
Rumah besar seperti istana itu sudah beberapa hari ini sepi. Tidak ada jeritan dan suara tertawa anak-anak. Tanpa Putra dan Sanjaya rumah menjadi beku tak bergairah.
Radita sangat merasakan sekali suasana seperti itu beberapa hari ini.
Ketika mengetahui Cytra pergi bersama anak-anak sebenarnya dia ingin menyusulnya ke Bali. Tetapi Mbak Ijah yang dititipi pesan oleh Cytra telah menyampaikan tidak perlu disusul. Dengan kata lain Cytra akan segera pulang. Namun hingga beberapa hari itu tidak ada kabarnya.
"Ijaaaah!" teriak Radita lantang mengagetkan para asisten rumah yang sedang bekerja siang itu.
Mendengar tuannya memanggil, yang punya nama lantas secepat kilat berlari mendekat.
"Kamu itu sepertinya senang ya kalau anak-anak tidak ada di rumah!" bentak Radita.
"Ti-tidak, Tuan...."
"Tadi buktinya cuma santai santai saja tidak bekerja, tapi gaji mintanya dibayar penuh!" omel tuannya.
Ijah asisten bertubuh gempal itu menunduk merasa bersalah.
"Kamu itu dipesan Mama Putra bagaimana, yang jelas ngomongnya."
"Nyonya tidak banyak bicara waktu itu, Tuan. Nyonya cuma pesan Tuan tidak perlu menyusul," Ijah sebisa mungkin bersikap tenang menjelaskan.
"Tidak ada kata-kata lain dari Mama Putra. Kamu dibilangin tidak, mereka pergi mau kemana?"
"Ke Bali tuan."
"Ya saya tahu mereka ke Bali. Tapi ada apa mereka ke Bali?"
"Tidak tahu, Tuan."
"Masa tidak tahu! Mau liburan atau apa masa tidak tahu?!" Radita makin sebal mendengar jawaban yang tidak memuaskan itu.
"Oya, saya cuma disuruh ke sekolah untuk minta ijin anak-anak tidak bisa masuk beberapa hari karena ada keperluan keluarga."
"Keperluan keluarga? Apakah Mama Putra punya keluarga di Bali?"
__ADS_1
"Tidak tahu, Tuan."
"Tidak tahu lagi. Ya sudah sana pergi!"
Radita akhirnya mengambil hapenya setelah Ijah pergi. Kini mungkin yang keseribu kalinya dia mau menelpon Cytra. Entah apakah hapenya of seperti hari-hari sebelumnya atau sudah on kembali.
Kebetulan saat itu Cytra di hotel sedang menghidupkan hapenya untuk menelpon Ijah dengan nomor yang sama. Sehingga telpon Radita langsung masuk dan terpampang di layar touchscreens.
"Sialan, Radita menelponku!" Cytra memelototi hapenya.
Deerth deert derrt!!!
Hape terus bergetar. Tangan Cytra ikut bergetar. Apakah menerima telpon itu atau menolaknya. Pemandangan saat Radita menyetubuhi Vionita terpampang lagi di benaknya.
"Tapi persetan dengan kejadian itu. Toh dia baru menjadi calon belum menjadi suamiku yang syah. Mau apa saja terserah dia. Aku tidak perlu peduli. Atau memikirkannya," pikir Cytra.
["Halo, Dit!"] sapa Cytra setenang mungkin dari seberang sana.
"Kenapa hape kau matikan beberapa hari ini, ada apa?" sergap Radita seperti ingin langsung ke pokok permasalahan mereka berdua.
Cytra pun ingin langsung melabrak Radita yang sudah menyakiti hatinya. Tapi Cytra tidak mau membuka persoalan itu dulu. Basi rasanya kalau sekarang dia baru memarahinya. Biar saja Radita yang mulai. Itu kalau memang dia sportif mau mengakui kesalahannya.
Mestinya Radita merasa dengan sikap Cytra yang berubah 180 derajat, tidak lagi manis seperti dulu. Bahkan tidak lagi memanggilnya sayang atau mas.
"Memangnya kamu sudah pikun apa, ada hape mati tidak tahu," ucapan Radita cukup menohok.
Cytra bangkit emosinya.
["Hapeku bukan hanya satu. Emangnya aku operator resepsionis apa. Yang harus menghidupkan seluruh hapenya,"] jawab Cytra sekenanya.
"Ya, aku tahu kau punya beberapa nomor telepon. Satu diantaranya nomor yang aku punya ini. Nomor yang tidak penting. Sehingga tak pernah kau hidupkan." Radita nyerocos tidak karuan.
["Memang! Itu hak aku kan. Sama seperti kamu yang menganggapku juga tidak penting,"] Cytra menanggapinya dengan emosional.
"Maaf aku tidak ingin bertengkar. Aku tahu kau marah padaku karena suatu hal. Kita selesaikan saja masalah kita baik-baik di darat. Jangan di telepon seperti ini," Radita menurunkan tensi bicaranya.
__ADS_1
["Tidak perlu. Karena sudah jelas apa yang kau inginkan dariku adalah pergi dari hatimu bukan?"] Cytra hampir menangis bicara.
"Masih bisa kita perbaiki kembali hubungan kita. Karena sebenarnya aku masih cinta kamu."
["Cih! Aku bukan anak kecil yang mudah kau kibuli tahu!"] Cytra sudah menangis kedua matanya merembes basah.
"Aku tidak berniat membohongimu. Aku minta maaf atas kejadian itu. Karena aku berada di dua hati yang sama-sama berat untuk kutinggalkan."
["Gila kamu! Gila! Apa kata orang nanti kau menikahi seorang ibu dan anaknya sekaligus. Aku tidak ingin gila seperti kamu. Sebaiknya kita putus."] Air mata yang merembes itu menetes ke pipinya.
"Maafkan aku, Cy. Dalam hal ini aku memang yang salah. Vionita juga sudah mengaku salah. Dia sudah ikhlas bila kau menikah denganku."
["Bener-bener gila kamu! Kamu hanya melihat permukaan. Tidak bisa menyelami perasaan yang ada di dalam hati seorang wanita. Kamu pikir hati Mama ikhlas ketika kau tinggalkan dia dan menikah denganku. Kamu pikir hidupnya tidak menderita waktu dulu kau campakan. Dan sekarang kedua kalinya kau paksa dia akan menelan pil pahit lagi."]
"Aku tidak ada niat meninggalkan dia dan kamu. Karena aku benar-benar mencintai kalian."
["Gila! Akan kau satukan aku dan Mama dalam pelukanmu sebagai istri? Gila!"]
"Ayolah, Ci. Aku bingung untuk memutuskan hal ini."
["Dari lubuk hatiku yang paling dalam, kuputuskan lepaskan saja diriku. Cintailah Mama sepenuh hatimu. Jangan tinggalkan dia. Terimalah dia sebagai istrimu yang utuh. Aku pasti akan bahagia dan menganggapmu sebagai lelaki yang paling baik yang aku kenal."]
Usai berkata begitu Cytra mematikan hapenya.
Di rumah Radita kebingungan. Padahal dia masih ingin bicara dengan Cytra. Beberapa hari tidak ketemu ia merasa rindu sekali. Cinta memang kadang sulit dinalar dengan logika.
Apabila manusia bisa memilih takdir, Radita tidak ingin dilahirkan sebagai anak Samyokgie. Orang kaya raya yang sombong tidak mau menyentuh Vionita sebagai istrinya yang syah. Padahal Vionita cantik bahkan sangat cantik dan anggun di mata Radita saat itu.
Perlakuan Samyokgie yang membuat Vionita menderita itu yang menerbitkan perasaan iba dalam hati Radita. Dan diam-diam perasaan itu berubah menjadi perasaan kasih sayang. Setiap melihat Vionita sendirian Radita menemaninya dan menghiburnya dengan ngobrol bersama.
Tragisnya Samyokgie sering meninggalkannya. Sehingga nyaris setiap hari dua insan lain jenis itu berduaan. Makin lama mereka pun saling jatuh cinta.
Sejak dulu sebenarnya Radita ingin mengikat hibungannya dengan Vionita dalam sebuah pernikahan. Namun hal itu terhalang dengan status Vionita yang masih menjadi istri Samyokgie.
Mungkin karena belum takdirnya Vionita hidup bahagia saat itu, setelah Samyogie meninggal hubungan mereka justru renggang. Dan makin lama putus hubungan. Baru sekarang tanpa diduga hubungan itu terjalin lagi. CBLK-pun terjadi sangat manis. Hingga Cytra melihat sendiri mereka melakukan persetubuhan.
__ADS_1
"Tidak bisa kupungkiri bahwa aku memang cinta kepada Vionita. Mungkin dia wanita yang sudah ditentukan dari langit mendampingiku untuk selamanya," kata Radita meyakinkan dirinya sendiri. Bahwa apa yang dikatakan Cytra memang benar.
Bersambung