
"Aku tidak menyangka kalau diriku yang sudah memiliki dua anak ini masih menarik di mata seorang bujang yang tampan dan punya masa depan cerah," ucap Cytra menyanjung Alberto.
"Tidak cuma di mataku, tapi di dalam hati ini kau nampak sempurna sebagai wanita. Kau memiliki kecerdasan, kecantikan dan sebagai ibu yang baik," Alberto tak mau kalah memuji Cytra.
"Terimakasih atas pujiannya. Padahal semula aku mengira tidak mungkin akan mendapatkan cinta darimu. Karena aku seorang single parent," Cytra merendah.
"Yang aku lihat bukan itu darimu. Kau berbeda dengan wanita lainnya. Aku berharap kaulah wanita terakhir yang aku cintai sampai kita menikah nanti," kata Al serius.
"Kau sudah berpikir jauh soal pernikahan. Padahal kita baru saja jadian. Aku seperti mimpi saja hari ini. Tidak percaya telah mendapatkan anugerah yang yang sangat besar ini."
"Kalau kau mau aku ingin bulan depan kita menikah. Bagaimana menurutmu?"
"Apa?? Bulan depan kau akan menikahiku?"
"Ya, bulan depan. Aku tidak ingin berlama-lama pacaran. Mama sudah lama menginkan aku punya keluarga sendiri," kata Al meyakinkan.
Cytra ingat masalah Alberto dengan Hanna yang katanya Albertolah yang menjanjikan untuk menikah. Apakah laki-laki ini mudah menyatakan untuk menikah, tapi mudah pula mencabut perkataannya sendiri?
"Waktu bersama Hanna benarkah kamu juga yang mengajaknya menikah?" tanya Cytra.
"Ya, memang saya yang mengajaknya menikah. Tapi waktu itu aku belum tahu kalau dia ternyata seorang wanita penghibur," jawab Alberto dengan tanpa perasaan bersalah.
"Kamu tahu kan diriku dulu penyanyi cafe. Ibuku juga penyanyi cafe. Apakah hal itu tidak membuat kamu merasa risih jika nanti menikah denganku." Cytra membuka masa lalunya untuk diketahui oleh Alberto.
"Ya aku sudah tahu itu. Tapi aku menilai itu salah satu dari kelebihanmu. Aku tidak melihat sesuatu yang tabu dalam dirimu pernah bekerja di bidang itu," ujar Alberto tak nampak adanya keraguan.
Memang salah satu yang membuat Cytra ragu mencintai Alberto adalah catatan kehidupannya di masa lalu. Karena hal itu dulu membuatnya gagal mengikat pernikahan dengan Ridwan. Orangtua Ridwan kurang senang bila calon istrinya adalah bekas penyanyi cafe.
"Terimaksih. Sungguh aku tidak menyangka kau begitu baik. Tidak mempermasalahkan masa laluku. Tapi aku minta jangan bulan depan kita menikah. Waktunya terlalu mepet. Apalagi kita belum ada persiapan apa-apa."
__ADS_1
"Tidak usah berpikir soal biaya. Semuanya akan saya tanggung untuk merayakan pernikahan kita dengan mengundang sahabat dan relasi kita," kata Alberto dengan antusias.
Cytra tersenyum geli melihat semangat calon suaminya itu. Nampak sekali kalau Alberto masih sangat muda belum pengalaman melaksanakan pernikahan. Sehingga begitu menggebu-gebu ingin segera melaksanakannya.
"Maaf saya saja nanti yang menentukan tanggalnya. Karena saya yang lebih tua dari kamu dan berpengalaman soal itu," usul Cytra karena sebenarnya masih banyak yang perlu dipertimbangan menikah dengan keponakan mendiang suaminya itu.
"Apakah kamu belum siap menikah dengan saya?" tanya Al curiga.
"Aku siap menikah dengan kamu. Tapi hendaknya pernikahan itu dilaksanakan jangan tergesa-gesa. Pernikahan itu adalah sebuah peristiwa yang sangat sakral bagi manusia. Maka seyogyanya pernikahan itu hanya satu kali. Kecuali suami atau istri meninggal," ungkap Cytra.
"Ok, saya setuju kamu yang menentukan waktunya. Saya akan mengikuti saja," ujar Alberto.
Cytra tersenyum geli lagi melihat keluguan calon suaminya itu. Dari awal hingga akhir pembicaraan sikap Alberto sangat kaku seperti laiknya pemuda yang baru punya pacar. Sebagai wanita yang banyak pengalaman dalam bercinta, suasana begitu rasanya hambar.
"Ok, kalau begitu saya mohon ijin pulang, tadi ada telpon dari rumah, kelihatannya ada hal penting. Karena tidak biasanya orang rumah menelpon," kata Cytra sedikit khawatir dengan keadaan rumah.
"Saya juga sudah jenuh berada di kamar ini. Kalau boleh aku ikut kamu," kara Alberto polos.
"Ada, tapi tidak penting amat kok. Paling membaca laporan dari masing-masing bagian."
"Hidiih...! Pimpinan baru kok malas berangkat ke kantor. Nanti sehabis selesai pekerjaan saja kamu ke rumahku."
Cytra dalam struktur perusahaan kedudukannya memang di atas Alberto. Maka sebagai atasannya tepat jika Cytra menyarankan Alberto seperti itu.
Setelah dipikir akhirnya Arbeto mau menuruti perintah atasannya itu. Dia kembali ke kantornya. Sedangkan Cytra pulang ke rumah.
Dalam perjalanan pulang Cytra merasa ada yang janggal pada laju mobilnya. Ia merasa ada gangguan di bagian rem yang kurang berfungsi dengan baik. Padahal ia pakai dari rumah normal-normal saja. Juga ketika ia keluar dari parkir mobil.
Semakin jauh mobil melaju semakin terasa rem tidak berfungsi. Maka dia turunkan laju mobilnya. Berbahaya sekali bila rem blong. Padahal jalanan samgat ramai. Kepanikan mulai merambat pada dirinya.
__ADS_1
Belum sempat ia berpikir untuk menghentikan mobilnya, di depan nampak jalanan menurun tajam. Waduh! Gimana ini! Seru Cytra benar-benar panik. Apalagi rem sudah tidak bisa untuk menghentikan laju mobil.
Seperti didorong dari belakang mobil Cytra semakin kencang meluncur. Beberapa kali Cytra menghindari mobilnya menabrak mobil di depannya.
Karena sudah tidak bisa mengerem sama sekali, mobil zig-zag ke kanan ke kiri. Keringat dingin meleleh di tengkuk dan wajahnya.
Cytra menjerit dan menangis tidak mampu lagi mengendalikan kemudi. Dan saat jalanan yang turun itu menikung Cytra merasa terbang bersama mobilnya. Setelah itu terjadi benturan yang sangat keras. Cytra sudah tidak mendengar lagi apa-apa. Pingsan.
Ketika siuman Cytra merasa sudah berada di rumah sakit. Seluruh badannya terasa sakit semua. Dokter dan paramedis baru saja selesai melakukan perawatan dan pengobatan pada bagian tubuhnya yang terluka. Diantaranya di jidat, tangan dan kaki.
"Nyonya beruntung hanya menderita luka di bagian luar," kata seorang suster yang mendorong kereta tempat ia berbaring ke kamar perawatan.
Cytra merasa berat untuk bicara. Tenggorokannya tercekat mungkin karena faktor psikhologis dari kejadian kecelakaan yang barusan ia alami.
Padahal ia mau bertanya apakah ada saudara, teman atau keluarga di rumah yang sudah datang untuk mendampinginya di rumah sakit.
"Ibu tenang saja istirahat, sudah ada yang mengurus kecelakaan ibu tadi," kata suster lagi.
Di kanan kiri Cytra ada dua suster yang mendorong kereta dan memegangi selang infus dengan penuh perhatian.
Setelah sampai di kamar perawatan Cytra melihat Alberto tergopoh-gopoh mendekatinya.
"Gimana, Sayang. Kau sudah siuman," ucap pria tampan itu di samping Cytra.
Seketika itu terasa tenang perasaan Cytra. Dan perlahan-lahan dia mulai bisa bicara dengan suara yang sangat lirih. Sampai Alberto mendekatkan wajahnya ke wajah Cytra.
"Sebentar lagi orang-orang di rumah dan anakmu akan datang kesini. Tadi mereka sudah saya hubungi," kata Alberto.
"Pasti ada yang sengaja membuat saya kecelakaan," ucap Cytra pelan.
__ADS_1
"Sudah kamu jangan mikir itu dulu. Polisi sudah mrnyelidiki sebab-sebab kecelakaan. Saya juga sudah diminta keterangannya tadi."
Bersambung