
Aditya berangkat menuju kantor dari rumah sakit, sebenarnya dia enggan meninggalkan ayahnya sendiri, tapi setelah Davian datang dan meyakinkan Aditya bahwa dia akan menjaga tuan Abas selama Aditya dikantor maka Aditya pun bersedia meninggalkan ayahnya untuk bekerja.
Dokter sedang melakukan pemeriksaaan terhadap perkembangan tuan Abas, Davian berdiri tak jauh dari tempat tidur tuan Abas, terlihat wajah cemas yang tidak dapat di sembunyikan oleh Davian.
"Bagaimana keadaan paman dok?" tanya Davian setelah dokter Sifa selesai memeriksa tuan Abas.
"Kondisi tuan Abas sudah stabil, tapi untuk kedepannya tuan Abas harus lebih banyak beristirahat dan memperhatikan pola makan." jawab dokter Sifa dengan tatapan heran kepada Davian.
"Kemarin dia mengaku anaknya, kenapa sekarang memanggil tuan Abas paman." pikir dokter Sifa.
Dokter Sifa pergi meninggalkan ruang pemeriksaan tuan Abas, dia tidak bertanya tentang urusan pribadi kepada Davian walaupun dia penasaran tapi dokter Sifa menjaga profesionalitas dalam bekerja.
- - -
Dikantor Aditya baru saja tiba begitu pula Andini, mereka berpapasan di lobby, Andini menyapa Aditya dengan hangat tapi hanya di balas dengan senyuman.
"Benar benar misterius." ucap Andini dalam hati.
Andini menuju ruangannya tanpa memusingkan Aditya, dia sudah mulai terbiasa dengan sikap Aditya yang menurutnya sangat misterius.
Setibanya di ruangan Andini langsung sibuk dengan beberapa berkas pekerjaan yang harus dia periksa sebelum di serahkan kepada Aditya untuk meminta persetujuan.
"Andini ke ruangan saya." perintah Aditya melalu telfon kantor
Andini berjalan menuju ruangan Aditya yang terletak persis di sebelah ruangannya.
Tok tok tok
"Masuk." jawab Aditya dari dalam.
"Silahkan duduk." perintah Aditya yang melihat Andini sudah berada di depannya.
"Ada apa pak?" tanya Andini setelah duduk di kursi depan meja Aditya.
"Hari ini saya ada meeting di luar dengan client dari perusahaan A, kamu siapkan berkas yang kemarin kamu pelajari." jelas Aditya.
"Apakah saya ikut pak?" tanya Andini.
"Ya" jawab Aditya singkat.
__ADS_1
Andini menganggukkan kepala tanpa bertanya macam macam, berdiri lalu keluar ruangan Aditya.
"Tumben, biasanya juga dia pergi sendiri." pikir Andini sambil melangkah menuju ruang kerjanya kembali.
- - -
Perjalanan menuju restoran tempat meeting memerlukan waktu kurang lebih satu jam, Aditya dan Andini duduk di belakang tanpa ada obrolan karena Aditya masih sibuk mempelajari berkas yang akan di bahas bersama client.
"Wah apa kabar pak Aditya?" sapa seorang laki laki ketika mereka sudah berada di ruangan yang sudah di pesan untuk meeting.
"Baik Frans, gimana kabar Monica?" jawab Aditya sambil tersenyum.
Andini yang melihat mereka seperti sudah akrab hanya memandang dengan tatapan heran.
"Kenapa kamu menanyakan Monica, bukanya menanyakan kabarku." kelakar Frans.
"Kamu terlihat baik baik saja, senyum mu masih menggelikan itu pertanda kamu dalam keadaan baik." ucap Aditya yang disambut tawa oleh Frans.
Frans melirik Andini dengan senyum yang menurut Aditya menggelikan
"Nona cantik ini siapa?" tanya Frans kepada Aditya.
Frans menerima jabat tangan Andini dengan tatapan takjub karena kecantikan Andini
"Sudah jangan kamu gunakan ilmu buaya mu gak akan mempan, dia calon istriku." ucap Aditya yang membuat Frans dan Andini menoleh dan menatap tajam Aditya.
"Hahaha luar biasa seorang Aditya Wardhana sudah memiliki calon istri." ucap Frans sembari tertawameledek Aditya.
"Apa kamu belum menemukan putri mawar itu?" tanya Frans.
Aditya menatap tajam Frans, kemudian berkata.
"Mari kita mulai saja, aku masih banyak pekerjaan lain dibanding meladeni mu Frans." jawab Aditya berusaha tersenyum.
Andini hanya menatap Aditya yang berubah ekspresi nya setelah Frans bertanya tentang putri mawar.
"Siapa putri mawar, kenapa Aditya langsung berubah mendengar putri mawar itu." ucap Andini dalam hati.
- - -
__ADS_1
Andini dan Aditya masih duduk di dalam ruang khusus meeting sebuah restauran mewah itu, Frans langsung pamit setelah meeting selesai karena ada keperluan lain.
"Andini setelah ini aku langsung kerumah sakit, jadi nanti kamu diantar setelah supir mengantar ku ke rumah sakit." ucap Aditya dengan nada lembutnya.
"Aku boleh ikut pak?" tanya Andini.
"Jangan kaku kalau kita tidak di kantor Din." ucap Aditya.
"Hehehe maaf belum terbiasa." jawab Andini riang.
"Bagaimana apa aku boleh ikut?" tanya Andini.
"Tentu saja." jawab Frans dengan senyum mengembang.
Andini terlihat gelisah, Aditya yang menyadari hal tersebut langsung bertanya.
"Kenapa kamu gelisah seperti itu?" tanya Aditya.
"Mmm eh engga kok pak eh dit." jawaban Andini semakin memperlihatkan kegelisahannya.
"Hahahaha santai saja jangan tegang begitu dong." ucap Aditya yang membuat Andini semakin salah tingkah.
"Sebenarnya aku mau bertanya suatu hal." ucap Andini yang di balas anggukan oleh Aditya.
"Kenapa kamu kalau di kantor dan di luar berbeda sikap?" tanya Andini ragu ragu,
Aditya yang mendengar pertanyaan Andini tertawa keras.
"Jadi kamu gelisah karena ingin bertanya hal itu." jawab Aditya yang masih belum bisa menghentikan tawanya.
"Iya." Andini menganggukkan kepala
Setelah bisa menguasai diri dari tawanya Aditya menatap Andini.
"Aku hanya mau profesional saja dalam bekerja, kalau aku bersikap sama dikantor kamu pasti tidak akan serius dalam bekerja." jawaban Aditya membuat Andini tersenyum.
"Ternyata kamu perhatian juga." gumam Andini yang tanpa dia sadari.
"Apa?" tanya Aditya memastikan.
__ADS_1
"Ah ayo katanya mau kerumah sakit." ajak Andini berusaha mengalihkan fokus Aditya, dia tidak mau terlihat salah tingkah di depan Aditya.