WANITA TERAKHIR

WANITA TERAKHIR
Bab 105 Pembelotan Anak Genius


__ADS_3

Putra si anak genius itu tidak mengatakan yang sesungguhnya bahwa yang mengantar dia pulang adalah orang yang sangat ia kenal. Tapi orang asing yang belum ia kenal.


Radita akhirnya jadi tambah pusing memikirkan hal itu. Dibiarkan saja anak itu lari meninggalkannya dan bermain dengan adiknya lagi.


"Dugaanku ternyata meleset. Tapi siapa orangnya yang berbaik hati terhadap anaknya Cytra," gumamnya sendiri di ruang tengah.


Sedangkan Cytra tetap di kamarnya rebahan dengan tenang. Radita kalah cepat dengannya. Sebelum Radita bertanya kepada Putra, dia sudah mendahului tahu dari anaknya, bahwa yang mengantarnya pulang adalah Ibra. Kemudian dia minta agar hal itu dirahasiakan.


"Jangan disampaikan hal itu kepada Kakak. Nanti Kakak marah lagi kepada Om Ibra," kata Cytra menasihati Putra yang kelihatan makin kompak dengannya.


Setelah itu Cytra masuk lagi ke kamarnya. Ketika ia keluar dari kamarnya setelah istirahat siang Radita tidak terlihat di dalam rumah besar seperti istana itu. Dilihatnya Putra dan Sanjaya sudah mandi. Karena memang sudah pukul 16.30.


Kedua anak itu langsung menghambur mendekatinya.


"Kakak pergi, Ma," kata Putra.


"Kamu tidak tahu dia pergi kemana?" tanya Cytra.


"Tidak, Ma. Kakak marah kali, Ma. Kenapa sih Putra disuruh bohong sama Kakak."


"Sesst...karena Kakak tidak suka Om Ibra."


"Om Ibra kan baik mau ngantar Putra pulang."


"Kamu suka sama Om Ibra, ya?"


"Om Ibra baik, Ma. Sering beliin jajan."


Cytra berpikir. Padahal tadi niatnya mau merayu Putra agar menerima Radita sebagai papanya. Tapi kelihatannya Putra sudah punya pilihan.


"Kalau Kakak sayang tidak dengan kalian?"


"Sayang, Ma. Tapi Putra lebih suka sama Om Ibra."


"Kalau Wijaya sayang sama Kakak sayang sama Om Ibra," celetuk adiknya lucu.


Cytra mati kata. Makin bingung menghadapi kedua anaknya. Lalu berpikir. Apa yang harus dikatakan agar kedua anaknya suka kepada Radita dan mau menerimanya sebagai papanya. Karena Radita mentargetkan bulan depan harus bisa menikah dengan Cytra.


"Kalau dengan Mama, kalian sayang tidak?"


"Sayang!" teriak kedua anak itu.


"Kalau kamu sayang sama Mama. Mau nurut tidak sama keinginan Mama?"


"Mau!" teriak kedua anak itu.


"Begini...," diam sejenak. Berat rasanya mengutarakan kalimat yang sudah menggantung di bibir. Lalu akhirnya terucap juga kalimat itu. "Mama..., ingin Ka-kakak menjadi papa kalian."

__ADS_1


"Tidak mau!" teriak Putra spontan.


"Mau, Ma!" teriak Wijaya.


"Om Ibra saja yang jadi papa Putra!"


"Kakak saja yang jadi papa!"


Kepala Cytra tiba-tiba pening mendengar teriakan kedua anaknya. Ada perasaan menyesal dia terlanjur mengutarakan keinginannya menikah dengan Radita. Tetapi apa pun tanggapan anaknya harus dihadapi. Sekarang sudah jelas bahwa Putra menolak sedang Wijaya menerima. Tinggal bagaimana upaya yang harus dilakukan agar Putra merubah sikapnya.


"Katanya Putra sayang sama Mama kenapa menolak keinginan Mama?"


"Putra sayang sama Mama. Tapi Putra tidak mau kalau Kakak jadi papa Putra." anak geneius itu tetap pada pendiriannya.


"Tapi Om Ibra belum tentu mau jadi papa Putra."


"Mau, Ma. Om Ibra sudah bilang mau jadi papa Putra."


"Kapan Om Ibra bilang gitu?"


"Waktu ngantar Putra pulang."


Kalimat terakhir anaknya itu sangat mengagetkan Cytra. Rupanya playboy kelas kakap itu sudah mempengaruhi pikiran anaknya. Sialan! Sekarang begundal itu yang pegang kunci rencana Cytra kedepan.


"Ya, sudah sekarang kalian kembali lagi ke kamar. Belajar jangan main melulu," perintah Cytra.


Kedua anak itu lalu berlari masuk ke kamarnya.


"Sekarang aku sudah menemukan jawaban siapa yang mengantar Putra pulang dari sekolahan," katanya dengan tersenyum kepada Cytra.


"Tahu darimana?" tanya Cytra.


"Dari CCTV di pos penjagaan. Rupanya bekas pacarmu itu yang mengantar pulang anakmu."


"Syukurlah."


"Ya. Kita harus mengucapkan terimaksih kepadanya," kata Radita dengan tidak menunjukkan perasaan marah atau curiga kepada Cytra kalau masih cinta pada Ibra.


"Kau tidak mempersoalkan yang mengantar Putra dia?"


"Kenapa mesti dipersoalkan. Memang Ibra ada maksud untuk mendekati kamu lagi. Tapi bagiku dia bukan ancaman. Sangat ringan saya bersaing dengan dia untuk mendapatkanmu."


"Kamu tidak khawatir?"


"Sama sekali tidak!"


"Apa alasannya?"

__ADS_1


"Saya yakin kamu tidak akan mau kembali kepada orang yang sudah sering menyakitimu. Kedua keadaannya sekarang ini sedang bangkrut. Kamu yang sekarang sudah menjadi primadona di kalangan pengusaha, tidak pantas bersanding dengan dia," papar Radita penuh percaya diri.


Memang dalam hati Cytra sendiri rasanya sulit menumbuhkan cintanya kembali kepada Ibra. Pria itu kini jauh berada di bawahnya. Kejayaan perusahaan mamanya sudah runtuh. Hidup Andante kini sudah bangkrut.


"Aku ingin merayakan kebahagiaan kita ini dengan memberimu hadiah. Terserah kamu mau pilih apa. Mobil atau jabatan sebagai dirut di Prama Group."


Cytra heran Radita begitu percaya diri akan menikah dengannya. Padahal satu bulan ke depan bisa muncul banyak kemungkinan.


"Terserah kamu saja mau memberi hadiah apa kepadaku. Hanya ada satu permintaanku; pernikahan nanti adalah pernikahan terakhir dalam hidupku."


"Aku berjanji kepada diriku sendiri, bahwa engkau adalah wanita terakhir dalam hidupku. Wanita terakhir yang akan menjadi istriku. Tidak akan ada wanita lain yang akan mengganggu hubungan kita."


"Dulu aku pernah mendengar ucapan janji seperti itu dari Ibra. Tapi nyatanya setelah janji itu terucapkan malah berdatangan wanita baru yang mengganggu hubungan kita."


"Jangan khawatir aku tidak akan mengecewakan kamu."


"Tapi masih ada satu lagi yang mengganjal rencana kita. Yaitu Putra. Dia tidak ingin kamu berubah status menjadi papanya."


"Ya, memang. Tapi aku kira hal itu bisa kita tangani nanti secara perlahan. Mudah-mudahan dia bisa berubah sikap setelah melihat kita bersatu dan akur."


"Mungkin dia trauma dengan masalah yang terjadi diantara kita dulu."


Bersamaan itu Putra keluar lagi dari kamarnya tanpa diikuti oleh Wijaya. Anak genius itu langsung melendot ke mamanya.


"Mama sedang apa dengan kakak?" tanya anak kecil itu penuh selidik.


Mendengar pertanyaan itu Cytra dan Radita saling berpandangan.


"Mama sedang membicarakan kamu, kenapa tidak mau punya papa lagi," kata Cytra kemudian.


"Putra mau punya papa lagi. Tapi jangan kakak yang jadi papanya," kata anak kecil itu seperti sudah punya keyakinan yang teguh.


"Apakah kamu punya pilihan, coba sebaiknya siapa?" Radita ikut bicara.


Putra diam tak menjawab. Dia memandang wajah Cytra seperti minta pertimbangan.


"Putra sayang sama Kakak dan Mama. Tapi Putra lebih suka kalau papa putra Om Ibra, Kak," kata Citra membantu Putra bicara.


Radita tak menjawab tapi memandang ke wajah anak kecil itu dengan tajam. Sehingga Putra menyembunyikan mukanya di belakang tubuh Cytra.


Cytra memberi kode supaya Radita tidak bersikap menakutkan kepada Putra. Tapi sebelum Radita merubah sikapnya, Putra sudah berlari masuk ke kamarnya lagi. Sedangkan Radita berdiri lalu melangkah ke kamarnya.


"Aku mau ganti baju dulu. Gerah," katanya.


Cytra menjadi berpikir jangan-jangan Radita pernah berbuat kasar kepada Putra. Sikap takut yang ditunjukan anaknya tadi seperti ada kenangan yang tidak enak dengan Radita. Entah kenangan pahit apa. "Jangan-jangan Radita pernah berbuat kasar pada Putra," bisik batinnya.


Sekian tahun Cytra tinggalkan anak itu untuk memburu ambisinya menjadi orang terkenal. Di saat itu dia tidak tahu apa yang terjadi dengan anaknya. Karena Cytra tidak mesti menjenguknya di rumah besar seperti istana itu. Bahkan bisa dihitung dengan jari tangan Cytra sempatkan melongok Putra dan Sanjaya.

__ADS_1


......Halo pembaca yang budiman, kisah ini mendekati episode akhir, terimakasih ya para reader yang masih setia mengikuti kisahnya


Bersambung


__ADS_2