinga Risa sambil menghapus air matanya.


Davian sudah bisa mengikhlaskan kepergian Risa, tatapan Risa dan senyuman dari bibirnya beberapa saat lalu menjadi salam perpisahan yang akan Davian ingat selamanya. Davian yang sebelumnya sangat terpukul atas kejadian yang menimpa Risa, akhirnya bisa melepaskan kepergian Risa walau berat dia rasakan.


- - -


Mamah Risa bersimpuh di sebelah batu nisan anaknya, di memeluk sambil mencium batu nisan itu.


Davian dan Sam berdiri mematung tepat di sebelah makam Risa, tak terasa sudah tujuh hari kepergian Risa, Davian masih meneteskan air mata walaupun hatinya sudah mengikhlaskan Risa, baginya Risa wanita luar biasa, Davian merasa sangat beruntung pernah menjadi lelaki yang di cintai Risa.


"Ayo mah kita pulang, Risa sudah bahagia di sana." Ucap Davian seraya memegang pundak mamah Risa.

__ADS_1


"Maafkan semua kesalahan Risa nak Vian." Ucap mamah Risa seraya berdiri.


"Risa tidak pernah membuat kesalahan apapun pada Davian mah." Jawab Davian dengan nada sendu.


__ADS_2