WANITA TERAKHIR

WANITA TERAKHIR
Bab 110 Konspirasi Jahat


__ADS_3

Seperti dikejar oleh monster mobil sporty warna hitam itu melaju cepat sekali di jalan raya.


"Kalau tidak pesawat yang sama paling tidak dengan pesawat berikutnya kita bisa terbang menyusul Cytra ke Bali," kata Radita.


Sopir dan disampingnya bodyguard hanya mengiyakan kata-kata bos mereka yang duduk di jok tengah. Rencananya Radita mengajak bodyguard yang sudah sangat dipercaya itu ke Bali untuk menghajar Ibra.


"Tidak usah kau bunuh, cukup kau buat kapok saja playboy brengsek itu," ujar Radita.


"Siap, Bos," jawab Tomy si bodyguard.


"Lelaki yang tak tahu malu. Sudah diputus masih saja mengejar-kejar Cytra," Radita mengomel sendiri.


"Fotonya nanti kirim ke hape saya saja, Bos. Kayak apa sih orangnya. Sudah gatal tangan saya memotes lehernya," kata Tomy menggerakan jari-jarinya hingga bunyi gemeretak.


Kemarahan Radita memang sudah sampai di ubun-ubun. Selalu saja kelengahannya dimanfaatkan oleh buaya darat itu dengan licik. Tidak mungkin karena faktor kebetulan Ibra bisa bertemu dengan Cytra. Dia melakukkan itu pasti dengan disengaja dan direncanakan.


Ya, tidak mungkin kebetulan sampai terjadi dua kali. Pertama di kantin samping sekolah Putra dan Sanjaya. Kedua, sekarang di bandara. Pasti ada unsur kesengajaan dari Ibra untuk mengejar dan merayu Cytra.


"Dasar buaya darat!" gumam Radita yang terdengar oleh Tomi.


"Apa bos?" tanya Tomi.


"Orang itu. Saya menyebut seperti buaya darat."


"Dia pasti tidak akan berhenti mengejar Nyonya Cytra sebelum berhasil mendapatkannya, bos."


"Oleh karena itu kita harus cepat sampai di Bali."


Sopir kemudian diminta menambah lagi kecepatannya. Hingga mobil berteknologi tinggi itu bagai terbang di atas aspal.


Namun apa yang terjadi di Bandara. Ternyata penerbangan ke Bali sudah habis. Akan dibuka lagi besok pagi.


"Kok bisa begitu sih, Bos?" tanya Tomy.


"Mungkin cuaca yang tidak mendukung untuk penerbangan," jawab Radita.


"Apa kita tunggu disini barangkali nanti malam ada penerbangan ke Bali," usul Tomy.


"Bagaimana, ya?" Radita nampak kebingungan mengambil keputusan.


"Ya, kita pake mobil saja, Bos. Dini hari nanti kita bisa sampai di Bali," celetuk Pak Ob sopir pribadi Radita.


"Terserah Pak Ob sanggup tidak?"

__ADS_1


"Enteng, Bos. Dengan mobil seperti ini mungkin bisa lebih cepat sampai ke Bali," Pak Ob memberi keyakinan.


"Ok. Kita berangkat sekarang. Jangan tunggu lama-lama. Saya takut ada apa-apa dengan Cytra."


Dengan sangat cekatan mobil pun keluar dari kerumunan orang dan kendaraan di depan bandara. Lalu langsung tancap gas mengambil jalur yang menuju ke jalan tol.


Di dalam mobil yang melaju bagai terbang di atas aspal itu, Radita membayangkan Ibra yang satu pesawat dengan Cytra menuju ke Bali.


"Sialan! Awas kalau kau berani macam-macam dengan calon istriku!" keluh Radita.


Sementara itu ditempat lain beberapa menit yang lalu, Cytra baru melihat sosok Ibra ketika naik ke atas pesawat. Tas yang ia bawa dengan cekatan langsung digunakan untuk menutupi wajahnya. Agar tak terlihat oleh si playboy itu. Padahal Ibra sudah melihatnya sejak berada di ruang tunggu pemberangkatan.


"Cytra!" suara panggilan itu terdengar oleh Cytra ketika ia mencari tempat duduknya di dalam pesawat. Tetapi Cytra tidak menoleh sama sekali. Padahal ia tahu suara itu darimana.


Hingga pesawat mendarat di Bandara Ngurah Rai, Cytra masih tetap menyembunyikan mukanya agar tidak terlihat Ibra. Bahkan setengah berlari Cytra keluar dari Bandara dan dijemput oleh Mellany dan dua orang pria staf kantor.


Di dalam mobil Cytra tidak memikirkan lagi pria brengsek itu karena langsung terlibat pembicaraan serius dengan Mellany dan dua orang pria staf kantor.


Mengetahui Cytra dijemput beberapa orang, Ibra tidak berani mendekat. Dari kejauhan dia amati saja langkah wanita yang cantik dan anggun itu.


Lalu ia ambil hapenya dan menelpon Frans Seda. Pria yang kecewa karena kedudukannya sebagai Dirut PT ANN telah tergeser oleh Cytra.


["Ya, aku sudah tahu. Karena malam nanti ada rapat komisaris dan para stakeholder di hotel "S"] kata Frans di video call-nya Ibra.


Ibra sebenarnya tak begitu setuju dengan rencana Frans. Hatinya tidak bulat terlibat dalam konspirasi jahat itu. Namun apa boleh buat dia sudah menyepakati kerjasama dengan Frans. Dimana bila berhasil ia akan mendapatkan upah yang sangat besar.


Alasan lainnya, sekarang sudah tidak mungkin mengulang kembali seperti dulu dengan Cytra. Wanita itu sudah banyak ia sakiti. Dan kini hatinya sudah tertambat pada Radita. Owner perusahaan besar Prama Group. Sangat sebanding dengan kedudukan Cytra saat ini.


Ibra terus berkutat dengan pikirannya sendiri di dalam taxi yang membawanya ke sebuah tempat. Ia tega-tegakan hatinya untuk mencelakakan Cytra di tempat itu.


****


Rapat komisaris dan stakeholder di sebuah hotel malam itu selesai dengan hasil yang memuaskan semua pihak. Cytra mendapat pujian dari hadirin, dan mendapat ucapan selamat sebagai owner baru perusahaan "H" di Australia.


Frans yang digesernya dari Dirut PT ANN juga mengucapkan selamat kepadanya.


"Kamu memang hebat, Cytra. Saya senang digeser sebagai Dirut karena ternyata pengganti saya lebih pandai dan hebat," Frans pura-pura memujinya dengan ikhlas.


"Terimakasih atas pujiannya," jawab Cytra pendek kemudian meninggalkan Frans berjalan ke meja tempatnya memimpin rapat untuk mengambil tas dan barang lainnya seperti laptop dan kertas bahan rapat.


"Biar saya yang membawakan, Nyonya," ucap Mellany yang terus mendampinginya.


"Laptop dan kertas-kertas ini saja yang kau bawa, tasnya biar aku sendiri yang bawa," perintah Cytra kepada asistennya itu.

__ADS_1


Barang-barang itu pun segera pindah ke tangan Mellani, kemudian dia pergi meninggalkan Cytra dan Frans.


"Mellany asisten yang baik. Dulu Mr Morgant juga sangat mengagumi kinerjanya," kata Frans berbasa-basi.


"Ya, betul. Karena sudah selesai semua urusan saya mohon pamit mau pulang," ucap Cytra kemudian.


"Sebentar, Cy. Saya punya teman investor besar yang punya modal trilyunan. Dia mau bergabung dengan kita," kata Frans.


"Kenapa tidak kau ajak sekalian tadi kesini?"


"Orangnya baru datang dari Jepang. Dia mau infestasi sampai sepuluh T kalau kita mau kerjasama dengannya dalam bidang teknologi."


"Cukup menarik itu, sesuai dengan program kita."


"Bagaimana kalau kita ajak dia berbincang-bincang sebentar."


"Dimana dia sekarang berada?"


"Di 'Paviliun Bunga' masih di kompleks hotel ini."


"Ok. Tapi waktuku tidak banyak. Kita bincang-bincang sebentar saja, ya."


Mereka lalu menuju ke "Paviliun Bunga" dengan jalan kaki. Berjarak cukup jauh dari tempat rapat. Harus turun dulu ke lantai dasar dan berjalan lagi sekitar 100 meter baru sampai di tempat yang dituju.


"Paviliun Bunga" dari luar nampak sepi. Tapi lampu di dalam menyala terang tanda penghuninya masih terjaga, belum tidur.


Ketika pintu terbuka setelah diketuk, muncul seorang wanita muda yang menyilahkan Frans dan Cytra masuk kemudian duduk di sofa ruang tamu.


Wanita itu kemudian menyuguhkan minuman sambil berkata suaminya sedang berada di kamar sebentar lagi keluar.


"Ayo Cy diminum untuk menghargai tuan rumah," ucap Frans.


Cytra tanpa berprasangka buruk meminum minuman yang terasa manis sampai habis. Lalu gelas kecil itu diletakannya di meja.


Melihat Cytra nampak kehausan Frans menuangkan lagi minuman tersebut ke gelas yang sama.


Sampai tahap itu Cytra tidak curiga kalau sedang dijebak oleh Frans yang sudah lama menginginkan tubuh wanita cantik dan anggun itu.


Satu gelas kecil saja sebenarnya sudah cukup membuat kepala Cytra pening berputar-putar. Apalagi ditambah satu gelas lagi yang selesai diminum oleh Cytra.


.....Halo para reader yang setia, gimana nih kita terusin apa kita sudahin kisahnya?


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2