
Dokter Sifa masih berdiri di depan lobby rumah sakit, dia baru saja mengantar kepergian Sam.
"Semoga kamu menjadi Davian yang dulu aku kenal." Ucap dokter Sifa dalam hati sembari melangkah ke dalam rumah sakit.
- - -
"Hai Dav." Sapa dokter Sifa setelah masuk ke dalam ruang perawatan Davian.
"Aku periksa dulu ya jahitannya." Davian hanya diam tanpa menjawab atau sekedar membalas sapaan dokter Sifa, bahkan Davian tidak melirik dokter Sifa sama sekali.
Dokter Sifa membuka perban yang membalut perut Davian secara perlahan.
"Aww." Davian terpekik karena merasakan sakit di bekas luka yang sudah di jahit.
"Maaf Dav aku tidak sengaja." Ucap dokter Sifa yang tidak sengaja menekan luka Davian.
Setelah perban berhasil di buka, dokter Sifa langsung membersihkan jahitan di perut Davian, terdapat tiga titik jahitan di perut Davian yang paling panjang terletak tepat di perut sebelah kiri.
"Untung saja tusukan itu tidak mengenai ginjal Dav." Ucap dokter Sifa yang masih dengan telaten membersihkan jahitan Davian.
Davian memilih sibuk dengan ponselnya, dia tidak sekalipun melirik ke arah dokter Sifa, walaupun Davian begitu dokter Sifa tidak menyerah.
Setelah selesai dengan pekerjaannya dokter Sifa mencuci tangan, kemudian dia menarik kursi duduk di sebelah Davian.
"Kamu belum makan Dav?" Tanya dokter Sifa ketika melihat makanan Davian masih utuh di atas meja.
__ADS_1
"Aku suapin ya." Tanpa menunggu jawaban Davian dokter Sifa segera mengambil nampan diatas meja.
Davian diam tak bergeming, di sebelahnya dokter Sifa sibuk membuka box makanan.
"Dav." Ucap dokter Sifa menyodorkan sendok ke arah Davian.
Davian tetap diam
"Kalau kamu tidak makan luka kamu gak kering Dav." Kata dokter Sifa membujuk Davian.
"Ayo Dav makan." Dokter Sifa tidak menyerah walaupun Davian tetap diam.
"Apa kamu mau makan sendiri?" Tanya dokter Sifa setelah berapa lama Davian tetap diam.
"Huh" dokter Sifa membuang nafas berat.
"Ayo makan." Dokter Sifa menyodorkan sendok kepada Davian, kali ini Davian mau membuka mulutnya dan melahap makanan itu.
Dokter Sifa terus menyuapi Davian dengan telaten, dia juga mengajak Davian bicara walaupun tidak ada respon dari Davian.
"Yeee habis." Ucap dokter Sifa senang setelah makanan Davian habis, melihat tingkah dokter Sifa Davian menoleh menatap sendu dokter Sifa, ada secercah kerinduan dalam hati Davian.
"Kamu istirahat ya, besok aku temani keluar." Kata dokter Sifa menarik selimut Davian, dokter Sifa melangkah meninggalkan Davian.
"Terimakasih." Ucap Davian dengan suara lirih tapi masih bisa di dengar dokter Sifa.
__ADS_1
Dokter Sifa berbalik dan tersenyum ke arah Davian.
"Kamu bisa selamat sudah cukup sebagai ucapan terimakasih mu Dav." Gumam dokter Sifa kembali melangkah keluar ruang perawatan.
- - -
Sam tersenyum menatap layar ponselnya, dia merasa senang mendengar kabar perkembangan Davian dari dokter Sifa, apalagi dokter Sifa mengatakan Davian mau merespon nya sekarang.
"Permisi pak." Ucap Monica setelah mengetuk pintu.
"Ada apa?" Tanya Sam menatap Monica.
"Ini laporan yang pak Sam minta." Kata Monica menyerahkan beberapa amplop berwarna cokelat.
"Terimakasih." Jawab Davian menerima amplop.
"Ah tidak usah sungkan begitu pak." Ucap Monica tanpa sadar.
"Apa." Kata Sam menatap Monica tajam.
"Maaf pak." Ucap Monica.
"Saya permisi." Monica memukul mulutnya beberapa kali sembari keluar dari ruangan Sam.
Sam menatap punggung Monica sebelum pintu tertutup
__ADS_1
"Ternyata kamu cantik juga." Gumam Sam sambil tersenyum.