WANITA TERAKHIR

WANITA TERAKHIR
Bab 152. Benci Berasa Cemburu


__ADS_3

Di sebuah perusahan besar yang masih satu group dengan perusahaan tempat Cytra bekerja, Alberto yang didaulat sebagai CEO duduk di kantornya dengan penuh wibawa.


Banyak karyawan wanita yang kesengsem dengan penampilan pria tampan ini. Namun tidak ada yang mencoba cari perhatian atau berani menggodanya.


Pagi itu di ruang loby banyak tamu dari kalangan staf yang antre untuk menghadap Alberto yang baru datang dari Autralia. Sampai seluruh kursi di ruang loby itu penuh orang. Bahkan ada yang berdiri karena tidak kebagian kursi.


Mereka belum juga dipanggil oleh ajudan untuk masuk ke ruang kerja secara bergiliran setelah menunggu sekitar satu jam. Karena di dalam ruangan masih ada tamu yang sedang menghadap.


"Sudah satu jam kita menunggu tapi tidak ada tanda-tanda tamu itu akan keluar," seorang laki-laki setengah baya yang duduk paling depan nyeletuk.


"Iya nih! Siapa sih tamu di dalam itu. Tidak tahu kita sudah tak sabar menunggu," sahut tamu lainnya.


"Kata ajudan sih tamunya seorang wanita. Sepertinya bule. Rambutnya pirang dan matanya biru," kata tamu lainnya lagi.


"Sedang apa mereka di dalam. Sudah satu jam lebih belum juga rampung urusannya," tamu yang duduk di kursi belakang ikut menyahut.


"Pacaran kali," bisik yang lain.


"Hus! Hati-hati lu bicara. Bisa dipecat lu!"


Disaat mereka sedang bergunjing Cytra masuk ke lobi kantor itu. Orang-orang yang ada disitupun langsung diam melihat siapa yang datang. Mereka tahu kedudukan Cytra di dalam perusahaan tersebut.


"Ada apa ini kok berkumpul disini tidak pada bekerja di mejanya masing-masing?" tanya Cytra dengan penuh wibawa.


"Kami mau asmanan, Bu," kata mereka bisa serentak sama. Dan ditangan mereka memang ada setumpuk map kerja yang harus ditandatangani oleh CEO.


"Memang kemana Tuan Alberto?"


"Ada di dalam, Bu. Masih ada tamu," kata seorang karyawan.


Cytra kemudian melangkah menuju ke pintu ruangan CEO. Di depan pintu itu Cytra dicegat oleh seorang security yang belum mengenalnya. Kelihatannya security itu orang baru. Maka pantas tidak mengenal wanita yang ada di depannya itu siapa.


"Maaf ibu siapa. Di dalam masih ada tamu. Mohon ibu menunggu sebentar di loby," kata security yang masih muda belia itu.


"Kamu tidak kenal saya. Saya ini nyonya Roberto, istri tuanmu. Cepat buka pintunya kalau tidak ingin aku pecat!" gertak Cytra.

__ADS_1


Security itu langsung mengkeret dan cepat-cepat membuka pintu. Cytra tersenyum dalam hati. Tapi seketika bibirnya mengkelung cemberut ketika melihat Alberto dan Hanna sedang ngobrol di dalam.


"Maaf Tuan Roberto diluar banyak karyawan menunggu. Mereka cuma butuh tanda tangan anda. Tapi anda malah ngobrol yang tidak perlu seperti ini," kata Cytra formal tidak seperti biasanya kalau di bicara dengan Alberto.


Melihat Cytra datang tiba-tiba Alberto meloncat dari kursinya. Hanna yang semula duduk sambil melendot ke bahu Alberto terpental ambruk ke sofa.


"Maaf gara-gara ada perempuan sialan ini saya jadi lupa pekerjaan?" ucap Roberto gugup.


"Saya tidak mau tahu apakah dia istrimu atau bukan yang jelas kamu sudah melakukan kelalaian dalam masa kerjamu yang pertama disini," kata Cytra marah.


Wajar Cytra bersikap seperti itu. Pertama melihat kinerja Alberto yang cukup buruk. Kedua kenapa Hanna bisa berada di samping Roberto lagi. Cytra merasa dibohongi olehnya yang katanya akan menjauhi Hanna ternyata masih mau bermesraan di dalam kantor pada jam kerja lagi.


"Maaf saya memang salah. Jangan laporkan hal ini kepada direksi," Alberto memohon dengan mengatupkan tangannya di dada.


"Cepat layani para karyawanmu di depan. Mereka sudah mau bekerja cepat dan efektif, tapi kamu malah seenaknya sendiri kerjanya."


Tanpa menunggu lama Alberto langsung perintah ajudannya supaya karyawan yang pada menunggu di depan diminta masuk satu persatu.


Setelah urusan seluruh karyawan selesai ditangani, Cytra pergi meninggalkan Alberto dan perempuan binal itu begitu saja.


"Kenapa kamu takut, kamu kan keponakannya pemilik perusahaan ini. Sedangkan dia apa sih. Penyanyi cafe preman lagi," kata Hanna sewot setelah Cytra pergi.


"Kamu tidak tahu, ini masalah serius. Cepat kamu menyingkir saja dari sini. Sebelum Cytra melaporkan ke direksi," kata Alberto kelihatan cemas.


Sungguh dia tidak mengira Cytra akan memergokinya masih bersama Hanna. Wanita penghibur itu terus menempel kemana dia pergi. Sudah berkali-kali dia menyuruhnya pergi tapi katanya masih rindu ingin "bobo" bersama.


"Aku tidak akan pergi aku masih ingin disini, Sayang," kata Hanna manja.


"Tapi aku mau bekerja jangan kau ganggu," pinta Alberto.


"Ya silahkan kamu bekerja saja, aku tidak akan mengganggu," kata Hanna dengan enaknya.


"Bagaimana aku bisa bekerja kalau kamu masih menempel terus begini," keluh Alberto.


"Kamu pakai pemikat apa sih sampai aku tergila-gila kepadamu begini," Hanna malah merayu. Dia tahu kelemahan Alberto kalau dipuji akan menjadi lelaki yang penurut.

__ADS_1


"Itu bukan karena saya pakai pemikat, tapi karena kamunya sendiri yang suka merayu laki-laki," jawab Alberto tidak disangka-sangka oleh Hanna.


"Kok jadi kasar begitu sih, Sayang?" tanya Hanna pura-pura takntahu. Padahal ia tahu apa yang menyebabkan Alberto berubah seperti itu sikapnya.


Sebelum Cytra datang tadi hampir saja Alberto berhasil dirayunya untuk menandatangani sebuah surat yang tidak ia baca isinya. Namun tiba-tiba Cytra datang membuyarkan rencananya.


"Sudah sana pergi aku mau bekerja!" bentak Alberto tiba-tiba. Mimik mukanya jelas marah kepada wanita berwajah tirus itu.


"Aku pergi tapi nanti kembali lagi kesini!" jerit Hanna lalu pergi setelah mengemasi kertas-kertas suratnya ke dalam map.


Rasanya ruangan menjadi lega dan segar kembali setelah wanita itu pergi. Alberto kembali lagi ke meja kerjanya. Dilihatnya di bawah meja ada selembar kertas tergeletak hampir diinjak kakinya.


Dia ambil kertas itu. Ternyata salah satu bagian dari surat Hanna yang tertinggal. Setelah dibaca dengan cermat isinya membuat Alberto tercengang. Tertera beberapa rincian biaya pesta pernikahan yang nilainya mencapai satu miliar rupiah.


Untung Alberto tadi tidak tandatangani proposal itu. Hampir saja dia tertipu oleh rayuan Hanna. Secara tidak disengaja Cytra datang tepat waktu menyelamatkannya. "Aku patut berterimakasih kepada Cytra," gumam Alberto di ruang kerjanya.


Alberto kemudian menelpon Cytra. Rupanya Cytra masih berada di perjalanan pulang. Baru saja mengikuti acara di sebuah hotel.


["Untuk apa kamu menelponku. Bukankah disitu sudah ada partner kerjamu,"] kata Cytra dari seberang telepon dengan nada ketus.


"Hanna tidak kuundang, dia datang sendiri ke kantor," Alberto beralasan.


["Kamu sudah membohongiku. Katanya sudah tidak ingin bertemu lagi dengan Hanna. Tapi apa. Nyatanya dia masih begitu dekat denganmu,"] ucap Cytra kesal


"Sejak kapan kamu punya perasaan tidak suka Hanna dekat denganku?" tanya Alberto menggelitik. Tahu kalau tersirat kecemburuan dalam kalimat Cytra.


["Siapa bilang aku tidak suka kamu dekat dengan Hanna. Enak aja kau bilang,"] kilah Cytra.


Alberto tersenyum sendiri di ruang kerjanya. Ia bayangkan wajah Cytra pasti merah jambu ketahuan punya rasa cemburu kepada dirinya.


"Kalau begitu boleh dong sekarang aku ke rumahmu," kata Alberto karena dari kemarin Cytra mencegahnya main ke rumahnya.


"Silahkan. Tapi jangan salahkan aku kalau perempuan binal itu nanti marah."


Alberto tidak menanggapi kdlimat terakhir Cytra itu. Dia segera berkemas-kemas kemudian minta diantar oleh sopir ke rumah Cytra.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2